Because you will never know, how strong and how much a person does to get out of his slump~Hidden
"Kalau jalan pake mata dong!" Bentak Cleyrin keras padahal sudah cukup jelas bahwa gadis itulah yang tidak berhati-hati dalam berjalan sehingga menabrak seseorang didepannya.
Menghindari Shery dan Karyne,Cleyrin berlari kencang, sesekali melihat kebelakang apakah kedua sahabatnya itu ada di sana, sampai akhirnya Cleyrin menabrak seseorang didepannya dengan cukup tidak senonoh.
Cleyrin menatap sinis terhadap orang itu. "Apa Lo lihat-lihat?" Ucapnya tidak senang. "Sekali lagi gue ingetin sama Lo, KALAU JALAN ITU PAKE MATA SEKALIGUS GUNAKAN TUH KAKI LO!!" Wajah nya dibuat seseram mungkin sebelum akhirnya pergi,gadis itu menubruk bahu sang korban dengan sangat tidak sopan dan minim akhlak.
Cowok bertubuh tinggi yang tadi Cleyrin sengol hanya diam saja. Merasa dipermainkan di dalam situasi ini, sebelum akhirnya dia bisa membuka suara, gadis itu sudah pergi lebih dulu. Perasaan dia berjalan baik-baik saja tadi namun gadis itu saja yang berjalan seperti orang kesetanan dan akhirnya menabraknya.
Bukan nya minta maaf,dia malah marah-marah. Bahkan buku-buku yang sudah jatuh akibat ulahnya tadi, dipijak tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Hanya saja--- Kenapa gadisnya bersikap seperti itu padanya?
Bukankah tidak ada masalah yang terjadi dalam satu hari ini diantara mereka?
******
Setelah menyelesaikan tugasnya di ruang OSIS, Darel sang ketua OSIS dengan cepat menyusun barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan OSIS.
Pertukaran pelajar yang berlangsung selama enam bulan membuat pekerjaan cowok 18 tahunan itu semakin menumpuk saja, tidak ada istirahatnya. Darel harus bekerja ekstra demi keutuhan masa jabatannya.
Anggota OSIS tidak melakukan pekerjaan dengan benar, terpaksa Darel harus turun tangan mengatasi semua kekacauan yang terjadi, walau fisik nya masih terbilang sangat lelah setelah berjuang di negara orang.
Sedari perasaan Darel tidak tenang,pikirannya sangat kacau. Darel tidak akan tenang sebelum meluruskan semuanya kepada gadisnya,sekarang yang ada di otak Darel hanya gadisnya, Clayrin.
*****
"Gue pulang duluan ya, Clayrin. Papa udah jemput gue,takutnya nanti marah kalau gue kelamaan," Pamit Celsie sambil menyusun buku-bukunya kemudian mencium pipi Clayrin dengan gerakan cepat. "See you baby,gue balik duluan," Ucapnya.
Setelah kepergian Celsie,kini hanya ada Noela dan Clayrin. Kedua gadis itu berdiri di depan koridor menatap luas pemandangan sekolah, kelasnya yang berada dilantai tiga memungkinkan mereka melihat pemandangan sekolah dengan tenang dan nyaman.
Noela memasukkan novelnya ke dalam tas. "Gapapa nih di tinggal?" Tanyanya untuk kesekian kalinya. Dengan jawaban yang sama, Clayrin hanya mengangguk mengiyakan. Pandangan tetap lurus ke depan, menikmati hembusan angin yang menyejukkan. Gadis itu tersenyum hangat, "Pulang saja,gue nunggu Darel disini," Ucapnya.
Noela menghela nafas berat. "Pacar Lo kemana sih,lama banget!! Jangan bilang dia lupa, terus dia---"
"Enggak kok,Darel udah janji, mau pulang bareng sama aku, Darel ga mungkin lupa. Noela ga boleh berburuk sangka terus sama Darel," Dengan polosnya Clayrin memotong ucapan Noela.
"Kamu pulang duluan aja,sekolah juga belum sepi-sepi banget kok,ga usah khawatir. Aku bisa jaga diri," Sambung Clayrin memberi saran.
"Yaudah deh, nanti kabari aku kalau kamu udah sampai rumah," Pasrah Noela. Sahabatnya yang satu ini sangat polos mudah percaya dan jarang sakit hati, walau sering disakiti. Noela sampai bingung terbuat dari apa hati seseorang Clayrin ini, begitu mudah percaya dan terkesan tidak berpendirian.
Sebagai contohnya, Darel sang kekasih sudah sering lupa dengannya sehingga tak jarang mengingkari janji mereka mengingat dia adalah ketua OSIS, tentu saja sangat sibuk.
Beberapa kali membuat janji, tapi tak kunjung di tepati. Beruntunglah Darel mempunyai pacar setulus Clayrin. Mereka bahkan terbilang tidak pernah bertengkar, antara Clayrin yang memang sangat bucin atau Darel yang sangat beruntung mempunyai pacar seperti Clayrin.
Andai Clayrin mau,dia bisa mendapatkan sosok yang lebih baik lagi daripada Darel, namun gadis itu begitu tulus akan cintanya sehingga hanya Darel yang ada dihatinya.
Padahal banyak cowok yang mengejar-ngejar gadis itu, tapi entah pelet darimana, Clayrin masih tetap setia. Bahkan selama pertukaran pelajar, Clayrin masih setia menunggu. Yang membuat Noela kesal bukan main,bukan karena sifat Darel yang tidak pernah bisa menepati janjinya tapi kelakuan Clayrin yang seakan bertumpu pada kekasihnya itu.
∆∆∆
"Sama-sama," Clayrin melambaikan tangannya pada gadis yang baru saja meminta tolong padanya. Dengan senang hati, Clayrin membantunya. Mendengar suara yang tidak asing ditelinga ya, dengan cepat Clayrin mengakhiri perbincangan mereka.
"Sayang,maaf nung---"
"Gapapa kok,kita pulang aja yuk. Sekalian aku mau beli es krim,hehe." Clayrin menarik tangan Darel pergi dari tempat itu.
Aneh. Hanya itu yang ada dipikiran Darel saat ini. Bukankah tadi siang mereka bertengkar? Kenapa sifat Clayrin kembali berubah, seakan melupakan permasalahan mereka tadi.
Tidak mungkin jika Clayrin lupa, tapi memang mereka tidak mempunyai masalah sebelumnya. Tapi kejadian tadi--- ah Darel jadi bingung sendiri.
"Sayang kamu gapapa kan?" Tanya Darel memastikan.
"Emangnya aku kenapa?" Clayrin balik bertanya. Merasa binggung atas pertanyaan tiba-tiba Darel.
Darel menghentikan langkahnya,di ikuti oleh Clayrin yang semakin menatapnya aneh. "Kenapa sih? Nanti kedai es krim nya tutup lho, aku mau makan es krim,"
"Maaf,"
"Hah? Untuk apa?" Clayrin sedikit berjinjit untuk meraih kening sang pacar. "Kamu gak sakit kan? Minta maaf kenapa hah!!"
Darel menautkan alisnya,keadaan semakin ambigu saja diantara mereka.
"Tadi siang kamu marah-marah gak jelas sama aku. Padahal tadi pagi kita baik-baik saja kan? Makanya aku mau memastikan,kamu ga marah lagi kan sama aku?"
Clayrin terdiam cukup lama mendengar penuturan Darel. Tadinya Clayrin ingin menjawab, seketika otaknya langsung berpikir dengan cepat.
Itu pasti Cleyrin. Siapa lagi kalau bukan Cleyrin? Apalagi seharian ini Clayrin hanya menghabiskan waktu di kelas dan jika bertemu pun, untuk apa dia marah-marah dengan seseorang yang berstatus sebagai pacarnya?
