“Akhirnya selesai semua,” ucap Jeslyn sembari mengelap tangannya dengan handuk kecil. Ia membantu Nico dan Livia membereskan semua barang-barang yang sudah dibersihkan dari meja-meja pengunjung. “Iya, Kak. Hari ini ramai sekali pengunjung,” ujar Nico sambil menarik napas panjang, lalu bersandar di dinding dapur kecil mereka. Peluh masih membasahi pelipisnya, tanda hari itu benar-benar sibuk. “Apa ini ada kaitannya sama Kakak ipar Kak Jeslyn?” celetuk Livia membuat Nico menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan bingung. Jeslyn langsung mengernyitkan dahinya. Ia menghentikan gerakannya, menoleh tajam. “Maksudmu?” Nada suaranya terdengar datar, tapi jelas ada nada kesal yang tak bisa disembunyikan. Livia mengangkat kedua tangannya, seperti membela diri. “Ya, dia seperti penglaris gitu. Dia

