Dengan langkah gontai, Calvin berjalan keluar meninggalkan ruangan Aruna. Matanya basah dan air matanya masih terus mengalir di pipinya. Sebanyak apapun usaha Calvin untuk menghapus air matanya, butiran bening itu tetap meluruh ke pipinya. Calvin menangis dalam diamnya. Calvin segera menuju ke parkiran mobil dan segera melajukan mobil itu menuju rumahnya. Begitu tiba di depan rumahnya, Calvin segera masuk ke dalam. Langkahnya terhenti begitu tiba di depan foto pernikahannya dengan Aruna. Matanya nanar melihat ke arah foto itu. Sangat jelas terlihat siapa yang sedang berbahagia di pernikahan itu. wajah Aruna begitu berseri dan tersenyum, sementara wajahnya terlihat begitu datar. “Mungkin kita memang tidak berjodoh, Aruna,” gumam Calvin. Calvin menundukkan kepalanya sambil menghelakan na