Bagaimanapun pasti itu Cleyrin, kembarannya itu bertingkah lagi.
"Udah lupain aja,kita pulang aja yuk," Clayrin mengalihkan pembicaraan.
******
Setelah menunggu lama, hujan tak kunjung berhenti. Cleyrin memarkirkan motornya di sebrang jalan kemudian berlari menuju halte.
Berulang kali mengeluh tidak mengubah apapun. Hujan masih terus turun membasahi bumi. Setelah izin tidak dapat bekerja di toko buku hari ini, bersamaan dengan itu ponsel gadis itu mati.
Bukan nya Cleyrin malas untuk bekerja hari ini, tapi waktunya tidak tepat lagi. Semua itu karena orang gila yang mencari masalah padanya tadi, yang akhirnya membawa mereka ke ruang BK.
Kalau tentang hujan sendiri, Cleyrin benci hujan. Cleyrin tidak menyukai hujan, baginya hujan adalah neraka.
Banyak kejadian yang membuat Cleyrin semakin trauma hingga akhirnya, sampai detik ini sebisa mungkin Cleyrin menjauh dari yang namanya hujan.
"Lo tau nggak! Gue benci sama Lo, tolong berhenti sebelum gue semakin benci sama Lo!!" Pandangan gadis itu lurus ke depan. Hoodie hijau yang dia kenakan seakan tidak berarti lagi. Dingin, sangat dingin. Cleyrin benci itu.
"Mama Cleyrin mau makan,"
"Makan sendiri ya,Mama harus jaga kak Clayrin dulu,"
"Clayrin makannya selalu saja disuapin sama Mama. Kenapa Cleyrin makan sendiri? Kenapa ga di suapin juga?"
"Cleyrin udah gede, jadi udah boleh makan sendiri,
∆∆∆∆
"Kenapa main hujan huh? Nanti kamu sakit," Bentak seorang wanita.
"Cleyrin juga mau sakit, biar disuapin makan sama kayak Clayrin,"
"Bodoh! Sana pergi mandi. Mama ga akan ngasih kamu uang jajan nanti,"
"Clayrin juga main hujan kemarin, makanya dia sakit. Cleyrin juga mau sakit"
"DIAM!!"
"Sampai saat ini Cleyrin masih bingung, kenapa kita diberi perbedaan yang cukup mendasar. Apa gue punya salah sama Lo? Atau karena gue tidak pernah diharapkan sebelumnya?"
Menunggu lama tidak ada perubahan dengan sangat emosi atas overthinking barusan,Cleyrin beranjak dari tempatnya. Mengabaikan helm,gadis itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Rambut panjangnya diterpa angin kencang bersamaan dengan hujan deras. Tidak peduli, cemoohan para pengendara lain terhadapnya.
Dari arah yang berbeda, seseorang menatap nya terkejut, sangat terkejut. Dengan cepat berputar arah dan mengikut dari belakang.
Seakan berada di arena balap, keduanya saling menunjukan kehebatannya dalam mengendarai motor. Hingga akhirnya--
Brum.....
Bram....
"Maksud Lo apa huh? Nantangin gue loh?" Cleyrin menarik kerah baju orang yang hampir saja membunuh nya dengan beberapa kali ingin memotong jalan Cleyrin.
Hampir saja dia jatuh bersama dengan motornya jika Cleyrin tidak dengan cepat menahan dengan kedua kakinya, Cleyrin menarik mundur motornya tanpa aba-aba.
Cowok itu membuka helmnya berlahan. Tatapannya tetap datar, turun dari motornya berhadapan dengan gadis yang tengah menatap nya kesal.
"Sejak kapan kamu bawa motor? Ka---"
"Hah? Kamu? Emang kita kenal? Gila nih orang!!" Cleyrin tersenyum remeh,cowok gila itu bertingkah seolah mereka pernah kenal.
"Maksud kamu?" Cowok itu balik bertanya bingung.
Cleyrin kembali menatap nya. Matanya di sipit kan, tangan nya menyilang didepan d**a. "Lo gila? Gue yang lupa atau Lo yang ga waras. GUE GA KENAL SAMA LO, INTINYA LO HARUS MINTA MAAF SAMA GUE, KARENA LO HAMPIR SAJA MENCABUT NYAW---"
Ucapannya terhenti,mendekatkan wajahnya menatap cowok itu lekat, cowok itu sekarang hanya diam tidak berkutik. "Jangan-jangan...."
"Oke bye! Lupain,Lo bebas hari ini," Cleyrin mengakhiri. Baru saja gadis itu berbalik, tangan besar itu menarik lengannya,hingga berhadapan kembali padanya. Cleyrin menepis tangan itu Cepat. "Mau Lo apa sih?"
"Pulang,"
Cowok itu menariknya, Cleyrin berusaha melepaskan tangannya tapi kekuatan di antara keduanya terbilang cukup jauh berbeda.
"Gue bukan Clayrin, Lo salah orang," umpat Cleyrin.
Keduanya berhenti,Darel yang awalnya membelakangi gadis itu dengan cepat berbalik. Menatap tanpa berkedip sedikitpun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada yang berbeda. "Mak--"
"Gue Cleyrin," ucap Cleyrin malas-malasan.
Darel melepaskan tautan tangan nya,menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seharian ini sepertinya dia sudah berubah menjadi orang gila. Kejadian-kejadian aneh membuat otak nya berpikir lebih keras. Apa ini efek dari kelelahan? Darel merasa bahwa dirinya sedang berhalusinasi saat ini.
Darel menatap gadis didepannya itu,mencari celah di antara nya tapi tidak dia temukan.
"Tidak mungkin" Batinnya.
"Kasihan ya," gadis itu berucap. "Gadis yang Lo cintai aja ga bisa jujur sama Lo," Tambah nya.
"Jadi Lo?" Cleyrin menyipitkan matanya. Seperti yang cowok itu lakukan, Cleyrin juga menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Tidak buruk,haha." Ucap Cleyrin meremehkan.
"Clayrin kam---'
"Gue bukan Clayrin!" Cleyrin memotong ucapan Darel lagi. Benar-benar muak mendengar nama itu. "Gue Cleyrin bukan Clayrin cewek Lo!"
"Kamu ngomong ap---"
"Kita kembar,"
Deg....
Jantung cowok itu hampir saja berpindah ke dengkul. Merasa tidak percaya dengan ucapan Cleyrin, gadis yang sekarang tersenyum jengkel menatap nya.
"Sebenarnya gue juga gya mau Lo tahu,sama seperti dia yang ga pernah ngasih tahu Lo. Gue juga ga bangga atau senang, intinya gue juga ga mau terlahir memiliki wajah yang sama seperti nya,kal--
"Clayrin,ak__"
"Lo ngerti ga!! Gue ini Cleyrin bukan Clayrin!! Lemes bener mulut nih orang ngomong," Sekarang Cleyrin benar-benar sangat kesal,sebegitu mirip kah dia dengan Clayrin? padahal Cleyrin sudah membuat tanda sebagai pembeda antara dirinya dan Clayrin.
Cleyrin kembali teringat, rambutnya yang bergelombang telah kembali seperti semula karena terkena air hujan. Pantas saja, tapi masih ada satu lagi yaitu. "Oh iya!!" Cleyrin bersemangat, menemukan ide yang tepat.
Cleyrin berjalan mendekati Darel,menepis jarak di antara keduanya. Gadis itu tersenyum lebar disana, sangat lebar. Kemudian menarik wajahnya kembali.
"Lo udah percaya kan?" Alisnya terangkat. Tak menyia-nyiakan waktu, Cleyrin langsung pergi dari tempat itu. Meninggalkan Darel dalam kebodohan.
"Lesung Pipit,"