Sepasang mata Ashraf dan Yasmin saling beradu pandangan, meski dalam diam tanpa obrolan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kamu cantik," puji Ashraf. Hidung Yasmin mendadak kembang kempis pipinya merah merona dan ia mengalihkan pandangannya. "Simpan pujian itu untuk istri keduamu nanti, Mas." "Sebelum pada Sania, aku ingin mengatakan kalimat cinta padamu, Sayang. Aku sangat mencintaimu, Yasmin." "Aku tahu, Mas. Gih lekas datangi Sania. Kasihan jika disuruh menunggu terlalu lama." Bibir Ashraf terkatup rapat, enggan rasanya beranjak karena sudah nyaman bersama dengan Yasmin. Di kamar lain, Sania pasti menantikan kehadirannya. "Iya, Sayang. Kamu tidurlah. Nak ... Abi titip pesan, jaga Umi, ya," bisik Ashraf mengecup perut rata Yasmin. Siapa yang tidak terkesima dibuatnya.

