Bab 2.

1290 Kata
Nasya tak henti-hentinya mencoba semua baju yang ada di lemari. Nasya mencari baju yang cocok untuk dia kenakan hari ini. Ya, hari ini adalah hari bahagia hari dimana dia akan memulai segala kehidupan barunya bersama Ardi. Mila terlihat diam dengan wajah kesalnya menyenderkan punggungnya pada tembok seraya mendekap kedua tangannya. Mila berada dipojok ruangan yang nampak sepi jauh dari aktivitas keluarga yang semuanya sedang sibuk menata penampilannya menyambut kedatangan keluarga Ardi. Mila terus mengamati pergerakan keluarganya yang nampak sibuk dan terus bolak-balik membuatnya sangat pusing dengan acara lamaran sang Kakak yang sangat tidak membuatnya bahagia. "Acara apaan ini! Acara bikin pusing!"Gerutu Mila. Mila berjalan pergi meninggalkan kamar Nasya meniti tangga satu persatu menuju lantai bawah. Mila disuguhkan dengan pemandangan yang sangat mewah namun menurutnya semua itu terlalu berlebihan mengingat keluarganya hanyalah orang sederhana dan menurutnya tidak penting dekor semewah itu hanya untuk sebuah lamaran. "Apa-apaan ini? Semewah ini kah sebuah lamaran? Emang sih Ardi itu orang kaya, tapi dia tidak pantas menjadi suami Kak Nasya!"Mila terus berjalan mengelilingi semua yang ada di depan matanya. Ardi mengirim pesan singkat kepada Nasya untuk segera bersiap-siap karena dia akan sampai dalam waktu 5 menit lagi. Nasya membalasnya mengirim pesan balik, dirinya sudah siap menerima kedatangan mereka dengan senang hati. Semua makanan sudah tertata rapi di atas meja kaca yang nampak elegan dipadukan dengan lampu Cristal yang sudah terpasang kokoh dengan cahaya terang benderang. Nasya nampak anggun dengan balutan kebaya berwarna biru bertabur mutiara berpadu dengan bordiran bunga-bunga membuatnya semakin cantik dan anggun. "Mas Ardi sudah hampir sampai. Aku harus kebawah dan melihat apakah semua sudah siap atau belum." Nasya segera turun untuk memastikan semuanya sudah siap sekaligus menyambut kedatangan keluarga Ardi. Nasya mendudukkan dirinya di tempat yang sudah disiapkan. Namun sejak tadi Nasya tidak melihat Mila entah kemana Mila mungkinkah dia pergi kerena tidak sanggup menyaksikan semua ini. "Kemana Mila? Dari tadi dia tidak kelihatan,"Nasya mengambil ponselnya dan menghubungi Mila agar lebih cepat dan tidak perlu mencarinya. "[Kau dimana Dek?]"Ucapnya lewat telepon. "[Kau tidak pernah berubah Kak, setiap aku menghilang kau selalu menggunakan telepon mu untuk menyelesaikan masalah]"Ucapnya seraya berdiri di belakang Nasya. Nasya menoleh dan melotot seraya mencubit gemas pipi sang adik. "Kau ini gadis kecil dari dulu sukanya bikin Kakak emosi!"Cubit Nasya lagi. "Apa gadis kecil lagi? Lalu kapan aku dewasa!"Seraya menarik nafas panjang Mila kembali bergurau dengan Nasya, padahal dirinya sangat jengkel dengan sang Kakak. "Kakak juga dari dulu selalu saja menyelesaikan masalah dengan telepon andalan mu itu!" "Dek kamu ngambek sama Kakak?" "Ngambek? Kenapa? Aku enggak ngambek. Kenapa Kakak bilang begitu?" "Ya tentu saja Kakak tau bukanya setiap ngambek kamu selalu menghilang dan menjauhi Kakak?" Malu bercampur bingung apa yang akan Mila jelaskan. Semua perkataan Nasya memang benar adanya. "Kakak___" Belum selesai bicara Santoso berlari menghampiri mereka berdua. "Nak kau malah disini! Itu loh calon suamimu sudah datang cepat siap-siap!"Santoso menarik lengan Nasya dan berjalan bersamanya. Mila nampak kesal kenapa hanya Nasya yang digandeng kenapa dia tidak. "Kau tau Kak? Ucapan Kakak memang benar. Aku memang sedang ngambek dan kesal sama Kakak! Aku cinta kak sama Ardi!"Ucap Mila ketika Nasya sudah pergi. Untuk menghormati tamu yang datang Mila akhirnya memaksakan diri untuk duduk dan ikut menyambut kedatangan keluarga Ardi. Dengan wajah kecut Mila duduk dibarisan belakang tepat dibelakang Nasya. Mila menghadap ke arah Ardi yang berada tepat di depan Nasya untuk bertukar cincin dengan sang Kakak. Pandangan sinis begitu nampak dari raut wajah bulat Mila, dia bahkan terus mengerutkan bibirnya menyaksikan acara lamaran yang menurutnya lebih baik tidak terjadi. Rasa cemburu telah tumbuh dalam hati gadis remaja yang baru saja mengenal cinta. Namun cintanya bukan cinta biasa melainkan cinta kepada kakak iparnya sendiri yang selangkah lagi akan menuju ke pelaminan. "Kalau bukan karena malu aku pasti tidak akan duduk di sini dan melihat kalian bertukar