I don't know how it will end, but sometimes it hurts a lot. thousands of ways I do to love myself more, but I realized a thousand times I failed at that too~Hidden
Langit berawan didampingi semilir angin di pagi hari mengawali hari gadis perperawakan tinggi nan langsing. Tubuh rampingnya dibaluti Hoodie yang terbilang sangat tebal, berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar adik kesayangannya.
Senyum manis terpancar diwajahnya sehingga langsung menunjukkan dua lubang cacat dikedua pipi tirus nya.
"Pagi Garel, bagaimana tidur nya? Nyeyak bukan?" Sapa Clayrin manis sambil mencium kening Garel,mengelus puncak kepala anak laki-laki yang baru saja terbangun dari tidurnya dengan halus dan penuh kasih sayang.
Garel membalas sapaan manis itu dengan anggukan kecil. "Garel lapar kak, Garel mau makan." Ucap Garel sambil menunjukan deretan gigi kecil disekitar gusinya.
"Yaudah kita makan yuk! Kakak juga sudah sangat lapar," Clayrin menopang tubuh mungil Garel sebelumnya akhirnya pintu tiba-tiba terbuka.
Ceklek
Suara pintu terbuka lebar, empat mata kembali beradu tatap. Dua wajah serupa dengan perwatakan yang terbilang sangat berbeda kembali menunjukkan aura negatif di sekeliling kamar Garel padahal ini masih terlalu pagi untuk memulai perang saudara lagi.
Dengan cepat Garel turun dari gendongan Clayrin setelah melihat wajah Cleyrin dari balik pintu,berlari memeluk kakak keduanya yang masih setia didepan pintu kamarnya.
"Kakak!! Selamat pagi," Teriak Garel semangat, mengalungkan tangannya pada leher Cleyrin. "Tidur kakak nyeyak kan?"
"Gimana tidurnya?" Tanya Cleyrin gemas alih-alih membalas pertanyaan Garel. Garel hanya mengangguk "tidurnya nyaman,hehe." Ucap Garel setelahnya.
"Kakak gak berangkat sekolah?" Tanya Garel binggung. Cleyrin masih mengenakan piyama tidur nya, berbeda dengan Clayrin yang sudah siap dengan seragam sekolah.
Cleyrin mengangkat bahu nya acuh. Bibirnya bertaut, membentuk sebuah hati. "Ga ada yang berani sama kakak,haha. Sekali-kali terlambat tidak apa-apa kan?" Bisik Cleyrin. Garel menutup mulutnya pura-pura terkejut sembari memberikan ancungan jempol. "Kakak yang terbaik," ujar Garel.
"Yaudah kita makan dulu yuk," Ajak Cleyrin. Sebelum pergi gadis itu menatap Clayrin sekilas, kembarannya itu masih stay di tempatnya. Memperhatikan,menangkap setiap gerak-gerik dua insang didepannya itu. Garel tidak bersikap manis kepada Clayrin seperti Garel bersikap sangat manis kepada Cleyrin.
Jadi begini rasanya cemburu?
7:15
Cleyrin menelusuri anak tangga dengan tas yang bertengger di punggungnya,mengucir rambutnya dengan lihai sambil sedikit berlari kecil. "Kakak berangkat sekolah dulu ya,dek. Kamu jangan nakal,nanti kalau nenek sihir itu ngajak kamu pulang,kamu jangan mau. Ok?" Cleyrin memberi instruksi,mengsejajarkan tingginya dengan Garel.
Garel mengangguk mengerti atas ucapan Cleyrin,memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya yang tak kunjung habis. "Kakak cepat pulang ya, Garel takut." Ucap Garel sendu sembari menyalim tangan Cleyrin.
"Iya, kamu jangan takut."Jawab Cleyrin singkat. Berat rasanya meninggalkan adik kecilnya sendiri di rumah ini walau hanya sebentar saja. Ditambah lagi ketakutan Cleyrin kalau kedua orangtuanya nekat membawa Garel kembali ke Finlandia.
Orang tuanya sangat egois,mereka tidak pernah mengerti, mereka tidak akan tahu bagaimana takutnya anak itu seorang diri disana tanpa ada yang bisa diajak bicara dan berkeluh-kesah. Ingin rasanya Cleyrin membawa Garel pergi jauh, jauh dari tempat ini. Tempat yang paling menyakitkan untuk Cleyrin dan sekarang mungkin untuk anak kecil itu, Garel.
******
"Dia bukan Clayrin,dia bukan orang yang sama dengan yang kemarin kita temui." Kedua cowok itu memperbaiki posisi duduknya. Menatap penuh pertanyaan ke sumber suara, hanyut dalam cerita yang akan segera dimulai.
Berbeda lagi dengan cowok berjambul di sudut ruangan,merebahkan tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya penuh lebam, kakinya memar. Ia menahan sakit yang baru saja ia dapatkan pagi tadi.
