“Kamu tahu, Alma? Taruhan kuda itu prestise,” kata Inge memulai gertak. “Prestise bagaimana? Ibu kan menang banyak,” sindir Alma. Muka Inge berkerut. Menang banyak? Apanya yang menang banyak. Dia bahkan bukan yang taruhan, melainkan Dennis. “Apa maksudmu?” tanya Inge. Dia menatap Alma, yang juga menatap ibunya dengan tajam. Inge tahu, itu bentuk protes Alma, karena dia terlalu pilih kasih pada Dennis. Mau bagaimana lagi? Toh, suatu saat dia akan tua juga. Dan pada Dennis dan Mareta lah dia yakin, bahwa masa tuanya akan terjamin. Bukan pada Alma. Apa yang bisa diandalkan pada anak bungsu yang pincang, yang kini bermenantukan tukang ikan. Lalu, beberapa jam lalu merengek pinjam uang padanya. ‘Benar-benar madesu alias masa depan suram,’ rengut Inge dalam hati. “Alma, kamu masih mau

