“Kak Non!!!”. Aku dan Nino menoleh dan menemukan Gladis mendorong masuk eyang ti yang duduk di kursi roda juga Radit yang mengekor. “Udah Yang” tolakku pada suapan Nino. Nino sedang menyuapiku sarapan. Nino menurut bangkit ke arah eyang ti, merunduk mencium pipinya lalu mencium pipi Gladis. Menyambut Radit yang mencium tangannya. “Shcazt, Noni gimana?” tanya eyang ti pada Nino yang mengambil alih mendorong kursi roda sementara Gladis sudah berlari memelukku. “Sehat Yang, alhamdulilah. Cuma mesti fisioterapi makanya bertahan di rumah sakit” lapor Nino lalu berhenti di tepi ranjangku. Gladis sudah memeluk tubuhku dari samping dan terus menciumi pipiku. “Gue senang elo sadar Kak, maaf baru datang, ribet urus bocah dan harus urus eyang ti, mama sama mama kak Non ribet urus kembar. Ini m

