Langit sore memancarkan warna tembaga ketika mobil hitam yang menjemput Alea berhenti di depan gerbang besar rumah keluarga Naradipa. Bukan rumah sebenarnya, lebih tepat disebut istana modern dengan dinding tinggi, kamera tersembunyi, dan petugas keamanan yang berjaga di setiap titik.
Pintu dibukakan dari luar. Alea turun perlahan, menyibakkan rambutnya yang digerai sederhana. Ia mengenakan blouse putih dan celana panjang hitam yang memberi kesan profesional, bukan pakaian gadis yang datang memohon pertolongan.
Ia mengangkat dagu sedikit. Setelah beberapa hari pikirannya disibukan dengan pertimbangan seperti antara hidup dan mati, akhirnya Alea memutuskan sesuatu hal yang akan merubah kehidupannya. Mungkin tidak akan sulit, tapi jelas bukan tidak mustahil juga akan banyak masalah baru yang menantinya.
Tapi hanya satu tekan yang tertanam dalam hatinya, ketika dunia ingin melihat kelemahan, yang harus ia tunjukkan adalah ketegakan, bukan rasa putus asa.
Dua petugas membawanya masuk menuju lobi utama. Langkah sepatu mereka terdengar mantap di lantai marmer yang mengkilap. Alea menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan interior megah dengan tatapan tenang.
Seketika, seorang perempuan muda dengan blazer elegan menyambutnya.
“Maya Naradipa,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Alea menjabatnya.
“Alea.”
Maya tersenyum, senyum yang terasa lebih seperti inspeksi.
“Silakan ikut saya. Papa Ardi sedang menunggu,” ucapnya.
Tatapan Maya naik-turun, menilai seluruh penampilan Alea. Ada nada meremehkan yang tak perlu diucapkan untuk dipahami.
Dan Alea? Ia hanya membalas dengan senyum tipis yang sopan. Tidak menyerang, tetapi jelas. Aku tidak datang ke sini untuk dikasihani.
Mereka berjalan menuju ruang pertemuan keluarga.
Saat pintu dibuka, Alea melihat beberapa orang sudah menunggu. Nadine duduk dengan kaki bersilang, memainkan ponselnya. Di ujung meja panjang, Ardiwinata Naradipa duduk tegap, mata tajam, aura menguasai ruangan tanpa perlu kata-kata.
Dan di samping sang kakek, berdiri seorang pria berjas hitam, wajahnya tampan namun juga berbahaya. Tatapannya dingin, seperti mengukur semua orang tanpa emosi, Adrian Naradipa.
Hatinya sempat berdegup, tapi Alea tak menunjukkan apapun.
Ia melangkah masuk.
Dan seketika ruangan itu menjadi saksi pertemuan dua orang yang sama-sama tak mudah tunduk.
***
“Alea,” Ardiwinata menyambutnya dengan suara berat.
“Terima kasih sudah datang,” ucapnya lagi.
Alea memberi hormat ringan.
“Terima kasih sudah menerima saya,” ucapnya sopan.
Adrian tidak bersuara. Ia hanya menatap tajam, memeriksa, tidak ramah, namun tidak benar-benar mengusir.
Alea melirik sejenak ke arahnya. Tatapan mereka bertemu. Dingin bertemu tenang. Keras bertemu teguh.
Dan untuk sesaat, Adrian terlihat sedikit terkejut? Hanya sepersekian detik, sebelum wajahnya kembali datar.
Alea memecah keheningan lebih dulu.
“Sebelum kita masuk ke pembahasan panjang, saya ingin bertanya langsung,” Tatapannya berpindah ke Adrian. Lurus, tanpa keraguan.
“Apa ekspektasi Anda dalam perjodohan ini?” ucapnya tenang, namun juga ada makna ketegasan yang bisa dirasakan oleh Adrian.
Maya langsung menahan nafas, Nadine hampir tersedak air minum, dan bahkan Ardiwinata terangkat alisnya, sedikit terhibur.
Adrian memandang Alea dengan mata gelap tak terbaca.
“Biasanya orang tidak bertanya begitu di awal,” ucapnya dingin dan datar.
“Biasanya orang tidak dijodohkan tanpa persetujuan mereka,” balas Alea tenang.
Hening mendadak mengisi ruangan. Maya menatap Nadine seakan berkata siapa gadis ini?
Alea tetap berdiri tegak. Tidak ada getaran ketakutan. Tidak ada suara yang menurun.
Adrian menyelipkan tangan ke saku jasnya.
“Baik. Jika ingin terus terang, saya hanya meminta dua hal,” ucapnya.
Alea mengangguk.
“Silahkan,” jawabnya.
“Pertama, tidak mencampuri urusan internal perusahaan,” ucap Adrian tegas.
“Itu bukan urusan saya sejak awal,” balas Alea cepat.
Alis Adrian sedikit terangkat. Tidak biasa seseorang merespons secepat itu.
“Kedua,” lanjut Adrian.
“Tidak mengganggu kehidupan pribadi saya,” lanjutnya lagi.
Alea menahan nafas sejenak sebelum menjawab.
“Selama Anda juga tidak mengatur kehidupan saya,” ucapnya.
Suara hening berubah tebal dan tajam.
Nadine mendecak pelan.
“Wah, berani sekali… padahal kau yang butuh bantuan,” ucapnya seolah itu adalah sebuah sarkas.
Alea menoleh. Tatapannya berubah lembut, tapi dingin seperti kaca.
“Saat seseorang terdesak, bukan berarti mereka bisa diperlakukan rendah,” ucap Alea dengan ketenangan yang sarat makna.
Nadine langsung kehilangan kata.
Maya berusaha menyelamatkan situasi dengan senyum sinis.
“Alea, kamu harus tahu… dunia di dalam keluarga kami berbeda. Kamu mungkin akan sulit menyesuaikan diri,” ucapnya.
Alea membalas tatapannya, tidak defensif, hanya tegas.
“Saya tidak berniat menyesuaikan diri dengan hal-hal yang tidak perlu,” jawabnya.
Maya tercekat. Ardiwinata menahan senyum samar di balik tangannya. Kemudian kakek itu angkat bicara, menghentikan ketegangan.
“Sudah cukup,” Suaranya dalam dan tegas.
“Kita berkumpul untuk membicarakan rencana yang sudah ku buat,” ucapnya lagi.
Kini semuanya duduk. Alea mengambil tempat di seberang Adrian. Pria itu duduk dengan punggung tegak, tangan bertaut di atas meja, wajah tanpa emosi. Sesekali ia mencuri pandang, seperti mencoba membaca Alea lebih dalam.
Ardiwinata membuka map merah di depannya.
“Ini kontrak. Pernikahan kalian akan berlangsung selama dua tahun. Setelah itu, terserah apakah ingin dilanjutkan atau dibubarkan,” ucapnya.
Alea menahan nafas, tapi tetap fokus.
“Kalian akan tampil sebagai pasangan yang solid, menjaga citra masing-masing. Alea mendapatkan perlindungan, Adrian mendapatkan stabilitas keluarga dan dukungan untuk mempertahankan posisinya,” lanjut kakek Ardi lagi.
Adrian menoleh perlahan pada kakeknya.
“Kakek bertindak terlalu cepat,” ucapnya.
“Karena ancaman datang terlalu cepat,” balas Ardiwinata tanpa ragu.
“Dan Alea adalah pilihan terbaik,” lanjutnya.
Maya memutar mata.
“Kakek yakin? Dia bahkan…”
Alea memotong dengan sopan namun tegas.
“Saya paham posisi saya. Tapi saya tidak datang untuk menjadi masalah. Saya datang untuk membuat kesepakatan,” ucapnya.
Ardiwinata mengangguk puas.
“Itu yang membuatmu berbeda,” pujinya.
Tatapan Alea dan Adrian kembali bertemu.
Untuk pertama kalinya, ada percikan halus di mata Adrian. Bukan kemarahan, bukan ketidaksukaan, lebih mirip ketertarikan penuh kehati-hatian. Seolah ia menyadari, Alea bukanlah gadis yang mudah untuk pasrah. Dan juga Alea bukan gadis yang bisa ia tekan atau kendalikan. Dan itu justru membuatnya lebih sulit dibaca.
***
Setelah pembicaraan selesai, Adrian berdiri.
“Aku perlu waktu untuk mempertimbangkan detail final,” ucapnya.
Alea ikut berdiri.
“Saya juga,” ucapnya.
Ardiwinata mengangguk, paham. Tapi sebelum Alea keluar ruangan, Adrian tiba-tiba berkata, suaranya rendah tapi jelas,
“Alea,”
Alea menoleh.
“Tidak banyak orang yang berani berbicara padaku seperti itu,” ucap Adrian.
Alea tersenyum tipis.
“Maka dari itu saya melakukannya. Supaya Anda tahu saya tidak mudah ditakut-takuti,” jawabnya.
Kedua sudut bibir Adrian terangkat, senyum kecil, cepat, hampir tidak terlihat. Tapi jelas itu senyuman pertama yang ia tunjukkan hari itu.
Dan Alea tidak membiarkan dirinya terlihat terpengaruh. Ia hanya membalas dengan anggukan kecil, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu menutup, Maya mendekat ke Adrian dengan nada mengejek.
“Dia pikir dia siapa?” cibirnya.
Adrian menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Alea.
“Seseorang yang tidak bisa kalian perlakukan seenaknya,” jawabnya.
Maya terdiam.
Nadine menatap Adrian dengan tatapan tak percaya.
“Kau… membelanya?” tanyanya.
Adrian tidak menjawab. Tapi ada sesuatu di matanya, ketertarikan yang tidak ia rencanakan.
Alea, dengan semua luka dan keteguhannya, baru saja mengubah permainan.
Dan Adrian Naradipa menyadari satu hal. Perempuan itu jauh dari kata penurut. Tapi itu justru membuatnya ingin tahu lebih jauh.