12

1070 Kata

Atikah menemani Pak Naryo yang sedang menyiram tanaman di taman depan, keduanya tampak berbicara meski tidak intens, setidaknya pada orang yang lebih tua Atikah merasa aman. Sesekali terlihat senyum Atikah saat berbicara dengan Pak Naryo. Tanpa Atikah sadari dari tempat tersembunyi di luar pagar, Angkasa menatap Atikah penuh rindu. Kebencian dan kemarahan pada mamanya mulai muncul lagi, seandainya tidak terjadi malam laknat itu ia yakin dirinya dan Atikah akan baik-baik saja, bahkan bisa jadi mereka akan segera menikah. Lama-lama Atikah merasa ada yang mengamatinya, ia mencari ada di mana dan tatapannya bersirobok dengan mata seseorang yang sangat ia hapal, seketika Atikah bangkit dan bergegas masuk. "Nooon katanya mau nemanin Bapak." Pak Naryo memanggil Atikah. "Saya masuk dulu ya Pak,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN