Bab 02

1057 Kata
02 "Dho, di sini, ada tukang urut, nggak?" tanya Martin. "Kurang tahu." Risho mengamati bosnya, lalu dia bertanya, "Kenapa, Mas?" "Badanku pegal-pegal. Terutama punggung. Kayak habis manggul karung." Ridho menyunggingkan senyuman. "Memangnya Mas pernah manggul karung?" "Pernah. Aku dilatih Papa dengan keras. Katanya, nggak peduli aku anaknya, tetap harus bantu angkut barang di grosiran." Ridho mengangguk paham. "Pak Razman beda dengan pengusaha lainnya yang aku kenal. Beliau sangat tegas dan nggak pilih kasih." "Papa lahir di keluarga sederhana. Beliau dan adik-adiknya bekerja keras, hingga bisa berhasil seperti sekarang." Martin memandangi sekeliling. "Papa yang memintaku berbisnis di sini. Supaya keturunannya tetap ada di tanah kelahirannya," lanjutnya. Kedatangan beberapa orang menjadikan percakapan itu terjeda. Martin mengangkat alis kala menyaksikan wajah kepala sekuriti yang terlihat tegang. "Ada apa, Dang?" tanya Martin. "Lapor, Pak. Ada alat berat yang terguling," jelas Adang, ketua sekuriti proyek. "Di mana?" "Belakang, yang dekat bukit." "Dho, kita ke sana," ajak Martin sambil menyambar jaketnya dari sandaran kursi. Kelima pria itu bergegas keluar kantor pengelola. Mereka menaiki mobil Jeep hitam, dan Ridho segera melajukan kendaraan menuju area kecelakaan. Adang berkomunikasi dengan sekuriti yang berjaga di proyek belakang. Dia meminta kedua sekuriti tersebut untuk mengamankan area, yang ternyata telah didatangi warga sekitar. Setibanya di sana, Martin dan yang lainnya keluar dari mobil. Sang bos membeliakkan mata saat menyaksikan excavator yang terguling, hingga berada beberapa meter di bawah tebing. Tanah di seputar tempat itu juga telah amblas. Martin memaksa menerobos pita kuning yang telah dipasangi pekerja, untuk menghalau pengunjung yang terus berdatangan. "Petugas alat berat, gimana kondisinya?" tanya Martin, seusai mendatangi Muchlis, kepala proyek yang telah lebih dulu tiba. "Sudah dievakuasi, Mas," jawab Muchlis sembari mendekatkan diri pada pria berambut lebat. "Kaki kirinya patah," bisiknya. "Ketiban?" Muchlis menggeleng. "Waktu dievakuasi ke mobil, dia cerita ke temannya. Sebelum terguling itu, ada ular gede yang meliliti kakinya." "Ular?" "Jangan kencang-kencang, Mas. Nanti ada yang nguping." Martin memindai sekitar. "Usir mereka. Takutnya tanah amblas lagi." "Sudah, tapi nongol lagi dan makin banyak." Martin mendengkus. Lalu, dia menoleh ke kiri dan berkata, "Telepon pengawasmu. Minta kirim orang tambahan untuk berjaga di sini." "Siap," balas Adang sambil meraih ponselnya dari saku seragam PDL cokelat. "Siapa yang ngawas di Bandung sekarang?" tanya Martin. "Bang Aditya." "Bukan Jauhari?" "Bang Ari tugasnya di minggu pertama. Bang Yusuf, minggu kedua. Bang Aditya, minggu ketiga, dan Bang Harun di minggu keempat." Adang memutus percakapan saat panggilannya terhubung. Tidak berselang lama dia sudah terlibat pembicaraan dengan pengawas sekuriti PB area Jawa Barat. Puluhan menit terlewati, Martin telah kembali ke kantor pengelola, ketika tiga unit mobil berbeda jenis dan tipe memasuki area. Martin berdiri dan spontan merapikan kemejanya. Pria bermata sipit itu tersenyum, saat mengenali mobil terdepan yang merupakan kendaraan milik calon Kakak iparnya. Setelah ketiga mobil berhenti, Adang membukakan pintu kiri mobil Jeep abu-abu. Wirya Arudji Kartawinata, direktur utama PBK, turun dari kendaraan itu. Dia membalas penghormatan Adang dengan anggukan, kemudian Wirya menyambangi Martin untuk bersalaman. Hendri Danantya, Zeinharis Abqary, Bayu Hendrawan dan Ubaid Abdullah, keluar dari mobil MPV hitam. Sementara Aditya turun dari mobil MPV biru bersama keenam petugas keamanan muda. Seusai bersalaman, Martin mengajak kelima bos memasuki ruangan. Sementara Adang menerangkan situasi terkini pada Aditya, yang langsung mengajak sekuriti bawaannya ke tempat kejadian perkara. "Kaget aku, kalian datang barengan," ujar Martin sambil memandangi Hendri yang berada di kursi sebelah kanan. "Kami berangkat dari Jakarta jam 3 tadi. Pas Adang nelepon itu, kami baru nyampe pintu tol Buah Batu. Para Ibu dan anak-anak lanjut ke rumah Bapak, kami nunggu Aditya datang bawa pasukan, baru berangkat ke sini," terang Hendri sembari mengamati calon Adik iparnya yang terlihat berbeda. "Kata Aditya tadi, tanahnya amblas. Beneran?" tanya Zeinharis yang akrab dipanggil Zein. "Ya, Bang. Sekarang malah tambah meluas," ungkap Martin. "Alat beratnya sudah dievakuasi?" "Pas aku tinggal tadi, lagi ditarik. Mungkin sekarang sudah naik." Martin memajukan badan. "Kata Muchlis, ada ular yang meliliti kaki operator," bisiknya. "Ular naon?" tanya Hendri. "Belum jelas. Katanya, sih, warnanya hitam," beber Martin. "Gede?" "Sebetisnya dia, gitu, besarnya." "Ketemu, nggak, ularnya?" Martin menggeleng. "Ada yang bilang, itu ular jadi-jadian. Mungkin protes, rumahnya ditebang buat proyek." Hendri dan keempat sahabatnya saling melirik. Kemudian dia kembali mengarahkan pandangan pada Martin yang sedang berbincang dengan Seno. Hendri terkesiap saat melihat kelebatan sepasang mata di ujung kanan ruangan. Dia menajamkan penglihatan, tetapi pemilik mata itu tidak terlihat. Hendri menggerak-gerakkan tangan kirinya sembari melafazkan doa dalam hati. Dia mengembuskan napas ke sekeliling, lalu mengamati pojokan kanan. Kelebatan bayangan seseorang mengagetkan Hendri. Dia hendak bangkit, tetapi terpaksa dibatalkan karena dipanggil Martin. "Sudah mau magrib. Kita pindah ke rumah kontrakanku," ajak Martin. "Kalian aja. Aku sama Wirya mau ngecek lokasi," tolak Zein. "Penasaran aku, tanahnya bisa amblas, gitu. Aneh," jelasnya. Keenam lelaki berbeda tampilan itu serentak berdiri. Mereka jalan keluar dengan diikuti Seno dan Ridho. Martin menugaskan Ridho untuk mengantarkan Zein dan Wirya ke lokasi kejadian. Sementara dirinya menaiki mobilnya yang dikemudikan Seno. Hendri melirik Zein. Keduanya seolah-olah tengah berbincang dengan bahasa batin. Kemudian Hendri menaiki mobilnya bersama Ubaid dan Bayu. Sedangkan Zein dan Wirya mengikuti langkah Ridho ke mobil MPV hitam. Semburat senja kian menggelap, hingga sang surya akhirnya tenggelam di batas cakrawala. Gema azan berkumandang memanggil setiap insan untuk beribadah menghadap Sang Pencipta. Martin dan yang lainnya bergantian menunaikan salat di kamarnya. Kemudian mereka berkumpul di ruang tamu sambil menikmati minuman hangat. Sekian menit berlalu, Zein dan Wirya datang bersama Aditya serta Ridho. Mereka berbincang mengenai kondisi terkini di tempat proyek yang telah kembali kondusif. "Bawah bukit itu ada sungai kecil. Tanahnya memang kurang padat. Nggak kuat nanggung alat berat terlalu banyak," tutur Zein yang memang sudah terbiasa menangani proyek pembangunan jalan bebas hambatan, ataupun bangunan besar lainnya. "Berarti blue print-nya nggak akurat. Karena nggak dicantumkan jika ada sungai di situ," jelas Martin. "Dimaklumi aja, Mar. Yang bikin blue print mungkin nggak nanya-nanya ke warga atau tetua desa," sela Wirya. "Aku masih penasaran dengan asal ular tadi," timpal Hendri. "Kata Adang, ada desas-desus jika itu ular jadi-jadian penunggu sungai," papar Martin. "Bisa jadi. Karena aneh aja, tempat itu sudah nggak ada pohon, tapi masih ada ular." "Ya, aku juga mikir gitu." "Ehm, Mar, selama tinggal di sini, ada kejadian aneh, nggak?" Martin tertegun sesaat, kemudian dia mengangguk. "Sebetulnya, baru tiga hari ini aja, Kang. Aku mimpi didatangi perempuan yang wajahnya nggak kelihatan. Dia manggil aku, Koko Chen. Dan dia ngajak aku pergi." "Ke mana?" "Enggak paham, Kang. Dia cuma bilang. Ikut denganku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN