Emesis

1070 Kata
Aruna berjalan masuk ke dalam rumahnya di tuntun oleh Calvin menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, Aruna segera membuka laci pada meja nakas yang berada di samping tempat tidur dan mencari obat antimual yang di berikan oleh Keenan saat dia berkonsultasi kemarin. Setelah mendapatkan obat mual itu, Aruna segera meminumnya. Calvin terus mengamati Aruna yang sedang duduk di tepi ranjang tempat tidur mereka. Aruna langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Calvin dengan cepat mengambil selimut dan menyelimuti Aruna. “Kamu sudah berobat ke dokter?” tanya Calvin. “Kenapa?” tanya Aruna balik. “Obat yang kamu minum itu dari mana?” “Keenan. Dia yang memberikanku obat itu.” Aruna memejamkan matanya. Calvin terdiam menatap wajah Aruna. “Bukankah dia dokter spesialis kandungan?” tanya Calvin sambil mengernyitkan keningnya. “Untuk sekedar mual, dia juga kompeten dalam hal itu.” “Kenapa kamu selalu menolak jika aku ajak konsultasi ke dokter, Aruna?” tanya Calvin. Aruna diam. Matanya terus tertutup. Napasnya perlahan semakin tenang. Sepertinya Aruna sudah mulai mengantuk. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Aruna, Calvin pun berjalan keluar dari kamar itu. Calvin berjalan menuruni tangga kemudian berhenti di dekat jendela yang ada di ruang santai rumahnya. Kedua tangannya masuk ke dalam kantong celananya sementara kedua netranya mentap keluar melalui kaca jendela. Pikiran Calvin melayang jauh. “Aruna, sahabat kecilku yang sekarang menjadi istriku. Putri dari keluarga yang sudah sangat baik denganku dan keluargaku. Selama ini Aruna sudah sangat jelas menunjukkan rasa cintanya padaku. Sementara Nora, gadis yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolongku pada kecelakaan lima tahun yang lalu. Gadis yang juga sangat mencintaiku.” Batin dan pikiran Calvin terus berdebat. Calvin menghelakan napasnya dengan kasar. Setelah itu dia berjalan mendekati sebuah sofa yang ada di dekatnya kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa itu. kepalanya menengadah ke atas karena netranya menangkap sebuah foto yang telah lama terpajang di dinding ruangan itu. Foto pernikahan Aruna dan Calvin berdiri lengkap bersama orangtua mereka. “Aku sudah berjanji pada Om Juan akan menjaga dan melindungi Aruna dengan segenap jiwaku sampai akhir hidupku,” ucap Calvin mengingat janjinya dulu pada orangtua Aruna sebelum akhirnya mereka menghembuskan napas terakhirnya. Calvin terus melihat ke arah foto itu sambil berdebat dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya dia tertidur. Menjelang sore, Calvin terbangun dan melihat sekitarnya, hanya ada dirinya sendiri. Dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. “Sudah sore,” gumam Calvin. Dengan cepat dilangkahkan kakinya menuju kamar untuk melihat keadaan Aruna. Begitu membuka pintu kamarnya, langsung tampak Aruna yang masih terbaring di tempat tidurnya. “Dia masih tertidur,” batin Calvin begitu mendekati Aruna. Diperbaikinya lagi selimut yang telah tersingkap ke sebelah Aruna agar menutupi tubuh Aruna dengan rapi kemudian keluar dari kamar itu. Calvin bergegas ke dapur untuk memasak makan malam mereka. Dengan lihai, Calvin memasakkan sup ikan yang biasa di masaknya saat Aruna sedang sakit. Resep pamungkas yang di dapatkannya dari Sofia, ibunda Aruna. Tidak begitu lama, sup itu pun telah jadi. Aromanya yang lezat memenuhi seluruh ruangan. Bertepatan dengan bangunnya Aruna dan tiba di dapur saat Calvin telah siap menyajikannya diatas meja makan. “Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang? masih mual?” tanya Calvin. “Aroma apa ini?” Aruna tampak terganggu dengan aroma masakan yang telah tersaji di depannya. Aruna dengan cepat menutup hidungnya dengan tangannya. “Sop ikan. Kesukaanmu kan? Cobalah, rasanya pasti masih sama dengan buatan tante Sofia.” Calvin meletakkan semangkuk sop yang telah di ambilnya ke depan Aruna. Spontan Aruna memberikan sinyal akan muntah. Dengan cepat dia berlari menuju westafel yang ada di dekat dapur dan muntah. Calvin terbengong beberapa saat kemudian ikut mengejar Aruna yang sedang muntah di westafel. Tangannya memijat lembut tengkuk Aruna agar Aruna bisa menuntaskan muntahnya. Setelah puas, Aruna segera mencuci mulutnya. Calvin dengan cepat mengambil tisu dan memberikannya pada Aruna. “Aku tidak suka aroma sop itu. Tolong jangan dekatkan sop itu padaku lagi,” ucap Aruna sambil terengah-engah karena kelelahan muntah dan mengelap mulutnya dengan tisu yang diberikan oleh Calvin. “Bukannya itu makanan kesukaanmu , Aruna?” tanya Calvin bingung. “Pokoknya aku tidak suka dengan sop itu sekarang. jauhkan itu dariku,” Aruna berjalan pelan menjauhi dapur menuju ruang santai. Calvin mengikuti Aruna dari belakang dan berjaga-jaga jika Aruna terjatuh. “Calvin, tolong semprotkan ruangan ini dengan aroma terapi. Aroma sop itu masih terasa sampai ke sini,” pinta Aruna sambil duduk diatas sofa. Calvin dengan cepat menghidupkan humidifier yang ada di ruangan itu dan menyemprotkan pengharum ruangan yang beraroma terapi lembut dan menenangkan. Setelah itu dia bergegas memasukkan sop yang ada di atas meja makan ke dalam panci dan menutupnya agar bisa mengurangi baru sop itu. kemudian dia kembali menemui Aruna di ruang santai. “Maaf aku tidak tahu jika aroma sop itu malah memancing rasa mualmu. Kamu mau makan apa untuk malam ini? Akan aku masakkan untukmu,” ucap Calvin sambil duduk di samping Aruna. Aruna menatap Calvin dengan mata sayunya. “Seandainya Calvin tahu bahwa mual dan muntah ini dikarenakan Aruna sedang mengandung anak mereka, apakah Calvin masih akan bersikap sehangat ini padanya?” batin Aruna. “Aruna?” panggil Calvin. “Apa?” “Kamu mau makan apa?” Calvin mengulangi pertanyaannya lagi. “Apa ya?” Aruna menebak-nebak apa yang benar-benar ingin dia makan saat itu. Calvin menunggu jawaban Aruna dengan sangat penasaran. “Sup tomat,” ucap Aruna sambil tersenyum. “Sup tomat?” Calvin berpikir sejenak. “Bisa?” “Tentu saja. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Calvin.” Calvin tersenyum ke arah Aruna. Aruna membalas senyum Calvin padanya. “Tentu saja ada, Calvin. Hal yang paling aku impikan sejak dulu, mencintaiku selayaknya pasangan hidupmu,” batin Aruna menjawab ucapan Calvin yang baru didengarnya. “Hanya saja ada satu masalahnya. Aku harus berbelanja dulu ke supermarket. Persediaan daging dan bahan-bahannya tidak ada di dapur kita saat ini. Kamu mau ikut atau ingin istirahat disini?” tanya Calvin. “Aku menunggu disini saja, Calvin. Aku takut akan menyusahkanmu di sana karena mual muntahku ini.” “Baiklah. Aku berangkat dulu. Jika ada apa-apa, langsung hubungi aku. Aku tidak akan lama,” ucap Calvin. Aruna menganggukkan kepalanya. Calvin segera berjalan menuju mobilnya dan berlalu pergi membeli bahan makanan yang sedang diinginkan oleh Aruna. Aruna terdiam di sofa. Tangannya memengangi perutnya kemudian mengelusnya lembut. “Sehat selalu ya sayang. Lihatlah bagaimana cara papamu menjaga mama. Dia papa yang hebat, bukan?” gumam Aruna sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN