Hari ini adalah hari pernikahan Nasya dan Ardi. Ya, tentunya hari ini Nasya dan Ardi akan melepas masa lajang mereka dengan melangsungkan acara pernikahan yang diharapkan menjadi pernikahan seumur hidup sekali.
Nasya nampak cantik dan anggun dengan riasan adat Jawa modern yang berpadu dengan adat Sunda. Calon pengantin memakai kebaya pengantin berwarna putih cerah dengan taburan mutiara melingkar pada kebayanya.
"Pernikahan ini adalah pernikahan impian yang sudah lama aku dambakan. Hari ini aku akan menjadi istri Mas Ardi."
Begitu jelas kebahagiaan gadis berusia 25 tahun itu akan segera menikah dan hidup bersama Ardi.
Setelah selesai dirias Nasya turun kebawah karena Ardi sudah menunggu. Nasya berjalan pelan dan manis mendekati Ardi yang masih duduk sambil bicara dengan salah satu kerabatnya. Ardi bahkan tidak sadar Nasya sudah ada didekatnya. Nasya mendudukkan dirinya bersama Ardi di atas kursi pengantin bernuansa silver.
"Mas kau sudah lama disini?"Nasya meraba punggung Ardi membuat mata Ardi membulat dan tidak berkedip.
Ardi terus memandang wajah Nasya dengan sangat ragu "Belum kau, Nasya?"
"Iya Mas aku Nasya calon istrimu, masa kau tidak kenal!"
"Cantik sekali, aku hampir tidak mengenalmu sama sekali."
"Kau ini! Baru mau nikah udah main ga kenal aja!"
"Habis kamu cantik banget sih."
"Iya Mas ini kan hasil riasan Bu Hani."
"Bu Hani, makasih ya. Calon istriku cantik banget loh."
"Iya sama-sama Mas Ardi. Kan memang Neng Nasya sudah cantik sejak awal."
"Tuh dengerin kata Bu Hani!"
"Iya kamu cantik kok. Dari dulu juga udah cantik."
"Sekarang aja bilang cantik."
Bu Hani sesekali mengajak Ardi dan Nasya berfoto bersama.
Sebelum Bu Hani pergi Nasya meminta Bu Hani untuk merias wajah Mila. Adik perempuan satu-satunya Nasya memang tidak pernah dandan sama sekali, bahkan saat akan pergi sekalipun.
"Bu Hani aku mau setelah ini adikku dirias ya?"Ujar Nasya kepada Bu Hani.
"Memangnya Dek Mila dimana?"
"Ada Bu, itu Mila sedang duduk."
Nasya memanggil Mila yang tengah duduk seraya memainkan ponselnya. Nasya meminta Mila untuk dirias agar terlihat lebih cantik dan anggun.
"Dek kamu dirias ya, sama bu Hani."
"Dirias Kak? Kan Kakak yang menikah bukan aku!"
"Maksud Kakak biar kamu lebih cantik Dek kan ini hari spesial Kakak. "
"Memangnya aku jelek kak!"
"Bukan gitu Dek, Kakak cuma___"
"Cuma mau bilang aku jelek!"
"Dek___"
"Aku gak mau!"
"Dengerin Kakak dulu___"
"Titik."
"Jangan paksa Mila biarkan saja Mila mau seperti apa nanti Mila malah marah sama kamu."Lirih Ardi.
"Mila itu tidak pernah dandan Mas. Jadi dihari pernikahan kita aku mau Mila terlihat cantik di depan semua tamu yang datang."
Mila merasa kesal dengan kemauan Nasya. Mila merasa tengah dipermalukan di depan Ardi.
"Kalau bukan karena Ardi aku tidak akan pernah menampakkan wajahku di acara pernikahanmu yang sangat menyebalkan ini!"
Mila terpaksa melakukan apa yang Nasya mau."Baiklah aku akan dandan!"
"Nah gitu dong Dek, itu namanya Adik Kakak."
"Ya kak."
Dengan rasa kesal Mila mengikuti Bu Hani naik keatas untuk dirias sesuai permintaan Nasya. Mila masuk kedalam kamar dan meminta Bu Hani untuk segera meriasnya secepat mungkin.
Rasa kesal terus meledak-ledak dalam hatinya. Sambil memainkan ponselnya Mila sesekali melirik wajahnya lewat cermin besar yang terletak tepat didepan matanya.
"Memangnya aku kurang cantik apa Bu? Kenapa Kakakku itu selalu merasa cantik!"
"Hem..tidak ada yang kurang. Dek Mila tanpa dirias juga udan cantik kok."
"Terus kenapa Ibu tidak bilang sama Kakakku kalau wajahku tidak perlu dirias!"
"Dek Mila maafin Bu Hani ya? Em...kalau gitu Bu Hani tidak jadi rias Dek Mila, biar Ibu hapus lagi yang sudah terlanjur kena bedak ya?"
Mila terdiam dan merasa tidak sopan dengan Bu Hani. Bagaimanapun juga Bu Hani tidak tidak pantas menjadi pelampiasan kekesalannya.
"Bu Hani tidak perlu meminta maaf. Bu Hani tidak perlu menghapus karena aku ingin dirias oleh Bu Hani pasti hasilnya sangat cantik. Oh ya Bu, sebenarnya ini pertama kali aku memakai bedak. Aku bahkan tidak pernah memakai lipstik atau pun pensil alis sekalipun."
"Oh ya? Memangnya Dek Mila tidak mau pakai makeup kenapa?"
"Untuk apa aku dandan Bu? Bukankah wanita hanya boleh berdandan didepan suami?"
