[aku tunggu di pintu masuk kampus ya.] Ruby tersenyum membaca pesan dari Safir. Pria itu mengajukan diri menjadi sopir untuk mengantar jemputnya. Pagi hari Ruby tergelak mendengar pengakuan Safir. Pria itu mengembalikan kunci motor yang ia sembunyikan di kamar tamu. "Aku ingin berduaan denganmu, jadi kuputuskan menyembunyikan kunci ini." katanya menunjukkan kunci ditangannya. Seketika itu gelak tawa Ruby pecah, mengingat bagaimana Safir berperan bodoh mencari benda itu di atas piano. "Astaga. Dan kakak pura-pura mencarinya." menerima kunci dari tangan Safir. "Ruby selalu menolak diantar. Jadi kakak sedikit curang." kata Safir memutar tubuh Ruby kemudian memeluk dari belakang. Ia menyurukkan wajahnya di ceruk leher Ruby, merasakan denyut nadi leher Ruby. Ruby menelan kuat saliva,

