Yasmin hanya bisa tersenyum kecut, melihat kepergian suami dan madunya usai berpamitan pada kedua orang tuanya. Ia menyandarkan tubuh di ambang pintu, sembari merasakan hatinya teriris belati tajam. Melihat kebahagiaan yang dirasakan sepasang pengantin baru, hari Yasmin jadi makin kelabu dan tak menentu. "Neng ... kamu lagi ngapain di luar? Ayo masuk!" Suara sang ibunda membuyarkan lamunan. Hj. Nur duduk di kursi roda, sembari menatap ke arah Yasmin yang berusaha menahan tangisan. Meski tidak bercerita, sebagai seorang ibu dan wanita, ia paham bagaimana perasaan anak semata wayangnya. "Kenapa nggak nunggu Yasmin, Mi? Umi harus banyak istirahat," ujar Yasmin, mendorong kursi roda itu ke ruang tamu untuk bersantai. "Ah, maaf, Sayang. Umi terlalu semangat dengan kehadiran anak Umi ini,"

