“Aruna, kita harus fokus pada pengobatanmu dulu. Aku minta kamu tidak memikirkan hal lain selain tentang kehamilan dan kemoterapimu. Kali ini aku harus sedikit memaksamu,” ucap Keenan sambil mengupas sebuah jeruk di dekat Aruna. Aruna terbaring di ranjang rumah sakit sambil memegangi tangannya yang masih terasa nyeri karena pengambilan darah. Aruna tersenyum mendengar ucapan Keenan. Dia mengerti kenapa Keenan mengatakan hal itu. kejadian tadi jelas sangat mempengaruhi beban pikiran Aruna. “Baik, Dokter.” Keenan melihat kearah Aruna sambil tersenyum mendengar jawaban dari Aruna. Keenan menyuapi sepotong jeruk yang sudah di kupasnya kepada Aruna. Aruna dengan semangat membuka mulutnya dan menerima suapan jeruk dari tangan Keenan. “Kamu benar-benar masih belum lapar? Tadi pagi kamu bilan