"Betul sekali Dek. Tapi alangkah baiknya wanita juga harus merawat diri namun bukan untuk orang lain melainkan untuk diri sendiri. Dandan tidak masalah yang penting tidak berlebihan itu kalau yang belum punya suami!"
"Gitu ya Bu. Ya udah Ibu lanjut rias aja ya biar tidak kelamaan."
"Sudah punya calon belum? Nanti kalau mau nikah panggil Ibu Hani ya buat rias Dek Mila."
"Ah, Bu Hani. Pacar aja belum ada hehe..."
Bu Hani begitu asyik bergurau dengan Mila sampai pada akhirnya Bu Hani selesai merias wajah Mila.
"Dek Mila coba ngaca sambil berdiri."Ujar Bu Hani sambil merapikan rambut Mila.
Mila sampai tidak percaya dirinya bisa secantik itu. Bu Hani turut merasa senang melihat Mila begitu gembira dan menjadi semakin semangat.
"Bagaimana Dek Mila cantik kan udah kaya pengantin beneran."
"Wah ini benar-benar ajaib kok aku bisa sih Bu secantik ini? Aku sampai pangling loh Bu sama wajah sendiri."Mila tampak sumringah dengan riasan wajahnya yang tak kalah cantik dengan sang Kakak.
"Siapa yang bilang Dek Mila jelek? Dek Mila kan memang dasarnya sudah cantik."
"Bu Hani terimakasih ya?"
"Sama-sama dek Mila."
Bu Hani meninggalkan Mila dan turun kelantai bawah melihat acara pernikahan Nasya yang sebentar lagi akan segera dimulai.
Bu Hani menghampiri Nasya untuk memastikan riasannya masih rapih dan baik-baik saja.
Sementara itu Mila terlihat turun meniti tangga dengan gemulai. Mila terus menebar senyum manisnya. Berpakaian kebaya merah membalut tubuh langsingnya dengan kaki jenjang semampai membuatnya semakin cantik dan mempesona.
Mila mendekati Ardi dan Nasya yang tengah duduk bersama."Kak Nasya, Kak Ardi."
Dengan sikap lembut gemulai Mila mencoba menebar pesona di depan Ardi.
"Mila? Kakak pangling loh, kamu cantik banget Dek!"Nasya tak percaya jika wanita yang tengah berdiri di depannya adalah Mila. Ia terlihat begitu cantik karena baru pertama kali Nasya melihat sang Adik memakai makeup.
Ardi hanya tersenyum senang melihat penampilan Mila yang terlihat semakin dewasa dan cantik."Kau terlihat anggun Mila."Ujar Ardi.
"Kau lihat sendiri kan kak! Aku tak kalah cantik dari Kakak. Aku juga yakin dalam hati Ardi pasti sangat memuji kecantikan ku ini!"Mila begitu sangat percaya diri namun semua itu hanyalah pikirannya saja, Sebagai wanita yang diam-diam mengagumi ketampanan Kakak iparnya sendiri.
Kini waktunya Nasya dan keluarga mengakhiri acara dengan saling berjabat tangan kepada para tamu sebelum mereka pulang.
*********
Hari pertama menjadi seorang istri....
Hari ini adalah hari pertama Nasya menjadi seorang istri tentu kehidupannya berbeda dari sebelumnya.
"Mas enaknya kita bulan madu kemana ya?"Bincang Nasya kepada Ardi seraya menepikan kepalanya dipundak kekar sang suami yang tengah berbaring.
"Aku juga sedang mencari tempat yang enak dan nyaman. Aku malu sama Ayah sama Mila. Masa kita seharian masuk keluar kamar terus, kan malu."
"Kan kita pengantin baru Mas. Wajar lah kalau pengantin baru kerjaannya didalam kamar terus."Ujar Nasya pelan dengan mesra.
"Tapi aku mau terus kalau kita cuma rebahan di kamar."
"Capek tau Mas! Ini kan baru hari pertama masa udah tiga kali kamu minta jatah!"Nasya mencubit d**a Ardi dengan rasa gemasnya lalu mendaratkan bibirnya membuat Ardi terdiam kenikmatan.
Namun dibalik kemesraan mereka ternyata dibalik pintu Mila sedang menguping percakapan mereka. Kebetulan siang itu Susanto sedang tidak ada di rumah.
Mila membulatkan matanya seraya menarik rambutnya mendengar percakapan mesra Nasya dan Ardi.
"Kak Nasya benar-benar menyebalkan! Mereka berdua tidak tau bagaimana hancurnya perasaanku!"Mila sangat kesal dan jengkel.
Namun semakin lama Mila benar-benar merasa tidak kuat. Mila memilih pergi meninggalkan pintu kamar Nasya dan kembali masuk kedalam kamarnya.
Mila membaringkan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata. Mila membayangkan jika posisinya berada diposisi Nasya itu pasti akan sangat menyenangkan baginya. Menjadi istri Ardi adalah impiannya saat ini.
"Sepertinya mereka senang sekali! Aku bahkan belum pernah merasakan bahagia seperti kak Nasya! Rasanya aku ingin seperti itu, merasakan pelukan hangat Ardi seperti Kak Nasya merasakannya!"
"Namun semua hanya bayangan! Aku tidak akan membiarkan semua menjadi bayangan abadi. Aku akan berusaha mewujudkan impianku menjadi nyata Ardi i love you."Gumam Mila dengan nada lirih. Perlahan matanya mulai terpejam beralih masuk kedalam mimpi yang indah.