“Kuda setaaan!”’ teriak Dennis. Rasanya, kakinya mau patah, ketika disepak kuda itu. Meskipun kuda itu sebenarnya tidak terlalu kuat menyepaknya. Buktinya, Dennis sendiri belum pingsan, dan kakinya belum patah. Kuda itu kembali menerornya. Setelah menyepak sedikit paha Inge, dia berputar ke belakang. Lalu kakinya berketak-ketuk seperti sedang membuat tarian, pelan-pelan mendekati Dennis. “Woi, kuda! Mau apa kamu! Hush, hush, sana! Jangan serang aku!” kata Dennis. Pikiran jahat lelaki ini malah berharap kuda itu berbalik kembali ke arah ibunya, bukan dia. Baginya, lebih baik Ibunya yang terteror daripada dia. Sungguh Malin Kundang! Dennis anak durhaka. “Sana! Kamu! Pergi!” Dennis melempari kuda itu dengan helm pacuannya. “Setan! Sana kubilang!” Kuda itu meringkik, seolah meny

