Memang terkadang masalalu itu membuat kita merindu
Beberepa hari kemudian, Kalea dan mamanya berbaikan bahkan kini mereka sering berbincang-bincang mengenai Kalea yang merasa kehamilannya kali ini berbeda, tidak mual juga tidak mengidam. Kalea malah seperti orang biasa saja, tak ada rasa malas pun saat melakukan aktivitasnya. Tidak seperti pada waktu hamil Ayya, terkesan manja—labil—sensitif.
Saat ini Kalea sedang menyuapi Ayya yang lagi-lagi menelepon daddynya. Kalea belajar bersabar, karena kuotanya harus terus berkurang dengan cepat. Sebab, Ayya tak mau telepon dengan daddynya menggunakan ponsel Kalea yang biasa—yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon saja. Sudah pintar, dia. Pikir Kalea.
Tapi ‘kan kemarin…
"Pake telur, Bunda." pinta Ayya saat bundanya hendak menyuapkan nasi. Kalea segera memenuhi permintaan Ayya lalu menyuapkan kembali yang kali ini langsung diterima.
Setelah beberapa kali suapan, Kalea pun menolaknya. Namun Kalea mencoba memaksanya lagi. "Tinggal dikit, abisin dong.. Kasian ibu yang masak."
"Nggak mau, Bunda." Kalea menghela napasnya, sabar.
"Bunda minta ponselnya." Kalea menengadahkan tangannya ke arah Ayya.
"Nggak boleh." Ayya langsung menghindarkan ponsel Kalea agar tak dijangkau oleh bundanya itu. Memegangnya erat.
"Jangan dipaksa," ujar Dirga dari balik layar yang suaranya bisa didengar oleh Kalea yang langsung menggeram; sebal. Suaranya yang tegas terkesan tak bisa dibantah. Kalea pun menyuapkan pada mulutnya sendiri dengan perasaan gereget. Hanya tiga suapan tersisa—yang dimakan Kalea.
Kalimat yang dilontarkan Dirga untuk Kalea itu yang pertama kali setelah mereka resmi bercerai.
"Abis ini bobok, Ayya," kata Kalea memberitahu sebelum ia bangkit dari duduknya untuk membawa piring yang kotor ke wastafel.
Lalu tak lama Kalea kembali lagi ke hadapan Ayya dan mengajaknya untuk tidur siang. Namun Ayya menolak, malah memanggil neneknya—mengadu.
"Ayo bobok!" ajak Kalea mengulurkan jari telunjuknya agar digandeng Ayya.
"Nggak mau." Ayya tak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Membuat Kalea kali ini tak ingin bersikap sabar lagi, Kalea langsung merebut ponselnya. Dan membuat Ayya merengek.
"Ibu Eyang, Bunda jahat!" teriaknya mengadu pada sang nenek yang dipanggilnya ibu eyang.
Kalea terkekeh. "Ibu lagi ikut arisan."
"Daddy." Ayya merengek manja memanggil daddynya. Langsung saja Kalea yang memegang ponselnya itu, ia goyang-goyangkan. Mengejek Ayya yang kini menangis.
"Alayya." Kalea menghadapkan ponselnya ke arah Ayya agar bisa dilihat. "Bobok dulu sama Bunda, nanti daddy telepon lagi."
"Nggak mau."
Kalea mendekati Ayya. "Ayo sayang, anak bunda. Bobok dulu ya, nanti bunda ajak jalan-jalan," Kalea bertutur kata dengan sangat lembut untuk mengambil hati Ayya. Ia tak ingin kalah dengan Dirga.
"Bunda." panggil Ayya dengan mengulurkan tangannya. Kalea langsung mematikan sambungan video call-nya tanpa permisi, tak peduli jika itu mantan suaminya. Karena fokus Kalea adalah Ayya.
"Iya."
Kalea merasa seperti babysitter yang sedang mengasuh anak manja dari seorang duda. Dan dia hanya bisa menurut dan pasrah ketika daddy dari anak tersebut menyuruhnya.
Sementara di lain tempat, Dirga jelas mengumpat atas tindakan Kalea barusan.
Sial!!
Tiba-tiba suara lain mengenterupsi, Dirga menoleh. Mamanya itu membawa toples berisi kripik kentang dan jus yang diletakkannya di meja.
"Ayya abis telepon?" tanyanya.
"Iya." Dirga menjawab sebelum ia meletakkan kepalanya di pangkal sofa dan memejamkan matanya. Lalu menghembuskan napasnya secara kasar.
"Kamu nggak kasian sama Ayya? Tiap hari telepon kamu terus?" tanya mamanya Dirga dengan penuh perhatian. Ia merasa kasian dengan cucunya itu karena tiap harinya menelpon daddynya—Dirga. Dan bertemu seminggu sekali jika itu tidak sibuk—karena harus pergi ke luar kota untuk mengikuti seminar.
Dirga membuka matanya lalu menatap sang Mama. Menghembuskan napasnya, lagi. "Ya, mau gimana lagi, Ma? Salah Bundanya juga yang ternyata tukang selingkuh." balas Dirga.
Mama Indria—mamanya itu menghembuskan napasnya, susah memang memberi pengertian pada Dirga. "Emang kamu bener-bener liat Kalea selingkuh?" tanyanya. "Katanya kamu tau latar belakang Kalea, gimana? Masa iya, dia selingkuh?"
"Aku liat sendiri, Ma."
"Apa yang kamu liat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, Dirga."
"Ah, udahlah, Ma. Ngapain dibahas sih?!" Dirga pun bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dengan perasaan kesal.
Mamanya itu menggeleng, merasa ada yang aneh dengan sikap Dirga; labil dan sensitif. Dan itu terjadi semenjak bercerai dengan Dirga. Bahkan ada yang lebih aneh dari itu, Dirga mual-mual di pagi hari dan mengidam seperti orang hamil pada umumnya. Tapi tidak mungkin itu terjadi karena kenyataannya Dirga dan Kalea sudah bercerai.
°^°
Ah, Kalea menjadi gemas kenapa harus Dirga yang membuat Ayya menurut dan takut. Kenapa bukan kepada dirinya. Mudah sekali untuk membujuk Ayya, sedangkan dirinya harus memakai seribu satu jurus agar Ayya mau menurutinya.
Kalea meraih tangan Ayya—menggandengnya. Tapi Ayya merengek meminta gendong. "Gendong Bunda."
"Gendong belakang, ya." Ayya mengangguk cepat dan langsung berdiri. Sementara Kalea memposisikan dirinya dengan membelakangi Ayya yang langsung mengalungkan tangannya ke leher sang bunda.
"Uluh-uluh Anak bunda kok cantik banget ya kalau lagi pinter gini." ini bukan pujian, Kalea geregetan dengan sikap Ayya. Maka dari itu Kalea melontarkan kalimat tersebut, sebab Kalea tak pernah sekalipun mengucapkan k********r pada Ayya. Sementara Ayya yang mendengarnya malah terkekeh.
"Kayu-kayu, siapa tumbas kayu," gumam Kalea saat menuju kamarnya. Mengibaratkan dirinya sedang menggendong kayu dan menawarkan pada orang, siapa yang mau membeli kayunya. Kenapa seperti itu? Entahlah, itu orang jaman dulu. Kalea hanya mengikuti saja.
Ayya lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan yang terlontar dari mulut bundanya. Ketika berada di kamar, Ayya langsung diturunkan ke ranjang dan Kalea bernapas lega.
"Bobok," ujar Kalea yang mana Ayya langsung berbaring. "Baca doa dulu," titah Kalea.
"Allahumma bariklana fii maa rozaktana waaqinaa adzabannar."
"Eh! Masa gitu doa-nya?"
Ayya malah tertawa. "Gimana, Bunda?"
"Allahumma ahya..." Kalea memancingnya lalu Ayya mengikuti dan melanjutkannya. "..wa bismika wa amut."
Setelah itu Kalea merebahkan dirinya di samping kanan Ayya. Memeluknya—mengelus punggung Ayya, agar Ayya lekas terlelap.
Namun sepuluh menit kemudin Kalea yang tertidur sedangkan Ayya tetap masih terjaga. Dan beberapa menit kemudian, cuaca yang mendung itu berubah hujan. Ayya menatap bundanya yang terlelap sangat nyenyak itu menyingkirkan tangan bundanya dengan pelan-pelan. Lalu Ayya beranjak bangun pun juga pelan-pelan, ia keluar kamar dan sebelumnya menengok ke arah bundanya yang tidak bergerak sama sekali itu membuatnya terkikik.
Ayya pun keluar ke halaman belakang dan berhujan-hujanan tak lupa juga bermain lumpur. Ia sangat senang bermain hujan-hujanan dan ini bukan yang pertama kalinya. Namun bundanya—Kalea yang mendapat amarah dari Dirga karena membiarkan Ayya bermain hujan. Itu dulu.
Waktu itu sama seperti yang terjadi sekarang ini, Kalea menemani Ayya tidur. Namun, Ayya tetap terjaga dan bundanya—Kalea terlelap dahulu. Ketika turun hujan, Ayya langsung keluar kamar menuju ke halaman belakang. Tak lama daddynya itu pulang dari kampus mengajar usai mengajar. Dirga langsung menuju ke dapur untuk minum karena ia merasa haus. Saat hendak ke kamar ia sekilas melihat Ayya yang sedang asyik hujan-hujanan.
Dirga pun menghampirinya."Alayya." wajah Ayya yang ceria mendadak takut. Ayya yang tak bergerak sama sekali membuat Dirga langsung menerjang hujan dan menggendong Ayya.
"Bunda mana?" tanya Dirga.
"Bobok." Dirga menggeram mendengar jawaban Ayya. Bukannya mengajak Ayya tidur malah tidur sendiri, kata Dirga dalam hati. Dirga membawa Ayya ke kamar mandi dan memandikannya.
Setelah itu baru membangunkan Kalea dan menyuruhnya untuk menggantikan baju Ayya. Kalea yang saat itu tertidur pun terkejut melihat Ayya yang ternyata tak ada di sampingnya.
"Anak ujan-ujanan Bundanya malah enakin tidur," kata Dirga.
"Ayya abis ujan-ujanan?" Kalea malah bertanya.
"Iya," jawab Dirga singkat. "Pakein Ayya baju." tambahnya.
Dirga pun segera beranjak bangun dan mengambilkan baju untuk Ayya dan minyak telon. Sementara Ayya sedari tadi diam sembari memainkan jari tangannya, seperti tak merasa bersalah. Kalea mendekatinya dan memakaikan baju—yang sebelumnya mengoleskan minyak telon pada tubuh Ayya.
"Ayya abis dari mana?" tanya Kalea.
"Main air ujan, Bunda." jawab Ayya polos tanpa tahu bahwa bundanya itu sedang menahan amarah serta gemas. Dirga yang mendengar pertanyaan Kalea ikut menyahut.
"Makanya perhatian sama anak sendiri," Kalea menghela napas, semenjak ada Ayya Kalea seakan tersisihkan. Dirga lebih sayang ke Ayya—anaknya dibandingkan Kalea—istrinya.
Kalea diam, namun tangannya aktif memakaikan baju Ayya. Ketika selesai Kalea mencium pipi Ayya dengan gerakan gemas. "Anak siapa ini?"
Dan Ayya menjawabnya, "Anak Bunda sama Daddy." Kalea pun terkekeh mendengarnya.
Tiga puluh menit Ayya bermain hujan, bundanya itu terbangun dari tidurnya. Kalea terkejut tak mendapati Ayya di sampingnya. Ia langsung saja beranjak bangun hingga merasa pening namun sejenak. Ia mencari Ayya.
Dan.
"Alayya." Kalea mendapati Ayya bermain air hujan dan lumpur.
Kalea mengambil payung dan memakainya untuk mendekati Ayya. Langsung saja Kalea menarik tangan Ayya dengan mengomel.
"Kalau bunda dimarahin Daddy, gimana? Ayya seneng? Waktunya bobok ya bobok, Ayya." sepersekian detik kemudian Kalea tersadar akan ucapannya pun merasa sesuatu. Ia kini sudah tak bersama Dirga, Kalea tertawa miris dalam hatinya. Itu hanya masalalu.
Kalea pun segera memandikan Ayya setelah itu menggantikannya baju. Ketika selesai, Kalea mencium Ayya dengan gerakan gemas hingga membuat Ayya terkikik.
"Pinternya, masyallah. Anaknya siapa sih?"
"Anak Bunda sama Daddy,"
De javu
Kalea merasakan itu, bedanya saat ini tanpa Dirga yang memarahinya. Kalea terdiam mendengarnya lalu tersadar bahwa mamanya belum pulang. Kalea pun memutuskan mengirim pesan singkat kepada Bundanya.
To: My Mom
Mama masih di tempat Tante Ani?
Lima menit kemudian Kalea mendapat balasan.
From: My Mom
Iya, mama plg nanti klo ujannya terang.
Setelah mendapatkan balasan, Kalea pun beranjak ke dapur untuk membuatkan Ayya s**u vanilla—kesukaan Ayya. Agar anaknya itu merasa hangat.