Wati terlihat sangat kebingungan atas kepergian kakaknya yang tiba-tiba. “Bagaimana, Bu?” tanyanya kepadaku. “Bagaimana lagi. Kita harus menyelesaikan pekerjaan kita kan? Mbakmu sekarang seperti itu sering kabur dari tempat kerja. Kamu nggak usah takut sama aku! Aku bukan orang jahat,” ucapku sambil menyerahkan jatah jajan sore untuk Wati dari anting Bu Tarni. Aku dan Wati memakan jajan jatah kerja, setelah perut lumayan terganjal aku mengajak Wati kembali bekerja. Beberapa saat setelah kami kembali bekerja, aku mendengar Ijah memanggil adiknya. “Wati ... Wati ....” Aku dan Wati berpandangan. Terlihat serius sekali Ijah memanggil adiknya seperti ada sesuatu yang penting sekali. “Kamu datang ke sana, Wat, kelihatannya penting. Nanti mbakmu marah!” seruku. Tanpa banyak bicara, Wati b