"Jadi intinya mereka kembar. Clayrin yang kita kenal adalah Clayrin yang masih sama dengan sifat yang sama juga dan orang yang kemarin adalah Cleyrin, kembarannya. Jadi katanya sih,dia belum lama pindah ke sini dan hampir bikin gempar satu sekolahan. Sorry, because we didn't realize it before. We were busy in class so we didn't know what had happened,"
Carel yang awalnya memejamkan matanya mendadak melotot. Menatap Cakra yang baru saja memberi penjelasan tentang hal yang ia inginkan semalam. Carel tampak tidak percaya.
Pantas saja, tidak mungkin seseorang dapat berubah secepat itu dengan sifat yang sangat buruk pula.
Hanya itu yang bisa Carel pikirkan sekarang. Menepuk kepalanya berulang kali, semua serasa seperti mimpi. Ingin rasanya Carel menenggelamkan wajahnya di lautan samudera sekarang juga.
Flashback..
Carel melotot tajam,tidak percaya dengan apa yang dia lihat,mengucek matanya berulang kali memastikan bahwa kejadian didepan matanya itu salah.
Seorang gadis memanjat pagar belakang sekolah. Gerak-gerik mencurigakan tampak terlihat darinya,menatap sekeliling memastikan tidak ada yang melihatnya. Hingga akhirnya dia lompat dan aman. Gadis itu mendarat dengan sangat mulus.
Carel yang menyadari guru piket datang dari balik dinding yang menjulang tinggi itu dengan cepat berlari menarik tangan gadis yang masih sibuk membersihkan baju dan sepatunya.
Tarikan tanpa aba-aba itu membuat gadis itu terkejut, hampir saja dia teriak namun untung saja Carel dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan besar milik Carel.
Keduanya terdiam dibalik pohon besar belakang sekolah. Dengan jarak sedekat ini, Carel dapat merasakan detak jantung yang tidak beraturan dari gadis itu. Posisi mereka masih tetap sama, tangan besar Carel yang belum juga lepas dari mulut mungil itu.
Mengintip dari balik pohon, memastikan semuanya sudah aman. Setelah dipastikan aman barulah Carel bisa bernafas dengan lega. Baru saja Carel ingin angkat bicara, tendangan keras mendarat di selangkangannya. Sumpah sakit sekali.
Dunianya seakan berbelah dua, Carel merintih kesakitan. belum cukup itu, gadis tidak tahu terima kasih itu lantas meninju keras wajah tampan Carel, meninggalkan luka kecil disudut bibirnya.
"Maksud Lo apa,huh? Nyari kesempatan dalam kesempitan!! Lihat saja setelah ini hidup Lo ga akan aman lagi. Gue teror mati-matian Lo nanti!!" Ancam gadis itu dengan suara kerase. Baru saja kaki nya hendak melangkah pergi, cengkraman di tangannya terasa sehingga kembali mengundang amarah di lubuk hatinya.
Dengan kasar, gadis itu menghempaskannya. Menampar pipi mulus itu lagi. "Masih kurang huh?"
"Cukup!!" Ucap Carel memohon.
"Maaf Clayrin. Aku ga__"
"Cih! Buaya kayak Lo itu--ga pantas di percaya," Bantah Cleyrin,berjalan mendekati Carel,mengikis jarak diantara keduanya. "Lo bisa modus sama cewek lain tapi Lo harus tahu siapa cewek yang ada di depan mata Lo sekarang!! Jangan berani-berani sentuh gue lagi bahkan dalam seujung kuku pun!" Cleyrin menekan kata-katanya.
Cleyrin menjambak rambut itu keras sebelum akhirnya pergi lalu masih terasa kurang, Cleyrin juga kembali menginjak kaki Carel lalu dengan begitulah gadis itu benar-benar menghilang dari hadapan Carel.
Cowok dalam keadaan tragis itu menganga lebar,tubuhnya merosot seketika. Niat baiknya untuk menolong tidak bermakna bahkan tidak berbuah manis. Berujung babak belur dari seorang gadis, gadis yang selama ini menjadi tipe idealnya.
Tapi bukan itu masalahnya, gadis itu sangat berbeda. Apa dia adalah gadis yang sama? Tapi jika iya, tolong kembalikan gadis itu seperti apa yang dia inginkan.
Carel takut jika harus mencintai manusia siluman ular seperti tadi.
Mengingat kejadian itu membuat amarah Carel memuncak. Memukul meja keras secara tiba-tiba hingga membuat ketiga cowok yang sedari menatapnya sangat terkejut.
"Lo Kenapa?" Tanya Cakra hati-hati. Bukannya menjawab, Carel malah melayangkan tinjuan di pipi nya.
"Gue mau Lo bawa gadis gila itu kesini. SEKARANG!!" Pintah Carel mutlak. Terlihat jelas raut wajah garang Carel. Cakra yang awalnya ingin membalas tinjuan pada Carel menunda niatnya melihat kondisi Carel sekarang.
Ingatkan Cakra untuk balas dendam besok. Carel tidak boleh semena-mena terhadap Cakra,ini menyangkut masa depan.
"Maksud Lo apa sih? Lo mau apa? Gadis gila nya siapa? Emang ada gadis gila yang sekolah? Kalau adapun itu pasti dijalanan, di rumah sakit jiwa dan tidak mungkin disekolah ini. Kalau Lo mau yang gila-gila gitu, yaudah nanti saja kita cari bareng-bareng. Intinya jangan sekarang deh,ini masih jam sekolah." Ucap Marva asal.
Marva juga tidak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan, melihat tatapan yang semakin tidak bersahabat dari Carel membuatnya hanya bisa menampilkan deretan gigi ratanya.
"Lo mau kita bawa siapa huh? Ce---"
"Kembaran nya," Jawab nya datar.
"Maksud nya?" Cakra semakin binggung dibuat nya"
"Kembaran dari Clayrin,"
Ketiganya melotot tajam. Tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Carel.
"Mak--maksud Lo? Untuk apa? Lo mau apain anak or--"
"BUNUH! GUE MAU BUNUH DIA!!"
Marva, Cakra, Dafa ketiganya tersentak bersamaan. Berjalan mundur menjauhi Carel yang terlihat semakin menyeramkan.
Setelah beberapa detik dalam suasana ini, Dafa menyilang tangannya. "Jangan main bunuh-bunuhan nanti brabe urusannya," kata Dafa menasehati.
Carel memutar bola matanya malas, teman-temannya ini sangatlah menyebalkan. Bagaimana bisa seorang Carel dari keluarga terpandang mempunyai teman i***t seperti mereka?
"Gue tau Lo suka sama Clayrin tapi gak gini juga caranya. Lo mau bunuh setengah nyawa dari Clayrin? Apalagi ini adalah sebuah keberuntungan kalau di tinjau dari sisi positifnya. Kalau Lo ga bisa dapat yang aslinya, fotocopy nya juga ga masalah bukan?" Marva kembali berucap dengan mantap, berhasil membuat darah tinggi dari seorang Carel hampir memuncak lagi.
"Iya bener kata Marva," Cakra kembali mendukung. "Ga kalah jauh juga, malahan ga ada bedanya. Ga usah deh,main bunuh-bunuhan. Ini adalah sebuah takdir yang ind---"
Cakra menghentikan ucapannya. Carel beranjak dari tempatnya menghadap Cakra dengan aura hitam menggeluti tatapan mereka yang beradu. Bibir Cakra seakan tidak sanggup untuk berucap lagi.
"Gue mau Lo bawa dia sekarang. Lo dengar? SEKARANG," Nada mengancam dari Carel terdengar lebih menyeramkan lagi.
"Gimana caranya Carel? Mereka itu mirip, kita manatau yang mana Clayrin yang mana fotocopy dari Clay---"
"SEKARANG!!"
"Tapi Car---"
"Gue gak peduli bagaimanpun caranya, sekarang." Carel mengulang ucapannya.
"Oke, SEGERA" Marva dan Dafa berlari terbirit-b***t meninggalkan rooftop.
Setelah kepergian dua makhluk halus yang membuat Carel hampir saja menghembuskan nafas terakhir, Carel akhirnya bisa bernafas lega. Menduduki dirinya di sofa dan kembali memejamkan matanya.
Cakra menghela nafas panjang,menduduki dirinya di samping Carel yang sedang terpejam. "Masalahnya apa ? Kenapa Lo nyari kembaran Clayrin?"
Tidak ada jawaban. Semilir angin membawa lari pertanyaan dari Cakra. "Clayrin bakal marah kalau sesuatu yang buruk terjadi sama kembarannya," Kembali Cakra berucap tanpa lelah. Sama saja, respon tidak ada.
"Tapi beda cerita kalau Lo mau berpaling dari Clayrin dan berpindah ke separuh dari Clayrin"
"Lebih baik Lo pergi!!" Perintah menyeramkan itu kembali terdengar. Cakra hanya bisa mengumpat dalam hati, ingin rasanya mencabik-cabik muka sahabatnya itu. Untung nya Cakra masih punya hati, jika tidak sudah dipastikan wajah itu tidak berbentuk lagi. Hari ini lebih baik Cakra mengalah dengan sifat kekanak-kanakan Carel.
*****
"Nyari nya dimana huh? Dan kalau ketemu pun, Lo udah tau itu si Clayrin atau kembarannya? Kan ga lucu kalau kita tanya, Lo Clayrin atau enggak? Heh!!! Dimana harga diri gue sebagai cowok tertampan di sekolah ini?" Dafa ngomel sendiri. Monolog yang sedari dia ucapkan membuat telinga Marva hampir pecah.
Marva juga sama sama binggung nya dengan pekerjaan yang membosankan ini. Jika bisa memilih akan lebih baik jika Marva balapan dijalan daripada mencari manusia yang memiliki rupa yang sama namun berbeda.
"Lo tau sendiri si Carel. Bucin akut walau udah tau kalau cewek idaman nya sudah ada yang punya. Dan sekarang? Nyari fotocopy nya---hendak dibunuh lagi, emang aneh anak itu." Kesal Marva mengumpat Carel dari belakang.