Kamar 307

1690 Kata

Di bawah cahaya yang redup, sambil memegangi kepalanya ia terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Dengan balutan jket warna cokelat dan sebuah topi yang ia gunakan untuk menutupi identitasnya sebagai pasien di rumah sakit itu. Helaan napas tidak berhenti terdengar, hingga ia berhasil keluar dari bangunan besar itu. Segera ia mendekat ke jalanan dan memberhentikan taksi yang tengah berlalu lalang. “Lo nggak jadi gila, tapi gue yang bakal gila tauga?!” “Jefran itu udah mati, yang udah pergi lo biarin aja pergi jangan lo usik apa-apa lagi. Lo tuh memberatkan hidup lo sendiri, paham ga sih? Dan lo beban buat gue!” Potongan-potongan kalimat itu berhasil membuatnya bertekad sekuat ini untuk pergi dai rumah sakit. Mungkin benar apa yang dikatakan Yura kepadanya, ia tak lebih da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN