bc

Kekasih Di Balik Kabut

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
reincarnation/transmigration
HE
independent
boss
bxg
bold
office/work place
soul-swap
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Martin Ragnala, seorang pengusaha muda peranakan Tionghos, membeli sebidang tanah di pinggir Kota Bandung untuk dijadikan tempat bisnis. Kala mengawasi jalannya proyek di lokasi, Martin bertemu dengan perempuan berbaju Cheongsam merah. Mereka sempat berbincang, dan perempuan itu mengaku bernama Margaretha.Semenjak pertemuan itu, Martin kerap kali memimpikan Margaretha dengan situasi yang menyeramkan. Martin juga beberapa kali berjumpa dengan perempuan tersebut di berbagai tempat. Hingga pada akhirnya Martin diserang makhluk astral, yang dicurigai sebagai kaki tangan Margaretha. Hendri Danantya, calon Kakak ipar Martin, mendatangi lokasi proyek yang tengah dihebohkan dengan berbagai peristiwa aneh di sana. Hendri yang memiliki kemampuan supranatural, menduga bila beberapa peristiwa itu dan mimpi-mimpi Martin memiliki keterkaitan, yang mesti diselidiki. PCD The Series Jurig The Series Baca juga 22 judul cerita punya Emak OY di Innovel.Follow akun penulisnya untuk mendapatkan informasi terbaru tentang karya penulis.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 01
01 "Mas, bos kita ngobrol sama siapa, ya?" tanya Ridho, supervisor proyek pembangunan pusat bisnis, di pinggir Kota Bandung. Seno Argianto menyipitkan mata untuk menajamkan penglihatan. "Kayaknya perempuan, tapi, mukanya nggak jelas. Ketutupan rambut," jawabnya. "Perempuan?" desak Ridho. "Hu um." "Tapi ... di sini nggak ada pekerja perempuan." Seno terdiam sesaat, lalu dia memandangi pria berkemeja cokelat di sebelah kiri. "Apa itu anak pemilik katering?" tanyanya. "Bu Lilis nggak punya anak perempuan." "Mungkin karyawannya." "Hmm, ya, bisa jadi." Keduanya meneruskan perbincangan sambil berpindah ke kantor pengelola. Sementara Martin Ragnala masih bercakap-cakap dengan perempuan berbaju Cheongsam merah. Martin terkejut, karena baru kali itu menemukan orang yang bisa berbahasa Tiociu, bahasa leluhurnya yang berasal dari Cina daratan. Pengusaha muda peranakan Tionghos itu begitu senang bisa kembali menggunakan bahasa turunan dari pihak ibunya, yang merupakan warga negara Malaysia. Sekian menit berlalu, perempuan bernama Margaretha Ling Chow itu berpamitan. Martin mengamati gadis berbadan cukup tinggi dan ramping, yang mengingatkannya akan sosok sang kekasih. Setelah Margaretha menghilang di balik tumpukan bahan bangunan, Martin memutar tubuh dan jalan menuju kantor pengelola. Awal malam menjelang dengan rintik hujan yang membasahi bumi. Martin yang telah berada di rumah kontrakan sejak tiga puluh menit silam, baru selesai mandi dan tengah berganti pakaian ketika ponselnya berdering. Pria berkaus merah itu berpindah ke dekat meja rias. Dia menyambar benda yang masih berdering, kemudian Martin menekan tanda hijau pada layar ponsel dan mendekatkan benda itu ke telinga kanan. "Waalaikumsalam," tukas Martin menjawab salam calon istrinya. "Koko, sudah salat?" tanya Yuanna Binazir Danantya. "Sudah. Kamu?" "Lagi libur." "Aku juga pengen libur." "Ngaco." Sudut bibir Martin mengukir senyuman. Lupa bila tidak sedang berhadapan dengan perempuan pujaan. "Dek, Kang Hendri, jadi ke Bandung, nggak?" tanyanya. "Jadi. Jumat dia nyampe, sama Teh Irsha dan keluarga Kartawinata." "Ahh! Kebetulan. Aku memang pengen ketemu Bang W." "Ngapain?" "Nanyain proyek yang di Shanghai itu." "Oh, ya." "Kamu sudah makan?" "Belum." "Makan, atuh." "Nanti aja. Ada yang mau kuomongin ke Koko." "Tentang apa?" "Bapak nanya, kapan orang tua Koko datang? Mau berembuk, katanya." "Awal bulan mereka datang sama beberapa tetua keluarga." "Oke, nanti kusampaikan ke Bapak." "Dek." "Hmm?" "Wǒ de xīn lǐ zhǐyǒu nǐ." "Aih! Teu ngarti!" "Masih belum paham juga?" "Bahasa sana itu rumit." "Tapi tetap bisa dipelajari." "Nantilah. Satu-satu. Sekarang aku tengah memperdalam bahasa kalbu. Supaya hati kita tetap menyatu." "Dek, aku mencair." Yuanna terkekeh, begitu juga dengan Martin. Setelah tawa mereka lenyap, keduanya melanjutkan percakapan dengan pokok bahasan berbeda. Martin sama sekali tidak menyadari jika dirinya tengah diperhatikan seseorang yang berdiri di luar jendela, yang gordennya dalam kondisi terbuka sedikit. *** "Koko Chen. Kemarilah. Ikut denganku," ujar seorang perempuan dari kejauhan. "Koko Chen, kemarilah," ulangnya. Martin bergerak-gerak di kasur. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, sembari menggumamkan sesuatu. "Koko Chen, aku sudah menunggumu sejak lama," tukas perempuan tersebut. "Ke sini dan genggam tanganku," pintanya dengan suara serak. "Hah!" Martin membuka mata dan bangkit duduk. Dia memindai sekitar, tetapi tidak ada seorang pun di dekatnya. "Astagfirullah. Apa itu tadi?" tanyanya sambil memandangi jendela yang gordennya bergerak tertiup angin dari penyejuk udara. "Siapa perempuan itu? Kenapa dia manggil aku dengan Koko Chen?" Martin kembali bermonolog. Dia benar-benar penasaran dengan orang yang ada di dalam mimpinya. Bunyi tarhim terdengar dari masjid terdekat. Martin termangu sejenak, lalu meraih arlojinya dari meja samping kanan kasur. Dia mengecek waktu, kemudian kembali berbaring. Pria bermata sipit itu menatap nyalang ke langit-langit. Mimpi yang baru saja dialaminya seolah-olah terasa nyata, dan Martin makin penasaran untuk mengetahui siapa sosok perempuan tadi. Sementara itu di tempat berbeda, Yuanna juga terbangun. Gadis berusia 25 tahun tersebut memegangi da-danya yang berdegup kencang. Yuanna mengerjap-ngerjapkan mata sembari menyusuri da-da dengan tangan, untuk memastikan dirinya tidak terluka. Terbayang kembali pisau berkilat yang menghunjam dadanya. Yuanna bahkan masih merasakan saat benda itu menggores kulitnya, sebelum masuk lebih dalam. "Astagfirullah," bisik Yuanna. "Mimpimya jelek banget," keluhnya. Yuanna memerhatikan sekeliling. Kemudian dia mendengkus pelan, sebelum bangkit dan beringsut ke tepi kasur. Tidak berselang lama, gadis berpiama ungu motif bunga-bunga kecil, telah berada di dapur. Yuanna tertegun menyaksikan sang ibu yang tengah sibuk mengaduk-aduk sesuatu di wajan. "Ehh, Neng geulis. Tumben, sudah bangun sebelum digedor pintunya?" tanya Zainab sembari melirik putri bungsunya. "Kebangun tadi. Gara-gara mimpi buruk," terang Yuanna sembari meraih gelas dari laci dan menuangkan air dari teko. "Mimpi naon?" "Enggak jelas." Yuanna sengaja merahasiakan mimpinya supaya Zainab tidak kepikiran. "Ibu masak apa?" tanyanya mengalihkan percakapan. "Bihun goreng. Mau dibawa Bapak ke kebun." "Bapak itu nggak ada bosan-bosannya ke sana tiap hari." "Dia menemukan ketenangan di sana." "Hmm, kayak Akang. Betah banget di saung sana." "Akangmu itu turunan Bapak. Agak penyendiri." "Ya. Akang cuma bergaul sama orang yang itu-itu saja. Hanya sedikit orang baru yang dikenalkannya sebagai teman." "Kamu hari ini jaga di restoran?" "Enggak. Aku sudah ada janji dengan Teh Divia dan Teh Monica. Kami mau pilates." "Di tempatnya Zivara?" "Ya. Bareng sama dia juga. Hanya beda senamnya. Dia senam hamil, kami, uget-uget." Pagi menjelang dengan hangatnya sinar mentari. Yuanna mengeluarkan motor kesayangan dari garasi, kemudian menyalakan mesin benda itu sembari mengelap body motor Honda CBR 500cc. Gadis yang mengikat rambutnya sebagian di tengah, bekerja sambil bersenandung lagu slow rock. Meskipun perempuan tulen, tetapi Yuanna bersifat tomboi. Sangat berbeda dengan kakaknya, Fenita, yang feminin. Arsyad Danantya keluar dari ruang tamu sambil menenteng tas travel merah. Dia membuka pintu mobil SUV abu-abu dan memasukkan tas, lalu dia menyalakan mesinnya. "Pak, aku pamit," ujar Yuanna sembari mengulurkan tangan kanan. "Mau ke mana?" tanya Arsyad. "Fitness." Yuanna menyalami bapaknya dengan takzim. Kemudian dia memandangi lelaki berkaus putih yang balas menatapnya saksama. "Pak, aku ada mimpi nggak enak," bisiknya supaya tidak terdengar sang ibu. "Nanti kita bahas." Arsyad memegangi lengan kiri anaknya. "Jangan putus zikir. Sepertinya ada sesuatu hal buruk yang berhubungan denganmu," ungkapnya. Yuanna mengangguk paham. Dia menduga jika Arsyad telah mengetahui tentang mimpinya, tanpa perlu diceritakan lagi. Arsyad memiliki kemampuan supranatural yang sama kuatnya dengan Hendri. Hal itu diwarisi dari pihak ayahnya yang juga menguasai ilmu tersebut. Hanya garis laki-laki yang mendapatkan kemampuan unik tersebut. Sedangkan yang perempuan hanya mampu merasakan dan melihat sosok gaib, tanpa bisa berkomunikasi ataupun menyentuh makhluk astral. Arsyad memandangi putrinya yang bergerak menjauh. Dia membatin bila sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat, yang berhubungan dengan Yuanna. Arsyad mendengkus pelan. Dia mengingat-ingat untuk membicarakan hal itu pada putra sulungnya, yang akan datang pada tiga hari ke depan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.8K
bc

Kali kedua

read
220.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook