I never wished to be born in this world. the world is too evil for me, who always puts on a mask to cover the wounds I feel~Hidden
Setelah selesai membersihkan diri dan meneguk segelas kopi,Darel merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini sungguh melelahkan untuk batin dan jasmaninya. Sekarang Darel mengerti, mereka memang sangat mirip tapi jika dilihat secara sekilas perbedaan itu memang sangat spesifik.
Bukan hanya unsur sifat dan karakter, gadisnya adalah seorang yang sangat lembut berbeda dengan gadis yang untuk pertama kalinya Darel temui itu. Gadis itu sangat cuek, dingin dan sangat kasar. Seorang gadis tidak baik jika memiliki sifat seperti itu,batin Darel berbisik.
Benar kata banyak orang,anak kembar saja pasti mempunyai perbedaan, mustahil jika tidak. Semirip apapun mereka pasti ada saja sebuah perbedaan diantaranya.
Lesung Pipit.
Sekarang itulah yang dapat membedakan mereka secara fisik. Darel tidak akan bisa membedakan mana kekasihnya dan yang mana saudara kembar dari kekasihnya tersebut. Bisa saja Darel salah orang seperti yang dia lakukan seharian ini. Sangat memalukan bukan!!
Mulai besok Darel harus lebih teliti dalam memilah mana yang benar dan mana yang kw,haha. Namun ada satu yang membuat Darel binggung-- yang membuat Darel tak habis pikir, kenapa Clayrin harus menyembunyikan hal ini? Tidak apa, tapi mereka sudah menjalin hubungan yang terbilang cukup lama namun Kenapa harus menyembunyikan hal besar ini?
Darel tidak pernah tahu kalau Clayrin mempunyai saudara kembar, yang Darel tau Clayrin hanya mempunyai adik laki-laki yang bersekolah di luar negeri,hanya itu tidak lebih.
Lelaki itu sadar bahwa tidak harus semua tentang Clayrin dia tau namun hal sederhana seperti ini. Mengapa harus disembunyikan?
******
20:30
Cleyrin memarkirkan motornya,memasuki rumah yang masih terbuka lebar, tidak biasanya.
Tadinya Cleyrin berniat langsung pulang saja, tapi mengingat kondisinya niatnya dikubur kembali bahkan lebih dalam dari biasanya. Seragam sekolah yang awalnya basah, sudah kering dibawa angin. Sudahlah, Cleyrin hanya akan demam ataupun pilek dan itu hanya perkara biasa.
Ada sakit yang jauh lebih sakit untuk Cleyrin jalani jadi kalau hal ini, cukup sederhana.
"Lo ketemu sama Darel tadi?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Cleyrin. Cleyrin menatap ke arah gadis yang sekarang duduk sembari mengangkat kakinya di atas meja, meneguk segelas kopi kemudian meletakkan kembali.
"O, jadi namanya Darel," Cleyrin ber-oh-ria. Acuh tak acuh kembali melanjutkan langkahnya.
"Gue harap jangan ulangi kesalahan itu lagi,gue ga suka Lo ketemu sama Darel apalagi sampai membentak nya,tau malu jadi cewek!"
Cleyrin berbalik menghadap Clayrin yang sekarang sudah bangkit dari duduknya,tersenyum sinis setelah nya. "Gue juga ga mau ketemu sama pacar Lo! GA PENTING," Cleyrin menekan kata-katanya sedang tidak ingin memperpanjang masalah.
Cleyrin kembali menelusuri anak tangga. "Gue gak suka sama sifat Lo,gue mau Lo ubah sikap Lo di sekolah atau dimanapun Lo berpijak. Sampai kapan Lo akan seperti ini terus? Gue gak mau harga diri gue rusak hanya karena Lo, ditambah pacar gue juga berada di sekolah yang sama," Ujar Clayrin serius.
"Lo ga berhak ngatur hidup gue. Apalagi,gue gak busuk kayak hidup Lo,cih!!" Tanpa menghadap Clayrin, Cleyrin berucap jauh lebih serius. Memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
"Anak itu!" Umpat Clayrin.
*****
Clayrin_
Semua orang berpikir hidup ku baik-baik saja...
Mereka melihat senyum yang selalu terpancar...
Tapi, hanya itu saja.
Mereka tidak tahu seberapa rapuh nya aku..
Sebanyak apa hal yang harus aku korban kan, untuk selalu bertahan dalam posisi ini
Aku memang lemah...
Hingga akhirnya aku takut kehilangan.
Yang pergi tidak akan pernah kembali lagi..
Dan aku ga mau kehilangan...
Aku takut..
Ma,Pa... kapan kalian akan pulang?
Setelah menyelesaikan rutinitas malamnya, Clayrin beranjak tidur. Jaket yang dia kenakan tidak ada gunanya, entah kenapa tubuhnya kembali menggigil. Tubuhnya seakan mati rasa malam ini.
Dengan sedikit tenaga yang dia punya, Clayrin berjalan sedikit sempoyongan. Tubuhnya ambruk tepat di spring bed king size miliknya. Menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus disana. Gadis itu telah tertidur.
Clayrin sudah lelah menahan sakit yang selama ini menggeluti tubuhnya. Lantas, siapa yang paling terluka disini? Clayrin juga tidak mau terus-terusan seperti ini.
********
"Huff---" Cleyrin mengeluh,seperti kemarin hujan kembali turun dan yang paling parahnya ini masih pagi hari, Cleyrin benci itu.
Entah dosa dari mana, Cleyrin kembali menabrak seseorang yang berada didepannya. Emosi yang hampir saja terbuai terhenti, memungut novelnya yang berhamburan. Kemarin Karyne meminta Cleyrin membawa novel-novel kepunyaannya, begitu juga dengan Karyne akan membawa novel-novel nya,mereka akan bertukar novel nanti.
Tas Cleyrin yang terbilang sangat mini, tidak memungkinkan novel sebanyak itu berada di sana. Dengan sangat terpaksa Cleyrin harus memegang nya layaknya seorang siswi kutu buku padahal hanya kutu novel.
"Makanya kalau jalan itu pake mata dong!! Novel gue jadi jatuh deh," Cleyrin mengeluh. "Heran banget gue!! kayaknya semua siswa-siswi disini hobby banget nyenggol orang,gak tauu bilang terimakasih and then ga nolongin lagi. Ga punya mata kali ya?" Cleyrin mengoceh panjang lebar sambil terus mengutip novelnya.
Setelah selesai mengutip novelmya yang berjatuhan, Cleyrin kembali berdiri,menghela nafas panjang, sembari merapikan rambutnya. Menyisip rambut panjangnya di balik telinganya lalu memandang sengit seseorang dihadapannya.
Cowok yang tadinya hanya terdiam mendengar ocehan gadis aneh itu, sontak terkejut, menatap dengan tidak percaya Cleyrin.
Begitu juga dengan teman-temannya, mereka berulang kali mengucek matanya, memastikan apakah orang itu adalah dia yang mereka kagumi.
"Apa lihat-lihat? Ga pernah lihat cewek cantik huh?" Cleyrin mengerutkan keningnya. Aneh dengan cara pandang empat siswa didepan nya itu.
"Selain mata di gunakan untuk melihat, kaki juga digunakan untuk berjalan. Tapi itu saja masih kurang buat Lo?" Cleyrin menunjuk pada siswa yang tepat dihadapannya. "Mulut juga digunakan untuk meminta maaf--- BYE!" Cleyrin pergi begitu saja. Sebelum benar-benar pergi,Cleyrin terlebih dahulu memijak dengan penuh emosi kaki siswa yang sedari hanya diam membisu menatapnya.
Alih-alih merasa kesakitan lelaki itu malah terlihat mati rasa,
Clayrin?
*****
"Telat lagi? Kali ini dengan alasan apa huh?" Karyne menatap curiga. Cleyrin hanya cuek, meletakkan novel-novel itu dengan kasar di atas meja kemudian melepaskan Hoodie nya,dingin nya udara tidak mempunyai harga diri lagi dibuat nya, Cleyrin kepanasan.
Mata Karyne berbinar seketika. Bukan untuk Cleyrin, melainkan novel-novel yang berada di atas meja itu. Tak berhenti tersenyum, Karyne sibuk membaca setiap judul.
"Hey--nice to meet you,"
Cleyrin mengalihkan pandangannya. Senyum nya kembali terukir, membalas gadis yang sekarang sedang menjulurkan tangannya. "Alleen Naraya," Sapa nya manis.
"Cleyrin," Balas Cleyrin tak kalah ramah.
"I heard a lot about you, I thought we would be good friends,"
"I also. I like anyone who frequency with me," Ucap Cleyrin.
"Nct!!" ucap keduanya bersamaan. Mereka melongo terkejut mendengar ucapan yang bersamaan itu. Pertemuan ini seperti takdir yang di inginkan.
"My bias is Haechan but I wish I had a boyfriend like a Jaemin but my ideal is Mark,haha" Cleyrin kembali berucap sampai mereka tidak sadar jika tangan mereka masih saling bertautan.
"Wow! I like it!! My bias is Jaehyun but my type ideal is Lucas. I really love Nct,they are my home," Katanya.
"Sudah-sudah,tangan nya dilepas kali, baru aja ketemu udah kayak Romeo and Juliet. Lebay!" Karyne menyadarkan keduanya. Merasa Acuh, Cleyrin dan Alleen kembali mengobrol,banyak hal yang mereka bagi, seakan mereka sudah pernah kenal sebelumnya. Begitulah jika KPop fans dipertemukan.