cincin!" Lamaran sudah selesai dilaksanakan kini waktunya kedua anggota keluarga saling menjamu makanan yang sudah tertata kokoh di atas meja dengan berbagai menu masakan khas Jawa tengah yang sangat enak dan lezat. Sebagai seseorang yang sangat sepesial Nasya meladeni dan mengambilkan makanan untuk Ardi. Ia menyuapi calon suaminya itu dengan penuh cinta. Mila memandang dengan pandangan tajam melihat Ardi diperlakukan istimewa oleh sang kakak. "Jika begini aku langsung kenyang melihat gelagat mereka berdua! Sungguh menjijikkan!"Gerutu Mila dalam hati seraya menepikan piringnya ketengah meja. "Dek kau tidak makan?"Tanya Nasya yang tepat duduk di depannya. "Aku masih kenyang Kak, aku nanti saja makannya. Oh ya Kak aku mau permisi dulu aku mau istirahat capek."Ujar Mila dengan senyum beratnya. Mila bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja. Nasya merasa ada yang aneh dengan sikap sang Adik yang akhir-akhir ini menjadi aneh dan sering kesal sendiri. "Ada apa ya sama Mila? Kok dia kaya tidak semangat gitu?"Batin Nasya. "Heh kok melamun!"Tepuk Ardi pada pundak Nasya. "Mas kau ini bikin aku kaget. Oh ya kita lanjut lagi yuk makanya," "Aku siapin ya." Karena saking asyiknya kedua orang tua Ardi dan Nasya sampai tidak sadar jika Mila sudah beranjak pergi meninggalkan makan malam bersama. ****** "Dek tamunya sudah pergi, kau bahkan tidak keluar untuk bersalaman dengan mereka. Dek sebenarnya kamu kenapa kok akhir-akhir ini sering murung dan menyendiri?"Tanya Nasya kepada Mila. "Aku berubah? Apa yang berubah Kak? Aku kan sudah bilang sama Kakak aku capek, Kak aku mau tidur." "Gitu ya. Ya udah kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan bilang sama Kakak ya?" "Iya!" Mila hanya menjawab singkat dan tidak mau beranjak dari tidurnya, Mila hanya membaringkan tubuhnya seraya membelakangi Nasya. Sementara itu Nasya masih mendudukkan dirinya ditepi ranjang. "Dek?" "Hem?" "Kau tidak tidur dikamar Kakak?" "Aku mau tidur disini saja, besok aku tidur dikamar Kakak." "Oh, ya udah Kakak keluar dulu ya?" "Iya." Nasya beranjak dan berjalan menyeret kakinya meninggalkan Mila dengan segala rasa gundahnya. Nasya masih tidak percaya jika Mila sedang baik-baik saja. Nasya yakin ada yang sedang disembunyikan oleh Mila dari dirinya. Nasya kemudian berjalan menuju kamar Susanto. Susanto terlihat tidak ada di dalam kamarnya. Nasya mencoba mencari diruang tamu dan benar saja, Susanto sedang sibuk merapikan ruang tamu agar semakin rapih ketika ada tamu yang datang. "Ayah kok sudah malam rapih rapih! Besok lagi aja kan Ayah sedang tidak enak badan!"Ujar Nasya sedikit kesal "Kau belum tidur Nak? Iya ini Ayah sudah istirahat."Susanto mendudukkan dirinya di atas kursi. "Aku tidak ngantuk Yah, aku kangen sama Ibu," "Andai saja Ibu masih ada pasti saat ini aku dan Ayah sedang duduk bersama Ibu." "Nak memang disaat-saat seperti ini wajah Ibumu selalu terlihat dalam benak kita. Karena tanpa kita tau Ibu berada bersama kita disaat seperti ini, apa lagi kamu baru saja lamaran." "Rumah ini adalah rumah kenangan Ibu, banyak sekali kenangan kita bersama Ibu Yah." "Maka dari itu Ayah tidak mau menjual rumah ini Nak. Dulu Ayah pernah berfikir menjual rumah besar ini untuk kuliah Mila tapi rasanya berat sekali!" "Ayah yang sabar Yah. Mending Ayah tidur sudah malam." "Iya Nak Ayah juga sudah ngantuk." Ketika Susanto pergi Nasya melanjutkan merapihkan ruang tamu. Tak disangka Nasya menemukan foto masa kecil dirinya dan Mila serta sang ibu yang berada di bawah kursi. "Ternyata Ayah sangat kangen sama Ibu sampai foto ini Ayah bawa kemana-mana." Nasya mendudukkan dirinya dan melihat sejenak foto masa kecilnya bersama sang ibu. Tak lama kemudian Susanto kembali datang menghampiri Nasya yang masih berada di ruang tamu. "Nak kau lihat foto milik Ayah?" "Ayah sepertinya bawa foto itu kesini mungkin jatuh di sini." Nasya sangat terenyuh melihat ketulusan hati Susanto begitu masih sangat cinta kepada Lastri. Susanto mencari foto itu sambil menyisir semua ruang tamu. "Ini Ayah fotonya aku tak sengaja melihatnya jatuh di bawah."Ujar Nasya sambil memberikan foto itu. "Ibu mu sangat cantik Nak sampai Ayah tidak bisa tidur tanpa foto ini." "Ayah tidur lagi ya, sama Ibu."Ujar Nasya berkaca-kaca. "Iya Nak Ayah tidur kau juga tidur ya? Sudah malam." "Iya Ayah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN