Pagi itu langit Jakarta masih abu-abu ketika Adrian Naradipa melangkah keluar dari mobil hitam yang berhenti tepat di depan gedung Naradipa Grup. Gedung itu menjulang seperti dinding kaca yang ingin menelan siapapun yang berdiri di depannya. Simbol kekuasaan, uang, dan intrik yang tak pernah berhenti berputar.
Adrian tidak menghiraukan para pegawai yang memberi hormat. Dengan langkah panjang dan ritme yang tenang, ia menuju lift khusus di lantai dasar. Nafasnya teratur, wajahnya datar, dan ekspresinya tak memberikan celah sedikitpun untuk bisa ditebak.
Begitulah Adrian Naradipa, pria yang tak pernah memberi tahu dunia apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Ketika lift terbuka di lantai 52, lantai rapat direksi. Aroma kopi premium dan parfum mahal menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Namun suasana di dalamnya tidak seramah suasana bisnis, lebih seperti arena gladiator yang diselimuti formalitas.
Para direksi sudah duduk. Beberapa menatapnya dengan sopan. Beberapa lagi, terutama Maya dan Nadine memberi tatapan yang terlalu manis untuk dianggap tulus.
“Selamat pagi, Adrian,” sapa Maya, suara lembut namun penuh kalkulasi.
Wanita itu mengenakan blouse ivory dan blazer yang menunjukkan d******i halus, rambutnya terikat rapi.
“Kita mulai beberapa menit lagi,” ucapnya lagi.
“Baik,” jawab Adrian singkat sambil menarik kursi di ujung meja.
Di samping Maya, Nadine, tante Adrian yang selalu berusaha menguasai setiap ruang melemparkan senyum tipis yang terlihat seperti ancaman bersayap.
“Dengar-dengar, dewan ingin mengajukan evaluasi posisi CEO?” tanya Nadine tiba-tiba, nada suaranya manis tapi beracun.
Beberapa direktur meliriknya, bingung apakah itu gurauan atau provokasi.
Adrian menutup berkas tanpa menatapnya.
“Kalau kau dengar dari gosip, seharusnya kau sudah tahu kualitas informasimu seperti apa,” ucapnya datar.
Senyum Nadine mati di tempat. Maya menahan tawa kecil. Dan ketegangan langsung terasa.
***
Beberapa menit kemudian rapat dimulai.
Angka-angka, grafik, proyeksi. Adrian memimpin dengan perhitungan tajam, hampir tanpa jeda, tanpa celah. Ia mengoreksi laporan keuangan dengan cepat, mempertanyakan strategi yang tidak efisien, dan mengarahkan rencana ekspansi dengan detail yang membuat beberapa direktur diam seribu bahasa.
Ia bukan hanya CEO karena nama keluarga. Ia CEO karena kecerdasan dan ketegasannya mengintimidasi ruangan. Tapi tentu itu bukan berarti posisinya akan aman.
Ketika Adrian selesai menyampaikan laporan, Maya menyela seakan hanya suatu kebetulan.
“Ada hal yang ingin saya utarakan,” ujarnya sambil tersenyum diplomatis.
“Beberapa investor, mempertanyakan stabilitas perusahaan karena status keluarga Naradipa yang masih belum memiliki penerus generasi baru,” ujarnya lagi.
Kalimat itu memicu bisik-bisik kecil diantara mereka yang ada di ruangan itu.
Nadine menambahkan dengan nada polos yang dibuat-buat.
“Ya, apalagi banyak perusahaan kompetitor sudah mulai memperkuat citra keluarga. Adrian… kau satu-satunya pewaris. Investor ingin melihat kepastian jangka panjang,” ucapnya.
Adrian tahu arah pembicaraan. Mereka berdua, Maya dan Nadine bukan hanya ingin merongrong posisinya sebagai CEO, tapi juga ingin memaksa ia membuka celah pengaruh keluarga di dalam struktur perusahaan.
“Penerus generasi baru?” Adrian mengangkat alis.
“Perusahaan ini berjalan karena otak, bukan karena acara keluarga,” ucapnya. Nada dingin dan datar seakan tak bisa terbantahkan.
“Tapi,” Maya mencondongkan tubuh ke depan.
“Stabilitas adalah bagian dari strategi. Dan… kamu belum menikah,” ucapnya pelan, seperti bisikan.
Hening.
Tentu saja perkataan Maya itu bukan sekadar sindiran. Itu sebuah pukulan yang diarahkan dengan sangat halus. Direksi lain menahan nafas. Beberapa tampak ingin menjauh dari potensi konflik.
Adrian menutup berkas, memandang mereka satu per satu. Tatapan tajam, dan dingin.
“Jika investor mempertanyakan stabilitas karena status pernikahan CEO nya,” katanya pelan namun menusuk.
“Mungkin kita harus mempertanyakan kualitas investor itu bukan?” ucapnya lagi.
Maya tersenyum simpul, tidak tersinggung. Karena tentu saja ini bukan tentang investor. Melainkan ini tentang kekuasaan.
Dan Adrian tahu itu.
***
Setelah rapat selesai, sebagian direksi langsung keluar, sebagian lagi berbisik di pojok ruangan. Maya dan Nadine saling bertukar tatapan, lalu pergi tanpa menunggu Adrian.
Adrian tetap duduk beberapa menit, menatap kota dari balik kaca. Jadi mereka mulai bergerak lebih cepat dari dugaan.
Intrik keluarga Naradipa memang rumit. Banyak tangan ingin menguasai kursi CEO, dan dua diantaranya adalah Maya dan Nadine, telah membangun jaringan investor dan orang dalam selama bertahun-tahun. Adrian selama ini membiarkan mereka bermain, karena ia tahu tak ada yang cukup kuat untuk menjatuhkannya.
