Bukan sebuah rayuan bertabur bunga dan berbagai macam intrik besar yang Arumi butuhkan untuk dapat luluh. Dia, hanya membutuhkan sebuah pemandangan langit dan seseorang yang memahami isi hatinya. Untunglah selain Citra, Arumi memiliki Devara yang bisa menjadi sandarannya untuk menyampaikan segala keluh kesahnya. Arumi sejenak menoleh ke arah jendela dan memperlihatkan bayangan Demas dari samping, ia terlihat tengah mengunyah makanan sambil berpikir keras. Ah! Arumi mendesah, ada perasaan kasihan yang dia rasakan saat ini. Tetapi, seperti yang dikatakannya tadi, dirinya tidak akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk Demas. “Mikirin apa?” tanya Devara sambil mencubit kecil hidung mancung Arumi. “Gw, kasihan sama dia. Tapi, sebuah pembuktian itu harganya mahal. Nggak bisa, hanya s

