Ketidakadilan

1769 Kata
The meeting between us was an accident, but loving you is an intention that i have maintained until now~Hidden "Bukannya ini kemauan Lo? Inikan yang Lo inginkan? Harusnya Lo senang, bukan masang topeng murahan itu lalu seakan-akan Lo memang peduli. Asal Lo tau!! Lo adalah penyebab utama dari semua ini. GUE BENCI SAMA LO," Plak..... Tangan besar seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang masih melekat ditubuhnya dengan lemas terpapar diwajah Cleyrin, tangan nya begitu lihai memberi tamparan keras pada gadis yang baru mengeluarkan kata-kata itu. Gadis itu sedikit tersungkur ke belakang, tamparan itu sangat menyakitkan untuknya, membekas didalam hati maupun jiwa. "Jaga ucapan kamu, Cleyrin. Jangan buat Papa melakukan hal yang akan membuat mu ingat sampai kapanpun," Ucap pria itu penuh ancaman. Matanya memerah menahan emosi, rahangnya bahkan sampai mengeras. Perjalanan bisnis yang melelahkan semakin melelahkan kala ia menginjakkan kakinya di rumah ini. Ini memang selalu terjadi tapi kali ini gadis itu kelewatan batas. Pulang malam dengan baju yang acak-acakan,hal itu cukup membuat amarahnya naik. Ini memang bukan yang pertama kalinya tapi tentu saja hal ini mampu mengungkit emosi nya. "Papa ngancam aku?" Gadis itu tersenyum remeh. Alisnya tertaut, disana terlihat jelas air mata yang ditahan untuk tidak keluar setetes pun. "Papa lupa? Semua hal yang Papa lakuin sama Cleyrin bahkan dalam hal yang sangat sederhana mampu membuat Cleyrin GA AKAN LUPA. Semua yang Papa lakuin itu belum cukup. Belum cukup untuk Cleyrin lebih membenci Papa,asal Papa tahu itu!!" Plak... Untuk kedua kalinya, tamparan itu mendarat di pipi mulus Cleyrin. Merasa tidak berarti sama sekali, Cleyrin masih tetap memancarkan aura yang menyeramkan dari dalam dirinya. Senyum layaknya seorang iblis dan pancaran dari kedua manik coklatnya seakan ingin menerkam sosok di hadapannya. Seorang wanita yang masih stay di sofa, menikmati pertunjukan antara Ayah dan Anak itu tanpa berniat mencampuri lebih jauh urusan mereka. Sedari, rasanya ia ingin melemparkan vas bunga yang berada didepannya pada gadis yang tidak punya sopan santun itu. Tapi melihat raut wajah dari putri kesayangan nya yang sekarang hanya diam tidak berkutik, menghentikan niat buruk nya itu. Rose tak ingin Clayrin kesayangannya trauma dengan pukulan serta bentakan yang dilontarkan kepada kembarannya. "Udah Pa,ga usah diladeni," Suara halus nan lembut dari ujung sofa tertangkap di telinga dua insang yang sedang beradu. "Dia ini udah kelewatan sayang," Suara yang awalnya sangat tidak bersahabat berubah menjadi sangat lembut ketika membalas ucapan dari Clayrin. "Jangan bilang dia sering berlaku kasar sama kamu juga kalau Mama sama Papa ga ada di rumah? Jangan bilang kelakuan bejatnya itu dilampiaskan padamu? Kamu bisa bilang apapun yang dia lakuin sama kamu Clayrin, Papa akan memberi pelajaran lebih padanya jika dia berani menyentuh mu," Ucapan bagaikan perintah itu membuat gadis yang satunya mengepal tangannya kuat. Hatinya merasa patah, entah sudah keberapa kalinya. "Iya Clayrin. Kamu jangan takut sayang, kamu bilang apapun yang menjanggal di hati kamu nak. Mama Papa ga akan segan-segan menghukum dia," Wanita paruh baya itu berjalan mendekati putrinya, mengelus puncak kepala Clayrin lembut. Bukan Cleyrin Ma,Pa... tapi kalian. Kalian yang selalu menjanggal dihati Clayrin. Tingkah dan perbuatan kalian ini, hanya akan menambah kebencian Cleyrin sama Clayrin. Batin Clayrin berbisik lirih menatap wajah nyalang saudara kembarnya. "Enak ya,jadi anak kesayangan," Baru saja Clayrin ingin berucap, Cleyrin kembali memotong ucapan nya. "Jadi iri,hahah." Sambungnya. "Sejak kecil selalu dimanja, disayang, bagaikan anak tunggal. Hm, Sampai lupa kalau disini ada anak terlantar yang berhak mendapatkan itu semua. Tidak harus seutuhnya sih tapi setidaknya terasa bukan tiada samasekali," kata Cleyrin. "Tapi itu dulu, sekarang bahkan anak itu tidak berharap sedikitpun. Terlalu lama dalam posisi ini membuat dirinya nyaman sangat nyaman," "Untung nya