Part 10

1432 Kata
"Yang miris dari sebuah kehilangan mungkin bukan hanya yang hilang itu, tapi terabaikannya yang masih ada." ** "Dengarkan aku, Bibi. Besok aku mulai bekerja di Chandra Khan Group selama pengerjaan proyek design yang aku menangkan kemarin. Meski aku tidak terikat kontrak sebagai pegawai di tempat ini, tapi selain hadiah uang tunai itu aku masih akan mendapatkan persentase dari hasil penjualan produk nantinya. Jadi, Bibi tak perlu lagi risau, besok aku akan mencari pengacara handal untuk menangani kasus Bang Hasan. Oh, satu lagi, hampir saja aku lupa memberi tahu Bibi. Apa Bibi percaya, meski design cottage-ku tidak berhasil meraih juara pertama, tapi Tuan Harris dan Nyonya Latifa berniat memakainya untuk cottage pribadi mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka juga berkata akan membayarku layaknya arsitek profesional; 6,48% dari nilai proyek. Bukankah itu bagus?" Renjana terus bicara tak membiarkan Mina yang berada di seberang telepon menyela. Gadis itu sengaja meski tahu beberapa kali pengasuhnya itu berusaha memotong kata-katanya. Ia tahu betul, Mina pasti berniat menolak niat baik Renjana. Wanita paruh baya kepercayaan almarhum orang tuanya itu pasti tidak mau merepotkannya, apalagi jika sampai harus menghabiskan biaya sampai puluhan juta untuk membayar jasa seorang pengacara. Akhirnya, secara sepihak Renjana pun memutuskan sambungan telepon tersebut. Ia tak mau mendengar alasan atau penolakan apapun. Ia bertekad akan mendapatkan pengacara terbaik untuk membuktikan bahwa Hasan tidak bersalah. Ia menghela nafas, merasakan sedikit kelegaan di antara sekian banyak tekanan. Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, Renjana berjalan perlahan menuju pintu kaca yang mengarah ke balkon. Angin malam menerpa wajahnya yang nampak sendu. Kelap-kelip lampu di segala penjuru ibu kota dalam penglihatannya tak cukup mampu menghibur hati. Sepi, hanya itu yang ia rasakan kini. Ia masih gamang dengan pikirannya sendiri, ia sudah menjadi yatim piatu. Ia tidak dapat menggambarkan seperti apa kehidupannya nanti. Pada siapa ia akan berkeluh-kesah mengenai segala persoalan yang mungkin akan ia hadapi, pada siapa ia dapat berbagi cerita ketika suatu hari nanti ia bertemu sosok lawan jenis yang menarik hati, bagaimana saat ia akan menikah, melahirkan, merawat anak, siapa yang akan mengajarinya, Renjana mengesah dalam hening, berusaha untuk tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam air mata. Bagaimanapun, ia hanya gadis berusia dua puluh satu tahun yang belum begitu banyak memakan asam garam kehidupan. Meski telah hampir enam tahun kehilangan ibunya, sebelumnya ia masih memiliki sang ayah yang membimbingnya melalui masa-masa pubertas yang labil. Tapi kini, ia harus bisa mengandalkan dirinya sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menghadapi setiap resiko dari keputusan itu. Ia bahkan belum bisa merasa yakin pada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar akan bisa melalui segalanya. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sementara itu di kediaman Chandra Khan, Harris yang entah mengapa malam itu terus gelisah memutuskan untuk mencari buku bacaan, berharap setelah dengan membaca maka matanya akan lelah dan kemudian terpejam. Ia berjalan perlahan menyusuri rak-rak di perpustakaan pribadinya yang menjulang tinggi dan dipenuhi berbagai macam buku. Tapi setelah berkeliling sekian lama, ia tak juga menemukan satu pun judul yang menarik minatnya. Harris kemudian beralih ke sisi kanan perpustakaan dimana terdapat sebuah meja kerja dari kayu mahogany yang dipoles vernis cokelat gelap. Di belakang meja itu terdapat rak yang berisi pigura-pigura foto, plakat penghargaan, dan beberapa hiasan kemarik antik dari berbagai negara. Meja kerja tersebut merupakan tempat mendiang ayahnya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terpaksa dibawa pulang. Ayahnya adalah sosok yang paling gemar membaca dibandingkan anggota keluarga yang lain, suka menghabiskan waktu senggangnya dengan menenggelamkan diri dalam buku bacaan. Harris selalu mengira bahwa karena sebab itulah ayahnya memilih perpustakaan sebagai ruang kerjanya alih-alih menggunakan satu ruangan tersendiri. Tapi itu dulu, ketika ia masih belum paham tentang hubungan rumit kedua orang tuanya. Saat itu ia hanya tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang pendiam dan hanya bicara sesuatu yang dirasa perlu dan penting saja. Ia sama sekali tak menyangka bahwa itu bukanlah kepribadian aslinya. Sampai pada suatu malam ia yang tidak sengaja mendengar perdebatan ayah dan ibunya akhirnya menyadari satu hal, bahwa dingin yang ia rasakan di antara kedua orang tuanya selama ini bukan karena sifat pendiam ayahnya, melainkan karena tidak adanya cinta kasih dalam pernikahan mereka. Harris yang saat itu telah memasuki usia remaja, tentu tak begitu sulit memahami persoalan antara kedua orang tuanya. Ia paham betul tapi tidak tahu harus berbuat apa. Hingga ia pun akhirnya memilih untuk juga bersikap dingin, berpura-pura bahwa hal tersebut bukanlah satu hal yang penting untuk dipikirkan, berpura-pura seakan ia tak tahu apa-apa. Sekarang, ketika keduanya telah tiada ia baru menyadari. Betapa ia menyesal telah mengambil sikap itu. Mestinya dalam kepura-puraan itu ia bisa tetap berusaha bersikap hangat seperti biasa. Andai ia tahu maut akan segera merenggut dua orang terkasihnya tersebut. Kini, hanya penyesalan yang pada akhirnya membuatnya menjadi semakin tak tersentuh. Kasih sayang neneknya lah yang setidaknya membuatnya tidak nampak seperti manusia tanpa jiwa. ** Orang bilang darah lebih kental dari pada air. Ikatan yang terbentuk karenanya tak akan putus. Kenyataannya? Tak selalu demikian. Tak jarang dua orang tanpa hubungan darah bisa memiliki hubungan dekat dan mengaburkan segala keasingan. Sebaliknya, mereka yang jelas-jelas berasal dari darah yang sama bisa menjadi begitu asing layaknya orang-orang yang tak pernah saling mengenal. Hal semacam itu memang nyata adanya. Perihal sebab yang melandasinya bisa sepele bisa juga satu perkara besar yang tak mudah diterima masing-masing pihak. Tapi sebuah kesalahpahaman pun bisa jadi alasannya. Hanya saja, terkadang ego manusia terlampau tinggi untuk sekedar berusaha saling memahami, apalagi memaafkan. "Papa." "Oh. Hai, Sweetheart. Baru pulang?" Reginald berusaha tersenyum menyambut putrinya yang memasuki ruang kerjanya. "Papa melamun lagi. Berkali-kali Regina ketuk pintu tapi Papa tidak menjawab. Jadi, Regina masuk saja." Memasang wajah cemberut, Regina duduk di samping ayahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki lewat paruh baya itu. "Maaf. Papa tidak dengar." "Papa merindukannya?" Tanya Regina mengambil alih album foto yang sebelumnya berada di pangkuan Reginald. "Hmm. Sangat." Mata sayu Reinhard memandang sebuah foto lawas sepasang laki-laki dan perempuan yang tersenyum cerah ke arah kamera. Laki-laki itu adalah ia sendiri lebih dari dua puluh tahun lalu. Sementara perempuan di sampingnya yang ia rangkul adalah seseorang yang begitu berharga di masa lalunya. Seseorang yang membuatnya memendam rasa bersalah dan penyesalan mendalam hingga kini. "Cantik sekali." "Ya. Dia selalu menjadi yang tercantik dimanapun ia berada. Karena bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi juga hatinya." Ucap Reinhard sambil mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengalir. "Papa tidak perlu terus-menerus memendam perasaan bersalah itu. Bagaimanapun semua yang telah terjadi adalah atas kehendak Tuhan. Lagi pula Papa juga sudah berusaha melakukan yang terbaik, bukan?" Hibur Regina yang tak tega melihat kesedihan ayahnya. "Papa hanya kesal dengan diri sendiri, Sayang. Bagaimana bisa detektif-detektif yang kita kerahkan selama ini tidak mendapatkan satu petunjuk pun? Papa benar-benar putus asa. Tapi Papa juga tidak bisa berhenti sebelum memastikan segalanya." "Regina mengerti. Tapi Papa juga tidak boleh larut dalam kesedihan seperti ini. Tidak baik untuk kesehatan Papa. Kalau Papa sampai sakit, bagaimana Papa akan mencarinya? Lalu bagaimana dengan Regina? Regina juga butuh kasih sayang dan bimbingan Papa." "Oh, ya Tuhan. Maafkan Papa, Sweetheart. Maafkan Papa jika persoalan ini malah membuatmu terabaikan." Ucap Reinhard sambil membawa sang putri ke dalam pelukannya. Yang miris dari sebuah kehilangan mungkin bukan hanya yang hilang itu, tapi terabaikannya yang masih ada. Seperti itulah yang dialami Regina. Meski tak kurang banyaknya kasih sayang dan perhatian yang ia dapatkan selama hidupnya, ada hal yang selalu membuatnya merasa tidak lengkap karena kehilangan yang dialami sang ayah. Kehilangan yang membuat ayahnya tidak pernah bisa benar-benar tersenyum meski laki-laki itu nampak tersenyum. Nyatanya, senyum yang ditunjukkan tak lebih dari sekedar usaha untuk menutupi segala duka laranya. Dulu, Regina tak cukup mengerti apa yang terjadi. Ia sempat marah pada semua, pada keadaan yang membuatnya tak nyaman. Kenapa ia harus tumbuh dalam keluarga yang rumit dan sulit dimengerti. Tapi kini ia telah menjadi seorang wanita dewasa yang bisa menilai apa yang terjadi di sekitarnya. Perlahan ia mencoba untuk memahami dan menerimanya. Apalagi sekarang hanya ia yang ayahnya miliki. Ia hanya ingin selalu mendukung ayahnya, menikmati kebersamaan mereka supaya tak menyesal di kemudian hari, seperti yang terjadi pada kakek nenek dan ayahnya dahulu. "Regina juga berharap pencarian kita selama ini akan segera mencapai titik temu. Tapi kita juga mesti bersiap andai apa yang kita temukan tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan. The show must go on, right?" "That's right, Sweetheart. Mari kita hadapi ini bersama." Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Seringkali pelukan sudah cukup mewakili sekian banyak kata yang tak dapat terucap. Membuat keduanya juga saling menyadari bahwa seberapa pun mereka berusaha nampak kuat, ada kalanya mereka perlu mengakui kelemahan masing-masing dan menunjukkan adanya kebutuhan untuk saling menguatkan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN