Bab 1 Panggung Terakhir
Lampu-lampu sorot memantul di atas runway, berputar seperti bintang-bintang yang jatuh satu per satu. Seluruh ruangan memantulkan kemewahan, musik elektronik bergema, kamera-kamera berderet dengan kilatan yang membutakan, dan penonton VIP duduk rapi di baris utama.
Di tengah riuh itu, Alea Maheswari berdiri di belakang panggung dengan nafas tertahan. Tangan kirinya meremas kain gaun berpotongan asimetris berwarna pualam, karya desainer besar yang sudah tiga kali memintanya menjadi muse.
“Ready, Alea?” ujar seorang kru sambil mengintip ke arah runway.
Alea mengangguk, meski jantungnya berdetak terlalu keras untuk sekedar disebut siap. Fashion show malam itu adalah highlight dari musim ini, tempat di mana kariernya, yang naik cepat dalam dua tahun terakhir, akan benar-benar diuji.
Satu langkah salah bisa viral. Satu pose buruk bisa jadi bahan gosip keesokan paginya.
Ketika musik berubah, kru memberi isyarat. Alea menarik nafas panjang, menyibakkan rambutnya yang disanggul rapi, lalu melangkah ke panggung.
***
Sorak tepuk tangan menyambutnya. Alea berjalan mantap di atas runway dengan sorot mata yang dingin namun elegan. Dia tahu setiap sudut kamera, setiap titik cahaya di mana ia harus memutar badan, setiap detik ketika ujung dagunya harus sedikit naik agar sudut wajahnya tampil sempurna.
Di barisan depan, ia melihat beberapa editor majalah mode mengangguk puas. Dahinya langsung terasa hangat, bangga, lega, tapi juga sedikit terharu.
Pada detik itu, ia benar-benar percaya bahwa semua kerja kerasnya akan terbayar. Mungkin, ini langkah menuju panggung-panggung yang lebih besar.
Ketika ia sampai di ujung runway, Alea memutar badan dengan luwes, rok gaunnya melambai sempurna. Kamera meledak dalam rentetan kilat. Dia tersenyum tipis, dan ketika ia kembali ke belakang panggung, beberapa model lain menepuknya.
“Perfect as always,” kata Mona, sesama model yang sudah cukup lama ia kenal.
Alea tertawa kecil.
“Semoga begitu,” jawabnya.
Namun sebelum ia sempat melepas sepatu hak tingginya, ponselnya bergetar di dalam loker. Notifikasi masuk bertubi-tubi. Grup keluarga, grup manajemen, pesan dari nomor tak dikenal.
Alea mengerutkan kening. Ia membuka satu pesan dari sahabatnya, Zara.
“Lea… buka berita. Sekarang!!”
Ada firasat buruk menyergap, merayap dari tulang belakang ke tengkuknya. Dengan tangan gemetar, ia membuka link yang dikirim Zara.
Headline besar muncul.
‘PENGUSAHA MAHESA PUTRA MAHESWARI, AYAH MODEL ALEA, DITANGKAP DALAM KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN.’
Dunia Alea runtuh hanya dalam satu tarikan nafas.
Pada layar, video ayahnya digiring aparat ke dalam mobil tahanan. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan suara reporter saling tumpang tindih. Korupsi besar, kerugian negara, suap pejabat, terkait pendanaan perusahaan keluarga.
“Gak mungkin…” Alea memegang mulutnya, tubuhnya bergetar hebat.
Suara sekitar menghilang. Musik panggung sayup-sayup menghilang. Yang terdengar hanyalah gema jantungnya sendiri.
Beberapa kru mulai berbisik melihat teleponnya. Beberapa model melirik layar ponselnya, lalu saling tatap penuh simpati.
“Lea… aku…” Mona mendekat, tapi Alea mundur satu langkah.
“Aku harus pergi,” ucap Alea terburu-buru.
Ia menutup ponselnya dan tanpa menunggu pergantian busana, ia mengambil tasnya lalu berlari keluar dari venue. Udara malam yang dingin menampar wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan kepanikan dalam dadanya.
***
Keesokan paginya dunia semakin kejam padanya.
Media sudah menyebut namanya. Foto-fotonya di runway malam itu dipadukan dengan berita penangkapan ayahnya. Dan yang lebih buruk, brand-brand besar mulai mengirim pesan ke manajernya, satu per satu membatalkan kerja sama.
“Alea… mereka mau jaga jarak dulu,” ujar manajernya dengan suara pelan lewat telepon.
“Maafkan aku. Tapi situasinya sedang buruk,” ucapnya lagi.
Alea menggigit bibir bawahnya.
“Aku tahu,” jawabnya.
Reputasi di industri fashion adalah kaca. Mahal, cantik, dan hancur dalam sekali ketukan.
Dengan langkah berat, ia pulang ke rumah. Di depan pagar, deretan mobil media sudah menunggu. Alea turun dari taksi sambil menutupi wajahnya dengan syal, menembus kerumunan wartawan yang berteriak-teriak bertanya.
“Alea! Apakah kamu tahu soal kasus ayahmu?”
“Apa benar perusahaan keluarga terlibat pencucian uang?”
“Apa kariermu akan berhenti disini?”
Alea menunduk, menahan nafas, mendorong pintu pagar dan masuk tanpa menjawab sepatah kata pun.
Rumah itu biasanya hangat. Namun hari itu, rumah itu seperti reruntuhan.
Ibunya, Rahma Wulandari, duduk di ruang tamu dengan mata sembab. Rambutnya yang selalu rapi kini berantakan, wajahnya pucat dan tampak lebih tua hanya dengan waktu semalam.
“Alea…” suaranya serak.
Alea segera memeluknya. Ibunya menangis keras dalam pelukannya.
“Kita… harus kuat, Ma,” bisik Alea, meski dirinya sendiri hampir tak punya tenaga untuk berdiri.
“Papa pasti membutuhkan kita,” ucapnya lagi.
Namun ibunya hanya menggeleng lemah. “Kita kehilangan semuanya, Lea. Aset dibekukan, perusahaan disita… keluarga besar mulai menjauh,” ucapnya dengan nada serak yang memilukan hati.
Alea menutup mata. Ia tahu sebagian besar keluarga memang tidak pernah benar-benar peduli. Mereka hanya peduli pada reputasi.
Sampai ketika pintu diketuk.
Seorang pria paruh baya, kerabat jauh dari pihak ayahnya, Niko, masuk bersama putrinya. Alea tak terlalu dekat dengan mereka, namun ia tahu keduanya memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Naradipa, salah satu konglomerat yang amat berpengaruh.
Niko duduk tanpa banyak basa-basi.
“Aku turut prihatin,” katanya, meski nada suaranya datar.
“Tapi kalian harus tahu… skandal ini akan menyulitkan hidup kalian, bahkan setelah kasusnya selesai. Nama kalian akan tetap tercemar,” lanjutnya.
Ibu Alea menunduk dalam-dalam. Sementara Alea menggenggam tangannya.
Niko menatap Alea lama.
“Ada satu cara untuk menyelamatkan reputasimu, dan juga masa depan Alea,” ucapnya.
Alea menahan nafas. Ibu menatapnya dengan mata merah.
“Apa itu?” tanya Rahma.
Niko menyandarkan punggung.
“Keluarga besar Naradipa bersedia memberikan perlindungan dan dukungan. Asal… Alea bersedia menikah dengan putra keluarga Naradipa, Adrian.” ucapnya.
Nama itu terdengar berdenting seperti logam dingin di telinga Alea. ‘Adrian Naradipa’.
Pria yang pernah ia dengar hanya melalui cerita. Dingin, misterius, jarang tampil di publik, calon pewaris perusahaan raksasa. Dan yang lebih membuatnya bergidik, seorang pria yang reputasinya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.
“A… Aku?” Alea memandang mereka dengan mata melebar.
“Menikah? Dengan seseorang yang bahkan tidak kukenal?” ucapnya lagi.
“Itu bukan pernikahan selamanya,” ujar Niko santai, seolah membicarakan transaksi bisnis biasa.
“Hanya kontrak sosial untuk memulihkan nama keluarga kalian. Setelah situasi stabil, kalian bisa urus sisanya,” ucapnya.
Rahma mengguncang kepalanya.
“Ini gila! Niko ini…”
“Tidak ada pilihan lain,” potong Niko.
“Jika tidak… kalian akan terpuruk seperti keluarga lain yang pernah terseret kasus seperti ini. Khususnya Alea, karirnya bisa saja berakhir," ucapnya lagi.
Alea terdiam.
Kata karirnya berakhir menusuk lebih dalam daripada semuanya.
Ia memandang ibunya yang menangis. Rumah mereka yang kini hampa. Nama ayahnya yang tercoreng. Hidupnya yang semalam masih bersinar kini gelap total.
Semua pintu tertutup, kecuali satu.
“Pikirkan baik-baik,” ujar Niko.
“Adrian bisa jadi jalan keluar untuk kalian,” lanjutnya.
Alea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
“Berikan aku waktu… sampai besok,” ucapnya.
Niko mengangguk, lalu pergi.
Setelah pintu tertutup, ibunya memegang tangan Alea erat-erat.
“Lea… kamu tidak perlu melakukan ini demi keluarga kita,” ucapnya.
Alea memandang mata ibunya yang penuh ketakutan. Dan ia tahu, seberapa pun ibunya mencoba terlihat kuat, ia sedang runtuh. Dunia mereka saat ini tidak baik-baik saja.
***
Dan malam itu, Alea duduk di kamarnya sambil memandang ke arah cermin. Bayangan di depannya bukan lagi gadis yang semalam berjalan anggun di runway. Ia tampak rapuh, linglung, dan terjebak.
“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya.
Ia tahu jawabannya. Bahkan sebelum pertanyaan itu selesai terucap.
Ketika dunia sudah menutup pintu, kadang pilihan yang tersisa bukanlah pilihan yang diinginkan, melainkan yang diperlukan.
Dan di detik itu, Alea menyadari.
‘Panggung tadi malam mungkin benar-benar panggung terakhirnya’.