Namun pagi ini, ia merasakan ada perubahan udara. Langkah mereka bukan lagi percikan kecil. Ini sudah mendekati bara api.
Saat yang bersamaan, pintu ruangan diketuk pelan.
Adrian menoleh. Seorang pria tua dengan rambut putih rapi masuk perlahan menggunakan tongkat elegan. Ardiwinata Naradipa, kakeknya.
Wibawanya masih kuat meski usianya telah menua. Setiap orang otomatis berdiri ketika ia muncul di ruang publik. Tapi Adrian hanya bangkit separuh, sekadar bentuk hormat.
“Kau menyelesaikan rapat terlalu cepat,” ujar Ardiwinata sambil duduk di kursi yang tadi diduduki Maya.
“Biasanya mereka mencoba berdebat lebih lama,” ucapnya lagi.
“Mereka sedang mencoba hal lain,” jawab Adrian.
“Kakek tahu.” Kakeknya tersenyum kecil, senyum yang tak pernah sepenuhnya hangat.
“Maya dan Nadine menghubungi beberapa investor minggu ini. Mencoba menggoyang kursimu,” lanjutnya.
Adrian mengangguk.
“Aku tahu,” jawabnya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya kakek Ardi.
“Mempertahankan posisiku seperti biasa,” jawab Adrian.
Kakeknya mengetuk meja dengan ujung jarinya.
“Masalahnya, Adrian, kali ini mereka bukan hanya ingin menggoyang posisi CEO. Mereka ingin menggoyang legitimasi keluarga kita,” ucapnya.
Adrian mengerutkan kening.
“Apa maksud Kakek?” tanyanya.
Kakek Ardiwinata menarik nafas panjang.
“Kau butuh penguatan posisi keluarga. Ini sudah saatnya kau menikah,” ucapnya kemudian.
Adrian menahan nafas sejenak, lalu menghela perlahan.
“Kakek tahu aku tidak tertarik untuk menikah,” ucapnya datar.
“Dan kakek tidak tertarik kehilangan perusahaan ini jatuh ke tangan orang bodoh,” balas Ardiwinata tanpa ekspresi.
“Adrian, dunia bisnis bukan tempat bagi pria lajang sepertimu. Mereka menganggapmu terlalu bebas, terlalu sulit diatur, dan terlalu sulit diprediksi. Mereka ingin stabilitas. Ekspresi keluarga, dan juga pewaris.” lanjutnya.
Adrian memalingkan wajah.
“Pernikahan bukan solusi bisnis,” jawabnya.
“Untuk keluarga Naradipa? Pernikahan adalah strategi,” balas kakek Ardi.
Hening panjang menyusul. Adrian memijit batang hidungnya.
Ardiwinata melanjutkan, “Aku sudah memilihkan calon.”
Kepala Adrian terangkat cepat, tatapannya tajam.
“Kakek sudah apa?” tanyanya.
“Aku sudah memilih calon wanita untukmu,” Nada suaranya datar, seolah sedang menyebutkan nama vendor bukan calon menantu.
“Gadis dari keluarga baik, reputasinya bersih, sopan, dan bisa memperkuat citra kita,” lanjutnya.
Adrian menatapnya lama, dingin, penuh kecurigaan.
“Siapa dia?” tanyanya kemudian.
“Akan kuberitahu ketika waktunya tepat,” ujar sang kakek tenang.
“Yang pasti, dia adalah bagian dari rencana besar untuk memastikan masa depanmu… dan masa depan perusahaan,” ujarnya lagi.
Adrian merasa ada sesuatu yang tidak diberi tahu. Cara kakeknya berbicara, pilihan katanya, ketenangan yang terlalu tenang, semua membuat nalurinya berbisik bahwa ini bukan sekadar pernikahan politik biasa.
“Apa ini terkait dengan gerakan Maya dan Nadine?” tanya Adrian perlahan.
“Kau akan mengerti nanti,” kakek Ardiwinata bangkit perlahan.
“Tapi kau harus bersiap. Mereka akan terus menyerang. Dan jika kau tidak segera mengamankan posisimu, mereka akan menemukan kelemahanmu,” ucapnya lagi.
“Kelemahan?” ucap Adrian lagi.
Kakeknya menatapnya dengan mata tua yang tajam.
“Kelemahanmu adalah… kau sendirian, Adrian.” ucap kakek Ardi.
Kata-kata itu menggantung di udara. Lambat, dingin, dan benar.
Saat kakek Ardiwinata berjalan keluar, Adrian tetap berdiri mematung, mencerna semuanya. Ia biasanya bisa membaca langkah politik siapapun, tapi kali ini ada celah yang membuatnya tidak nyaman.
Kakek memilihkan calon istri? Keluarga baik? Reputasi bersih?
Terlalu spesifik. Terlalu rapi. Dan terlalu disiapkan.
Ketika pintu rapat tertutup di belakang kakek Ardiwinata, Adrian membiarkan wajah dinginnya retak sedikit. Bukan rapuh, hanya semakin teguh.
Ada permainan besar sedang bergerak.
Dan ia, Adrian Naradipa, tidak akan membiarkan dirinya dijatuhkan begitu saja.
Namun yang belum ia tahu adalah, calon wanita yang dimaksud kakeknya sedang duduk di kamarnya sendiri, memeluk dirinya sambil bertanya apakah ia sanggup menjalani hari esok.
Sebelum hari itu, hidup mereka sama sekali tidak bersentuhan.
Namun takdir atau rencana seseorang sedang menyiapkannya.