"Cewek, cowok?" Faris mengernyitkan alisnya, tangannya yang sedang mengupas buah apel sejenak berhenti. Matanya memandang ke arah Hansa yang setangah duduk di ranjang. Bibirnya kini sedikit tersungging, "cowok." "Mirip mas, apa mirip Han?" "Mas lah, kan mas bapaknya." Faris sedikit terkekeh. Bangga, bahagia. Mungkin itu perasaan Faris saat ini. Hansa hanya mengangguk, sejak sadar kemarin Hansa belum bisa melihat anaknya. Kata dokter nanti sore Hansa sudah boleh pulang, Hansa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya. Faris dari semalam sudah cerita banyak sekali, termasuk tentang ibunya. Faris tidak mau menyembunyikannya dari Hansa. "Udah beli baju?" Faris mengangguk. "Terus kamarnya udah di cat biru?" "Kamarnya udah beres semua, karena mamah sama papah kamu masih di sini

