"Apa kau tidak haus?" "Tidak." "Apa kita akan berangkat lebih awal?" "Tidak." "Jadi, kau hanya ingin bertemu denganku dan memelukku seperti ini?" Setelah kalimat pertanyaan itu terucap, tiba-tiba Renjana merasa dirinya tak tahu malu. Wajahnya merona. Beruntung Harris saat ini tidak bisa melihatnya. Tapi pertanyaan itu jujur berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia ingin tahu apakah laki-laki yang tengah mengungkungnya dalam pelukan ini merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan. Sayangnya, Harris tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya. Harris merasa dirinya mungkin memang tinggi hati, tidak bersedia mengakui bahwa benar ia hanya ingin bertemu dengan Renjana. Ia merindukan gadis itu. Meski beberapa hari belakangan mereka berangkat ke kantor bersama, tapi keduanya te

