Bab 03

1042 Kata
03 Sepanjang perjalanan menuju Kota Bandung, Martin terlelap. Dia benar-benar kelelahan, padahal selama berada di tempat proyek, Martin lebih sering berada di kantor dibandingkan luar ruangan. Hendri yang duduk bersama Martin dan Wirya di kursi belakang mobil Jeep, berulang kali mengamati lelaki yang usianya 6 tahun lebih muda darinya. Terbayang kembali sepasang mata di ujung kanan kantor. Hendri benar-benar penasaran dan sangat ingin mengecek lokasi itu sekali lagi. Namun, Hendri merahasiakan hal itu dari Martin, agar pria bermata sipit tersebut tidak cemas. "Koko Chyou ngajak ketemuan," ujar Wirya yang sedang berbalas pesan dengan Kakak sepupu istrinya, Delany. "Kapan?" tanya Hendri. "Senin minggu depan. Dia baru nyampe dari Bali itu, hari Sabtu. Minggunya istirahat. Senin baru masuk kantor GWG." "Kayaknya aku nggak bisa. Kamu aja, W." Hendri dan teman-temannya semasa kuliah terbiasa dipanggil dengan huruf depan nama masing-masing. "Aku juga mau ke Kanada bareng Yoga." Wirya memajukan badannya. "Z, kamu yang nemuin Koko," pintanya. "Senin, kan? Bisa aku. Kalau Selasa, aku mau berangkat ke Filipina bareng tim lain," terang Zein yang menemani Aditya di kursi depan. "Ajak Naizar dan Izra. Mereka sudah harus bisa nanganin proyek besar," imbuh Hendri. "Aku ikutlah. Pengen nyoba ngerjain proyek bareng bos luar negeri kelas kakap," pinta Aditya sembari terus mengemudi. "Izin dulu ke SHEHHBY. Nanti dikira aku merebut karyawannya," seloroh Wirya. "Ya, nanti aku ngomong ke Bang Yoga," jawab Aditya. "Kalau diizinkan, ajak Syuja, Dit. Biar dia bisa gantikan posisimu nanti." "Siap." "Kamu mau pindah kerja, Dit?" tanya Zein. "Bukan, Bang. Aku gantikan posisi Bang Yoga," jelas Aditya. "Direktur operasional?" "Ya." "Keren!" Zein menepuk-nepuk lengan kiri salah satu pengawal lapis tiga andalan PBK. "Mantaplah kamu, Dit," puji Hendri. "Sebetulnya aku masih belum percaya diri buat gantiin Bang Yoga. Tapi, ketujuh bos SHEHHBY mintanya begitu," papar Aditya. "Bang Sam dan yang lainnya sudah sangat percaya ke kamu, Dit. Lagi pula, memang belum ada junior di sana yang sanggup nempatin posisi itu," cakap Wirya. "Bang, kalau ada pengawal baru yang bagus, arahkan ke grup kami," beber Aditya. "Bang Yoga dan Bang Andri mulai ngeluh kekurangan orang baru," lanjutnya. "Sabar. Aku lagi neliti angkatan 14 dan 15 ini. Sudah ada belasan yang potensinya bagus. Nanti kusebar ke Power Rangers hijau, kuning, hitam dan yang lainnya." "Kayaknya makin dikit yang lolos jadi pengawal, ya, W?" sela Hendri. Wirya mengangguk mengiakan. "Sebetulnya bukan dipersulit, tapi, aku dari awal sudah negasin, pengawal baru harus siap dinas luar Pulau Jawa. Itu yang masih jadi kendala, karena banyak orang tua yang nggak ngizinin. Padahal anaknya mau." "Begitulah orang kita. Anak dikirim merantau itu supaya punya wawasan luas. Anaknya berhasil, orang tua juga yang senang." Pembicaraan itu terjeda ketika Martin mengigau. Hendri dan Wirya mengamati pria yang duduk di ujung kanan. Keduanya saling menatap, kemudian Hendri memegangi kepala Martin yang masih terus mengoceh. "Kamu, siapa?" tanya Martin sembari menggerak-gerakkan kepala dan tangannya. "Aku bukan Chen. Namaku, Martin," lanjutnya. Tiba-tiba tangan kanan Martin terangkat ke atas, seolah-olah tengah ditarik. Hendri bergegas menahan badan Adik iparnya. Sedangkan Wirya merunduk untuk menahan kaki Martin. "Z, tembak!" pekik Hendri sembari terus memegangi pria yang badannya lebih besar darinya. Zein memutar badan ke belakang. Dia menggumamkan doa, lalu menempelkan tangan kanan ke lutut Martin. Zein menembakkan tenaga dalam secara penuh. Sementara Hendri mencoba melapisi tubuh Martin dengan perisai