Jangan marah, maka surga bagimu
Pagi harinya, Ayya rewel membuat Kalea kewalahan. Namun bukan kerewelannya yang membuat Kalea seperti itu, Ayya tiba-tiba sakit demam.
"Bunda." Panggil Ayya lirih dan terdengar manja.
"Apa sayang?" Kalea menyahutnya.
"Ayya mau digendong, Bunda."
"Bunda kelonin aja, ya. ‘Kan ada adeknya Ayya di perut bunda," ujar Kalea sembari mendekatkan dirinya di ranjang, karena Ayya tak beranjak dari pulau kasur itu. Kecuali buang air.
"Nggak mau." sifat keras kepala Ayya membuat Kalea merasa sedikit jengkel. Ia mengambil napas dan menghembuskannya lalu meraih tubuh Ayya untuk duduk di pangkuannya.
Namun, itu malah membuat Ayya menangis dengan menendang-nendang kakinya. Hingga membuat mamanya Kalea itu kesal dan mengambil alih Ayya, karena mamanya merasa Kalea tak becus merawat anaknya.
"Kalau nggak bisa rawat anak, setidaknya itu kasih dia perhatian." nyinyir sang mama sebelum membawa Ayya pergi dari hadapan Kalea yang langsung menghembuskan napasnya; menahan sedih.
Niat hati ke rumah mamanya untuk liburan, namun apa yang di dapat. Sakit. Itulah rasa yang Kalea alami. Entahlah ia akan cepat kembali ke rumahnya atau tetap tinggal hingga liburan selesai. Entahlah. Namun, mengingat keadaan Ayya untuk sekarang tidak memungkinkannya untuknya pulang saat ini juga.
°^°
Dua hari kemudian, kondisi demam Ayya sedikit menurun—jauh dari hari sebelumnya. Sekarang Ayya pun sedang mengobrol dengan daddy-nya seperti biasanya; video call.
Untuk saat ini Kalea merelakan kuotanya itu agar Ayya mau makan. Iya, karena selain untuk video call Ayya juga terkadang meminta untuk menonton youtube. Dan saat ini ia sedang menyuapinya. Yang nantinya akan minum obat penurun panas.
"Daddy, Bunda pelit," ujar Ayya mengadukan kelakuan bundanya pada sang daddy.
Walaupun Dirga benci mendengar nama mantan istrinya itu disebut; bunda, tapi ia tetap menanggapi ucapan Ayya. Hanya terkekeh.
Karena yang diketahui Ayya adalah daddy dan bundanya itu hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak berpisah. Walaupun terkadang menanyakan 'kenapa daddy dan bundanya tidak tinggal lagi bersama'.
"Ayya nggak boleh telepon Daddy."
"Kenapa?"
"Katanya kuota Bunda nanti abis." Kalea yang mendengar itu melotot tak terima, padahal ia sama sekali tak pernah berkata seperti itu. Kecuali, beberapa waktu lalu; tidak punya paketan. Itu saja.
Tiba-tiba ponsel Kalea mati membuat Ayya bingung dan langsung cemberut. Pandangannya mengarah ke bunda yang juga menatapnya.
"Bunda." tangannya terulur untuk menyerahkan ponselnya. Kalea menerimanya, ia paham maksud Ayya adalah untuk membenahi agar ia bisa mengobrol lagi dengan daddynya.
Belum sempat Kalea mengotak-atik, smartphone-nya itu berbunyi dengan tampilan layar foto Dirga dengan Ayya. Kalea segera menggeser icon warna hijau itu ke atas. Dan langsung menyerahkannya pada Ayya.
Oalah..
Kenapa nggak dari kemarin-kemarin, sih?! batin Kalea berkata dengan kesal. Eh, tapi makasih, deh.
Karena ada notifikasi pesan masuk juga, isi voucher regular 100K…
Sementara Ayya sudah kembali asyik dengan daddy-nya. Dan makanan yang disuapkan padanya pun telah habis, selanjutnya minum obat. Kalea meletakkan piring di atas nakas lalu mengambil sirup penurun panas—paracetamol.
"Waktunya minum obat." terang Kalea memberitahu, Ayya menatap bundanya lalu menggeleng dan kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponsel.
"Bunda minta ponselnya."
"Nggak boleh."
"Berarti harus mau minum obatnya."
"Nggak mau."
"Pilih minum obat apa nggak teleponan sama Daddy." Kalea masih gencar untuk membuat Ayya mau untuk minum obat. Ayya masih saja menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
"Bunda ja-hat," lirih Ayya dengan menahan isakannya, bibirnya melengkung ke bawah.
"Bunda nggak jahat kalau Ayya mau nurut sama bunda," katanya yang kali ini mencoba mendekati Ayya dengan tangannya yang sedang membawa cup sirup. "Ayo, minum sirupnya dulu." Kalea melembutkan suaranya.
"Nggak mau, Bunda." Ayya menggeser tubuhnya—menjauhi bundanya.
"Ya—"
Ucapan Kalea langsung terpotong karena suara Dirga dibalik layar. "Alayya."
Kini Kalea hanya diam memperhatikan anaknya dan mendengar suara Dirga. Sementara Ayya mengusap air matanya secara kasar lalu menatap ke layar smartphone.
"Ayya nggak mau sembuh?" Ayya diam.
"Nggak mau jalan-jalan lagi sama Daddy?" Ayya diam lagi.
"Nah! Kalau pengin sembuh terus jalan-jalan sama Daddy berarti Ayya harus minum obat dulu."
"Nggak mau." Ayya menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu, Daddy nggak mau telepon Ayya lagi."
"No!"
"Berarti Ayya harus minum obat dulu." Ayya pun mengalihkan pandangan ke arah bundanya. Dan memanggilnya pelan. Kalea tersenyum dibuatnya, langsung menyuapkan sirup ke arah Ayya yang siap menerima. Lalu memberikan air putih untuk meredakan rasanya yang sedikit pahit di bagian pangkal tenggorokan.
Kenapa nggak daritadi ngomongnya Dirga!? batin Kalea merasa gemas.
"Get well soon, Alayya." Kalea memberikan kecupan di pipi dan setelah itu beranjak keluar dari kamar untuk mencuci piring.
°^°
Paginya, demam Ayya sudah menurun—dia sudah sehat kembali. Saat ini; Ayya masih tidur dengan nyenyak di kamar. Kalea ingin mengajak pulang, mengingat suasana di rumah orang tuanya tak membuatnya nyaman. Ia merasa tinggal bersama mama tiri. Hanya saja, ia tak enak jika keadaannya dengan sang mama tak membaik seperti sebelumnya. Walaupun Kalea bukan termasuk anak yang sholehah, tapi Kalea tak ingin menjadi anak yang durhaka.
Kali ini ia akan mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang mama, bagaimanapun caranya. Ini kesempatannya, karena mamanya itu sedang menonton televisi—tayangan favoritnya. Kalea mendekatinya, ia duduk di samping sang bunda.
"Ma." panggil Kalea dengan menghadap ke arah mamanya. "Aku minta maaf sama Mama."
Bukannya menjawab mamanya itu hanya diam dan tetap fokus menghadap ke arah layar yang sedang menayangkan favoritnya. Menganggap Kalea tak ada, malah ketika pemainnya membuat hal konyol sang mama pun tertawa lepas.
"Ma, aku minta maaf," ucap Kalea lagi yang kali ini duduk bersimpuh di hadapan sang mama. "Aku tau, aku salah. Tapi jangan diemin aku, anggap aku nggak ada kayak gini." sekali lagi mamanya itu tak merespons.
"Ma." Kalea memanggilnya dengan nada manja. "Aku minta maaf, ih. Kok dicuekin, sih." Kalea melihat mamanya itu sedang menahan senyum.
"Jangan nahan senyum, Ma. Nanti kentut," ucap Kalea yang diakhiri kekehan. Langsung saja mamanya itu memukul pelan lengan Kalea.
"Kamu tuh, ya."
Kalea bangkit lalu duduk disamping mama dan memeluknya. "Sayang Mama."
"Tapi mama nggak sayang kamu," sahutnya membuat Kalea langsung melepas pelukannya dan menatap mamanya dengan alis mengkerut.
"Mama tuh masih marah sama kamu, karena kamu menyembunyikan calon cucu mama," katanya membuat bibir Kalea membentuk simestris. Lalu memeluk sang mama kembali.
"Niatnya juga nggak gitu, Mama." kilah Kalea.
"Alasan mulu kamu, mau jadi penipu ya."
"Ih, Mama," ujar Kalea manja.
°^°
Hari itu Kalea sedang berbelanja untuk keperluan sehari-harinya. Ia pergi belanja dengan Ayya, karena Dirga saat itu sedang ke luar kota untuk mengikuti diklat.
Saat Kalea sedang memilah barang yang dbundatuhkannya, tiba-tiba ada yang memanggilnya. Kalea menoleh—mencari keberadaan orang tersebut yang memanggilnya.
"Kalea."
"Agil?"
"Demi apa, sekarang lo tambah cantik. Pangling gue liatnya," ucapannya membuat Kalea memukul lengan lelaki tersebut.
"Bisa aja." kekeh Kalea.
"Sama siapa lo?"
"Sama anak." Kalea menunjukkannya dengan gerakan bola matanya.
Agil terkejut. "What! Anak? Ini anak lo?" Kalea mengangguk-anggukkan kepala tanpa beban.
Kalea menggandeng tangan Ayya agar lebih mendekat. "Salim dulu sama Om." dan Ayya pun melakukannya—menyalami Agil dengan mencium punggung tangannya. "Namanya Ayya." Kalea menyebutkan nama anaknya.
"Berarti elo udah nikah?" tanya Agil untuk memastikan.
"Kalau ada versi ini?"
Kalea menikah ketika usianya menginjak 21 tahun, dilamar Dirga saat ia masih menjadi mahasiswa dan sedang menjalani sidang skripsi. Ketika lulus dan di wisuda Dirga baru menikahi Kalea, karena Dirga ingin Kalea fokus pada kuliahnya terlebih dahulu. Mereka sebelumnya tak pacaran, bahkan tak saling kenal; awalnya.
Dirga memang sudah mengincar Kalea sejak masih duduk di bangku SMA. Dirga selalu mengawasi Kalea dari kejauhan, dari berapa banyak mantan-siapa sahabatnya-yang mana saja teman Kalea, Dirga tahu semua. Ketika Dirga mengetahui bahwa Kalea melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Dirga menunda untuk melamar Kalea. Karena sebenarnya Dirga ingin menikahi Kalea ketika usai lulus SMA.
Dan apa yang ditunggunya itu telah membuahkan hasil, ketika Dirga bertemu Kalea dan berteman. Dirga mengetahui suatu hal yang membuatnya nekat dan yakin untuk menikahi Kalea adalah karena Kalea tak ingin berpacaran. Singkat cerita, saat Dirga ingin mengajak Kalea pacaran terlebih dahulu jawaban Kalea adalah "Jika kamu lelaki yang gentle kamu tidak hanya berkata I love you, tapi datang ke rumahku meminta restu pada orang tuaku dan mengucap ijab qabul di depan penghulu."
Setelah itu, mereka pun menikah. Mereka belajar, belajar saling mengenal, belajar saling memahami, belajar saling mengerti dan akhirnya saling mencintai. Tiga bulan pernikahan mereka, Kalea dinyatakan hamil. Dan itu membuat Dirga kembali dilingkupi rasa bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Sembilan bulan Kalea mengandung, akhirnya yang dinantikan mereka pun hadir; Naufalyn Alayya.
"Ah, jahat lo! Masa nggak undang gue, sih?" katanya dengan pasang muka cemberut. Kalea mendengkus.
Padahal Kalea sudah menyebar undangan keseluruh temannya, dari teman SD hingga perguruan tinggi. Seingatnya juga tak ada yang tertinggal satu pun. Karena menurut Kalea kabar bahagia patut disebar luaskan, sekalian silaturahim untuk mempererat hubungan yang sempat renggang. Dari pernikahan Kalea tersebut mereka—teman Kalea semua membuat grup obrolan di salah satu aplikasi media sosial.
"Semua diundang kok?"
"Masa sih?" Kalea mengangguk.
"Gue kemana, ya?" Agil bertanya pada dirinya sendiri dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya.
"Katanya kuliah di Jogja," sahut Kalea menjawab pertanyaan Agil.
"Iya deng, gue waktu itu ada magang jadi nggak pulang." Kalea memutar bola matanya.
"Okey, no problem. I'm leaving, yes!" Kalea pun segera berpamitan pada Agil lantas menggandeng tanga Ayya agar mengikuti langkahnya.
Dan ketika Kalea telah usai membayar barang belanjaannya, Kalea pun segera keluar namun ternyata Agil mengikutinya dengan merangkul pundak Kalea tanpa ada rasa sungkan. Posisi Kalea yang menggendong Ayya, membuat mereka layaknya keluarga. Jika orang lain yang melihat itu tak kenal mereka. Tapi jika...
Dan
Saat Agil mencium Ayya, Dirga ternyata sedang melintasi depan supermarket—tempat Kalea berbelanja. Dirga baru saja pulang dari acara diklatnya, itu melihat Kalea sedang bercengkerama dengan seorang lelaki. Keadaannya yang lelah itu membuatnya emosi, anggapan Dirga bahwa Kalea sedang mencium Agil yang sedang mencium Ayya. Saling mencium.
Kesalahanpahaman itulah yang membuat mereka—Dirga dan Kalea bercerai.
Satu bulan kemudian, Kalea dan Dirga berpisah. Kalea baru mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung anak Dirga yang kedua.
°^°
"Kamu tiap bulan rutin cek up kan, Ka?" tanya sang mama; perhatian.
"Iya, Ma." Kalea mengelus perutnya yang kini menjadi rutinitas saat mengetahui bahwa ia hamil.
"Rajin makan sayur, minum s**u, minum vitamin, kalau capek istirahat, jangan gendong Ayya lagi," tutur sang bunda penuh nasehat.
"Cie...Mama perhatian." Mamanya itu langsung mendengkus.
"Emangnya siapa lagi yang mau perhatian sama kamu?" katanya sarkas.
"Mama, ih. Aku ‘kan becanda, siapa juga yang mau jadi janda." jawab Kalea.
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti karena teriakan Ayya seperti menahan tangis.
"Bunda!"
"Bentar, Ma. Kayaknya dia nyariin Bapaknya lagi." izin Kalea sebelum masuk ke kamar untuk menemui Ayya.
"Rujuk sana." sahut sang bunda yang terdengar di kedua indera pendengaran Kalea yang mengabaikannya.
Kalea masuk ke kamarnya, dan benar Ayya sudah banjir air mata. Kalea pun mendekatinya—duduk di pinggir ranjang.
"Anak bunda kok nangis?" Ayya yang ditanya itu malah sesenggukan, Kalea pun memangkunya.
"Telepon Daddy, Bunda." Kalea mendadak gemas dengan Ayya. Sekarang bangun dan sebelum tidur yang dicari daddy, mau makan yang dicari daddy, bosan yang dicari daddy. Daddy.
Kalea pura-pura terkekeh. "Jorok, ih." Kalea menjawil hidungAyya. "Mandi dulu, baru telepon Daddy." tambah Kalea menahan kedongkolannya.
"Nggak mau mandi."
"Berarti nggak mau telepon Daddy?"
"Bunda." Ayya merengek dan masih sesenggukan.
Kalea pun menghela napasnya lalu mengambil ponsel di sebalah ranjangnya—nakas. Kalea mengotak-atik ponselnya, sebelumnya ia mengecek kuotanya baru setelah itu menghubungi Dirga.
"Daddy Ayya," gumam Kalea lalu menatap Ayya yang masih sesenggukkan. "Udah, diem dulu."
Kalea pun memberikannya pada Ayya dan beberapa detik kemudian wajah Dirga muncul di layar ponsel Kalea. Kalea membiarkan Ayya yang masih nyaman di posisinya—dalam pangkuan Kalea.
Kalea terus berdiam ketika mereka mengobrol, tanpa ikut terlibat untuk memasuki ruang lingkup mereka. Kalea tak ingin mengganggu mereka apalagi merusak momen itu, yang dibutuhkan Ayya adalah daddy-nya. Karena selama ini Dirga hanya selalu mengirimkan uang bukan kasih sayang untuk mereka, tapi rencana Kalea—uang itu ia gunakan untuk deposito buat persiapan masa depan Ayya nanti.