“Dasar dukun c***l! Bisa-bisanya kamu mau ambil kesempatan dalam kesempitan!” umpatku sembari mendorong tubuh yang berada tidak lebih dari setengah meter di depanku. “Ayolah! Aku tahu kamu juga menginginkannya. Jarang ada perempuan yang menolakku. Bukankah aku gagah, tampan?” Cuih! Suara Mbah Wiro Kliwon yang tadi sempat membuatku terpesona karena terdengar lembut di telingaku, kini suara lembut itu layaknya suara monster yang begitu mengerikan dan menjijikkan. Tega-teganya laki-laki itu menyalah gunakan kepercayaan yang aku berikan. Untung saja aku waspada, coba bila aku lanjutkan mencium bau-bauan tadi bisa jadi aku tidak sadarkan diri dan laki-laki itu tentunya akan sangat mudah menjamah tubuhku. “Gila! Sinting! Sudah berapa banyak korbanmu, hah?” tanyaku dengan napas memburu. Rasa b

