Yasmin hanya bisa diam, bersamaan dengan suami dan sahabatnya yang ikut serta di meja makan pagi ini. Kelak, dia harus terbiasa karena Sania akan terus berada di dekatnya. Kata-kata Sania sebagai seorang teman tak lagi dihiraukan atau bahkan dipercayakan. Logikanya, memang ada seorang teman yang menusuk dari belakang? Apapun alasannya, tetap saja Yasmin tak bisa mentolelir. Siapa yang sudi, jika harus berbagi. Hanya karena dirinya dianggap paham agama, malah dinilai semena-mena. "Mas ingin membicarakan hal penting. Menurutku, harus sesuai kesepakatan kita," ujar Ashraf, setelah diam sekian detik. Netra kecoklatannya menatap kepada Yasmin dan Sania secara bergantian. "Silahkan," sahut Yasmin sekenanya. Hilang selera untuk berinteraksi dengan mereka. Setelah apa yang mereka lakukan, Ya