"Yaudah, nanti main ke rumah gue yuk," Ajak Alleen.
Cleyrin menggeleng. "Kalau hari ini gue ga bisa," Tolak Cleyrin. "Gimana kalau Minggu aja?" Tawar Cleyrin memberi saran.
Alleen mengangguk setuju. "Its okey. Akhirnya gue punya teman nyata yang sefandom, hehehe" Kekeh Alleen senang.
*******
"Aku ga bermaksud menyembunyikan apa-apa sama kamu. Itu juga bukan hal yang penting, jadi ga perlu juga kan untuk kamu tahu?"
"Tapi Clay--"
"Apa!! Kamu kenapa sih? Emang untuk apa kamu tahu? Itu ga penting kan. Ga semua tentang aku, kamu harus tahu termasuk kalau aku mempunyai saudara kembar. Atau jangan-jangan kam--"
"Kok kamu jadi marah-marah?" Darel tak habis pikir padahal tadi Darel bertanya dengan baik-baik saja tapi gadis itu langsung marah. Bahkan tidak mengijinkan Darel berbicara seuntai kalimat lengkap seolah perbincangan mereka ini adalah hal yang sensitif untuk Clayrin.
"Aku memang ga berhak tahu semuanya tentang kamu, aku ga berhak tahu apapun itu yang bersangkutan tentang kamu," Ucap Darel datar tidak memperpanjang masalah, wajahnya bahkan tidak berekspresi lagi.
"Aku cuman nanya, kamu punya saudara kembar atau tidak tapi kamu langsung marah-marah ga jelas. Aku salah dimana Clayrin? Yaudah maaf kalau hal ini aku pertanyakan," Ucap Darel.
"Kamu salah! Kamu salah dengan pertanyaan itu. Aku ga suka," Jawab Clayrin lantang. "Aku ga mau kamu tahu kalau aku punya kembaran. Aku ga mau kamu mikirin orang lain selain Aku,ak--"
"Jadi maksud kamu, aku mikirin kembaran kamu terus kalau aku kenal sama dia? Oooo atau kamu takut aku jadi suka sama kembaran kamu kalau aku tahu kamu punya kembaran?" Darel menghela nafas berat lalu menatap ke lain arah. Dia tidak mengerti bagaimana pola pikir pacar nya itu.
"Makin lama kamu itu aneh tau nggak! Aku ga ngerti lagi sama apa yang ada di otak kamu itu!" Darel kembali menatapnya,melintas pergi meninggalkan Clayrin daripada masalah mereka semakin panjang.
Clayrin menatap punggung yang semakin menjauh itu,menggaruk kepalanya kasar. Sekarang Clayrin menyesal dengan kelakuannya barusan, entah kenapa dia bisa bertingkah sebodoh itu.
Hal itu sama saja kalau dia tidak percaya pada Darel padahal Darel hanya ingin tahu kenapa Clayrin harus menutupi hal ini padanya. Bukankah cukup sederhana jika berakhir sebagai perdebatan?
******
Mungkinkah tidak bertemu selama enam bulan gadis itu langsung berubah? Ini bukan setengah dari seratus tapi ini sudah hampir menuju angka dominan.
Caranya berbicara, rambutnya, tingkahnya, kelakuannya dan yang terakhir caranya memandang. Dia bukan orang yang sama seperti beberapa bulan yang lalu.
"Sejak kapan Clayrin begitu?"
Ketiganya mengangguk tidak tahu,sama seperti Carel, mereka juga tidak tahu itu.
"Kalian ga tahu?" Carel menatap intens.
"Kita ga tau lah!! kita ga pernah keluar lagi. Terakhir juga waktu Lo masih ada disini," Cakra membuka suara.
"Beberapa hari yang lalu gue ketemu sama Clayrin di perpustakaan, masih seperti biasanya. Tidak ada yang berubah,gue jadi binggung sumpah," Marva menatap ke langit-langit, seolah mencari jawaban disana.
"Atau jangan-jangan---" Seseorang yang berada di sudut ruangan menghentikan ucapannya. Enam mata menatap nya serius, menunggu ucapan selanjutnya.
"Clayrin lupa ingatan terus berubah menjadi Clayrin yang kasar, dingin,cuek dan barbar. Bukan lagi Clayrin yang soft, baik hati,suka meno--"
"Sekali lagi Lo ngomong, Gue bunuh Lo" Ancam Cakra kesal.
Ucapan Dafa barusan tidak masuk akal. Ingin rasanya mereka mencampakkan anak itu sekarang dari atas sini.
"Cari tahu tentang dia,"
Perintah itu membuat mereka terdiam. Carel beranjak dari tempatnya, meninggalkan koridor dengan pikiran yang sedikit kacau.