saat ini anak itu tidak akan iri sama anak kesayangan itu, karena apa? KARENA ANAK ITU MASIH DI BERI TUBUH YANG SEHAT, BUKAN TUBUH PENYAKITAN YANG BISANYA BERDIRI DENGAN BANTUAN ORANG LAIN," kalimat menyayat hati Cleyrin ucapkan dengan berapi-api. Merasa tersindir, Clayrin yang awalnya ingin meluruskan semuanya, membuang niat nya jauh-jauh. Tangan nya mengepal menahan emosi atas ucapan Cleyrin barusan. Siapa anak yang memiliki tubuh lemah sehingga apapun yang dia lakukan penuh dengan pengawasan? Cleyrin sungguh menyinggung Clayrin dan hal itu membuat Clayrin murka. "Kasihan ya,haha. Tapi setidaknya jika anak itu kelak mendapatkan takdir nya, dunia masih terlalu baik padanya. Mendapatkan segalanya, dan tidak pernah berbohong dengan kehidupannya yang terbilang sangat bahagia," Clayrin menubruk bahu Cleyrin, melewati gadis itu dengan langkah santai, sembari menepis senyuman sinis disana. "Haha, tidak mengapa JUGA!!" Bentak Cleyrin keras ketika Clayrin ingin meninggalkan ruang tengah tempat mereka berkumpul. "Memiliki kebebasan dan tidak takut akan hal-hal apa saja,haha. Jadi orang yang memiliki tubuh sehat memang menyenangkan,btw semoga cepat menyusul nenek ya disana--" Plak Flashback..... "Garel harus pulang lagi ke Fin--" "Kenapa Pa? Papa mau ngusir anak kecil ini lagi huh?" Seorang gadis yang baru saja memasuki rumah bicara dengan lantang. Melepaskan tas melekat di punggung nya dan mencampakkan tas itu dengan asal. Mata nya menangkap sosok anak kecil yang sekarang hanya berdiam diri di sofa. Kepalanya tertunduk lesu, tubuhnya bergetar hebat. Anak kecil berusia hampir 8 tahunan itu baru saja pulang dari Finlandia. Sejak kelahirannya,anak itu sudah tinggal di sana bersama Paman dan Tante yang kebetulan bertempat tinggal di Finlandia. Garel,anak itu hanya pulang sekali setahun ke Indonesia, bukan karena keinginannya tapi karena merasa tertekan yang selama ini dia rasakan. "Harusnya Papa mikir sejak awal, anak sekecil ini masih butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya,bukan ditinggalkan layaknya anak yang tidak dianggap," Cleyrin kembali berucap. Cleyrin beralih ke Rose, Mamanya. "Kalian gak adil tahu nggak! Kalian hanya terfokus sama satu anak sampai lupa kalau disini ada Garel yang paling membutuhkan itu, jauh-jauh dari kehidupan Cleyrin sendiri--- Cleyrin hanya minta agar kalian bisa bertindak adil pada Garel, Cleyrin gapaap dan Cleyrin ga butuh yang Cleyrin ingin adalah Garel," "Kalian ga pernah mikir hah? Kalian bahkan gak pernah sadar,tinggal di negara orang tanpa dukungan dari orang tua adalah hal yang paling menyakitkan untuk dilewati seorang diri. UANG KALIAN GA AKAN BISA MEMBAYAR GIMANA SAKITNYA HIDUP SEORANG ANAK YANG BARU SAJA LAHIR DI DUNIA INI HARUS PERGI JAUH, SANGAT JAUH DARI KEDUA ORANGTUANYA. Bukan karena keinginannya tapi karena keegoisan kedua orang tuanya," Gadis itu angkat bicara. "Sekarang kalian mau ngusir Garel lagi? Kalian GAK bisa membawa pergi adik ku lagi,jika bisa memilih akan lebih baik kalian lah yang pergi," Umpat Cleyrin. Carlos dan Rose hanya diam,berbeda dengan Clayrin yang sedari memeluk adik kecilnya itu. Rasanya, sedari Clayrin selalu menyangkalnya. Pedih rasanya melihat Garel saat ini. Cleyrin benar,ini semua karena dia, Clayrin. Cleyrin menarik paksa tubuh Garel dari dekapan Clayrin,memegang pipi adik nya itu. Rasanya Cleyrin ingin menangis saat ini, setelah sekian lama akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan Garel, seseorang yang selalu ia rindukan. "Kamu ga akan pergi lagi sayang, kamu akan tetap disini bersama dengan kakak," Cleyrin mengelus puncak kepala adik nya itu. Terakhir bertemu dengan Garel dua tahun yang lalu, sejak itu Garel tidak pernah kembali lagi. Bahkan sekedar untuk bertelepon dengan nya saja, Cleyrin tidak bisa. Mengingat bagaimana kerasnya Paman dan Tante mendidik Garel disana. Kantung mata anak itu mulai tampak,pipi nya yang awalnya gembul berubah menjadi sedikit tirus dan kusut. Andai Cleyrin bisa memutar waktu, Cleyrin tidak akan mengijinkan siapapun membawa Garel pergi. "Besok kita harus pulang Garel, libur sekolah mu tidak aka--" "ENGGAK!! GA ada yang bisa membawa Garel pergi!!" Cleyrin memukul meja sekuat tenaganya, bangkit dari tempatnya menatap penuh emosi pada Carlos. "Anak itu baru saja sampai, kau ingin membawanya lagi? Jadi untuk apa kau menunjukkan nya padaku jika akhirnya kau ingin membawanya pergi lagi? Kau tahu apa yang akan kulakukan jika aku sudah melihatnya?" "Jaga ucapan mu Cleyrin," Rose angkat bicara. "Kau tidak berhak mengatur Garel, Garel adalah anakKu, kau tidak berhak atasnya. Kami tahu apa yang terbaik untuk Gare--" "Terbaik? Kau bilang hal ini adalah yang terbaik? Kau bahkan tidak mengerti apa-apa tentang anak mu, bagaimana kau tahu ini yang terbaik untuk nya!" Cleyrin lagi dan lagi memotong ucapan orangtuanya. "Seorang Ibu yang tega melihat anaknya pergi jauh darinya. Kau pikir,kau layak disebut sebagai Ib--" "CUKUP!!" Cleyrin sontak terkejut. Plak.. "Kau kelewatan batas," Plak.... "Anak kurang ajar," Plak.. Carlos menamparnya berulang kali. Tangan pria itu memerah, melihat betapa kerasnya ia menjatuhkan telapak besar itu ke pipi mungil Putri nya. Keadaan hening sejenak. Clayrin sudah menangis dalam diam, begitu juga dengan Garel, tubuh anak itu semakin bergetar menahan ketakutan. Berbeda dengan Cleyrin, gadis itu hanya memegangi pipinya yang terasa panas. Hebat nya,tak setetes cairan bening pun lolos dari kedua manik coklatnya. "Pa, jangan bawa Garel pergi lagi ya. Biarin Garel bersama kita disini, Clayrin mohon sama Papa," Ucapan lembut penuh isakan terdengar sayu. Harapan besar kepada Ayahnya untuk kali ini mengabulkan permintaan Cleyrin. "Andai seorang anak bisa mengungkap segalanya yang dia rasakan. Mungkin kata 'untuk tidak pernah dilahirkan sudah terucap sejak dulu'" "Clayrin sayang sama Garel,Clayrin mau Garel disini bersama Clayrin. Jangan bawa Garel per--" "Cih..." Satu decihan sinis kembali keluar,mata keduanya saling bertemu saat itu juga. Seseorang dengan tatapan tajam dan seorang lagi dengan mata yang masih berlinang air mata. "Harus nya Lo itu bahagia. Gue harap Lo ga pernah lupa kalau semua ini karena Lo, semua hal yang paling menyedihkan ini terjadi karena Lo,LO ITU ANAK PEMBAWA SIAL YANG DI AGUNG-AGUNGKAN OLEH BANYAK ORANG!!" "Andai Lo ga pernah ada,andai Lo ga pernah hadir di dunia ini, andai sejak awal Lo MATI--- Semua nya akan damai!" Plak.. " Argh.....Gue benci sama Lo, Gue benci Clayrin, gue benci kalian!! Gue harap Lo mati, gue benci sama Lo," Gadis itu memasukkan pil kedalam mulutnya lalu meneguk segelas air putih. Setelah memasuki kamar, tangisnya kembali datang. Nafasnya terasa sesak,air matanya menolak untuk berhenti mengalir. Clayrin memegangi dadanya, menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya dan erharap cara ini dapat mengurangi rasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuhnya. "Maafin gue..... maafin gue," ****** Cleyrin mengelus puncak kepala Garel lembut kemudian membalutkan selimut ke tubuh mungil itu. Tak henti-hentinya Cleyrin tersenyum, rasanya sangat menyenangkan bisa bertemu lagi dengan Garel dan membuat ayah dan ibunya tak mempunyai alasan untuk membawa Garel pergi dari Cleyrin. Setelah merasa tubuh itu sudah masuk ke alam mimpi nya, Cleyrin akhirnya kembali kamarnya. Memegang gagang pintu hendak membuka,mata nya tak sengaja tertuju pada satu titik. Rasa tidak tenang menjalar di seluruh tubuhnya setelah menatap pintu kamar itu dari kejauhan. Berusaha bodoh amat lalu terkesan tidak peduli,Cleyrin memasuki kamarnya. Menghempaskan tubuhnya di kasur kemudian memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama untuknya tertidur pulas. Cleyrin___ Jika aku bisa memilih sejak awal,ini bukanlah keinginan ku. Aku tahu bagaimana berat nya berada diposisi mu. Bagaimana pun juga kau adalah separuh dari ku, sakit rasanya saat kau membenci ku layaknya kita adalah ketidakmungkinan. Maafkan aku yang tidak bisa mengungkapkan nya secara langsung. Keegoisan dalam diriku mendominasi, antara kita hanyalah kesalahan namun selalu dipertemukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN