"Bercinta?" Berlian menatap Safir, mendengar ucapan vulgar lelaki itu membuatnya susah menelan ludah yang terasa kering. "A-aku senang kau mengingatnya." lirih Berlian. Safir menarik sudut bibirnya membentuk senyuman cemooh. "Tentu saja aku mengingatnya. Aku cukup terkejut melihat keadaanku sekaligus geli." Safir tergelak. "Tapi …,ah sayang sekali, aku tidak ingat bagaimana rasa tubuhmu." ucap Safir, kedua alis tebal itu kini terangkat tinggi. Wajah Berlian pucat pasi dan bibirnya kelu. Dia tidak sanggup menatap lelaki di hadapannya. "Kau menikmatinya?" tanya Safir dengan mata menyipit. Berlian menelan salivanya, "kita sama-sama menikmatinya, Fir." gumam Berlian. Safir menipiskan bibirnya lalu tawa cemooh keluar dari mulutnya. Ia memandang gadis di hadapannya dengan mata sinis.