doa. "Argh!" jerit Martin seiring dengan tangannya yang terhempas ke bawah. Wirya berpindah ke depan Martin, lalu menepuk-nepuk kedua pipi lelaki tersebut untuk membangunkannya. Hendri meringis ketika tangannya terasa panas. Dia tetap bertahan memegangi Martin, hingga lelaki berjaket hitam itu benar-benar terjaga. Zein membuka botol minuman kecil dan membacakan doa, sebelum dia memberikan botol pada Wirya yang membantu memegangi benda itu agar Martin bisa minum. "Kamu mimpi apa?" tanya Zein saat Martin memandanginya. "Dia datang lagi, dan narik aku, kuat banget," jelas Martin sembari mengerjap-ngerjapkan mata. "Dia siapa?" desak Wirya yang turut meminum air di botol untuk menenangkan diri. "Enggak jelas, Bang. Tapi, suaranya, sih, perempuan," ungkap Martin. "W, tolong lihatin. Tanganku panas," ungkap Hendri sembari menunjukkan telapak tangannya. Wirya menyalakan lampu di atas untuk mengamati tangan Adik iparnya yang memerah. "Kok, kayak luka bakar?" tanyanya. "Sudah kuduga. Panas banget," tukas Hendri. "Siram dikit pakai air itu, H," sela Zein. "Habis itu olesin krim lidah buaya. Ada di cooling box," sambungnya. Zein dan Martin mengamati saat Hendri menyirami tangannya dengan hati-hati. Sedangkan Wirya mencari benda yang dimaksud di bagasi belakang. Puluhan menit terlewati. Kedua mobil itu sudah tiba di kediaman Arsyad. Pria tua tersebut terkejut kala melihat telapak tangan kanan putranya tampak mengelupas. Arsyad hendak bertanya, tetapi diurungkan ketika Hendri menggeleng pelan. Arsyad mengangguk paham, kemudian dia mengajak semua orang memasuki ruang tamu. Yuanna keluar sambil membawakan minuman untuk semua orang. Disusul Irshava, istri Hendri, yang membawa dua piring kue. Irshava tertegun memandangi tangan suaminya. Dia melirik Hendri yang hanya tersenyum tipis. Irshava mengeluh dalam hati, karena lagi-lagi lelakinya harus mengalami luka yang sama. Dia yakin jika Hendri telah mengerahkan tenaga dalam secara penuh. Entah buat apa. Seusai berbincang selama belasan menit, Ubaid, Zein dan Bayu, berpamitan untuk pulang. Mereka diantarkan Aditya yang juga hendak pulang ke mess khusus pengawal. "Sebenarnya, ada apa?" tanya Arsyad, sesaat setelah Irshava dan Yuanna memasuki ruangan dalam. Hendri beradu pandang dengan Wirya, kemudian mereka bekerjasama menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi di mobil. Arsyad terperangah, lalu dia memerhatikan Martin yang sedang memijat dahinya. Arsyad menggeser duduknya mendekati sang calon menantu, lalu dia memegangi puncak kepala Martin yang seketika diam. "Sudah berapa kali kamu didatangi orang itu, Mar?" tanya Arsyad, seusai membaca doa untuk pria muda tersebut. "Sama tadi, empat kali, Pak," jelas Martin. "Maksud Bapak, bukan dalam mimpi. Tapi ketemu langsung." "Ehm, aku belum pernah ketemu orangnya." Arsyad menggeleng. "Sudah pernah, tapi kamu nggak sadar." Martin terperangah. "Kapan, Pak? Apa kelihatan?" Arsyad kembali menggeleng. "Tertutup kabut tebal. Mata batin Bapak nggak bisa nembus." Selama beberapa saat suasana hening. Ketiga orang tersebut memerhatikan Martin yang tengah mengingat-ingat sembari bergumam. "Coba dirunut, Mar," usul Hendri. "Dimulai dari kamu datang ke tempat proyek," imbuh Wirya. "Supaya gampang, sekalian ditulis," sambungnya sembari membuka tas kerja dan mengambil buku kecil serta pulpen. Martin menerima benda yang diberikan pria berambut cepak itu. Kemudian dia menyebutkan nama orang-orang yang ditemui sepanjang bulan itu. Tiba-tiba Martin berhenti menulis. Dia membulatkan mata, kala mengingat sosok perempuan berbaju Cheongsam merah, yang suaranya mirip dengan orang di dalam mimpinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN