Safir melihat ke arah pintu cafe. Akhirnya setelah menunggu tiga puluh menit gadis itu muncul juga. Safir tidak pernah menyangka, gadis ini berambisi untuk memilikinya. "Duduklah," Safir menunjuk bangku di hadapannya. "Terima kasih," Berlian menarik bangku untuk ia duduki. Safir menatap lurus manik mata Berlian lalu wanita itu memutus pandangan itu. Tiba-tiba merasa canggung. "Saat kita berpisah tidak ada kata putus diantara kita." kata Berlian, memulai obrolan. "Kau yang pergi, bukan aku." "Safir, tapi kau tidak berusaha mencariku." "Untuk?" "Supaya hubungan kita tetap berjalan." Safir terkekeh, ia mengedarkan sebentar pandangan ke seluruh cafe kemudian nafasnya terdengar berembus kasar. "Hubungan yang kita jalin dimasa lalu adalah hubungan kanak-kanak. Cinta pertama tidak

