Cahaya matahari masuk menembus gorden yang menghalangi dinding kaca kamar, menyapa dua orang yang masih lelap dalam selimut tebal. Cahaya berhasil mengganggu tidur Ruby. Dengan mata yang masih terasa berat Ruby membuka kelopak matanya, mengerjap sembari mengumpulkan kesadarannya. Tubuhnya terasa ngilu. Nyeri pada pusat inti tubuhnya. Ruby menoleh kebelakang menghadap Safir. Perlahan melepas pelukan Safir di perutnya, senyumnya terbit mengamati wajah tampan Suaminya. Membawa jarinya merapikan poni pria itu. Mengelus alis tebal turun menyentuh batang hidung Safir yang langsing dan tinggi. "Aku suka bibir ini, seperti seutas pita kirmizi." bisik Ruby menelan saliva mengagumi bibir merah Safir. Ia menyentuh dengan jarinya. Senyumnya terbit ketika desahan Safir terngiang di kepalanya. Nama

