Part 9

1787 Kata
Adelia Williams, super model yang malam itu mengenakan gaun model mermaid berwarna gold, pulang ke rumah dengan muka masam. Sepanjang acara ia dibuat kesal karena meski telah tampil all-out, tapi ia tetap saja menjadi seseorang yang tidak terlihat oleh seseorang yang sangat didambakannya, siapa lagi jika bukan sang CEO tampan pewaris tunggal Chandra Khan Group, Harris Chandra Khan. Segala daya upaya telah ia kerahkan, tak hanya tampil cantik semaksimal mungkin, berusaha memulai obrolan dengan Harris, juga memberikan perhatian pada Latifa yang merupakan orang terpenting bagi lelaki dingin itu, berharap membuatnya terkesan. Tapi apa hasilnya, nol besar. Harris hanya menanggapi obrolannya dengan satu dua patah kata tanpa ekspresi. Sementara perhatian yang ia tunjukkan pada Nyonya Latifa seolah tak berarti sama sekali. Kekesalan Adel semakin menjadi ketika lelaki yang diidamkannya itu justru pergi menghampiri seorang gadis asing yang baginya hanya sedang sedikit beruntung karena memenangkan kontes design itu. Selebihnya, Adel melihat gadis itu tak lebih dari seseorang dari kelas rendahan lulusan sekolah menengah kejuruan yang bermimpi bisa menjadi Cinderella. Jangan harap, batin Adel. Mengingat apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu di gala dinner yang baru saja ia hadiri itu membuat Adel serasa ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Sayangnya, ia masih berada di dalam mobil bersama ayah dan kakak angkatnya saat ini. "Ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Andy Williams pada anak semata wayangnya. "Tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit kesal." Jawab Adel dengan nada ketus. "Berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan pikirkan cara untuk membuat laki-laki itu takluk di hadapanmu!" "Apa Ayah pikir selama ini aku tidak berusaha mati-matian?" "Aku tidak melihat hasilnya." "Berhentilah terus meremehkanku! Bukankah akan lebih baik jika Ayah membantuku dengan kekuasaan yang Ayah miliki itu? Atau bahkan hal itu juga tidak berguna." Adel menumpahkan segala emosi yang terpendam dalam d**a seakan tak peduli lagi bahwa pria lewat paruh baya di sampingnya itu adalah ayah yang harus ia hormati. "Bisakah kau berhenti bersikap arogan dan tidak sopan pada ayahmu sendiri? Kau tahu sendiri model seperti apa yang mereka inginkan, konsep apa yang selalu mereka usung. Lalu kenapa kau masih juga bertingkah seperti ini? Bersikaplah lebih manis dan jadilah berguna dari pada terus saja merengek tak tahu diri! Kau mengerti maksudku kan?" "Tidak bisakah Ayah menggunakan pengaruh yang Ayah miliki untuk mengubah konsep itu? Bukankah selama ini pengaruh Ayah di sana bisa mengubah segalanya sesuai yang Ayah mau?" Protes Adel yang kesal karena merasa terus ditekan. Apa yang ia lakukan selama ini tak lain adalah mewujudkan ambisi ayahnya dan ia selalu patuh meski seringkali usahanya tidak dihargai. Bukankah ayahnya juga harus ikut andil dalam kerja keras itu, jadi kenapa harus ia yang selalu disalahkan jika upaya mereka tidak kunjung berhasil, batin Adel. Sementara itu, Andy Williams menahan geram dalam hati mendengar perkataan putrinya itu. Benar bahwa dahulu, pengaruhnya terhadap kebijakan perusahaan jauh lebih besar dibandingkan saat ini. Tepatnya ketika tampuk kepemimpinan Chandra Khan Group masih berada di tangan Zain Chandra Khan, ayah Harris. Tapi Harris jauh berbeda dengan Zain. Harris lebih mirip dengan Malik Chandra Khan, kakeknya yang tegas, cerdas, memiliki insting tajam, selalu memegang prinsipnya dengan kuat. Yang paling merepotkan bagi Andy adalah bahwa Harris punya keberanian untuk berinovasi dan tidak takut mengambil resiko demi mendapatkan keuntungan lebih tapi tetap penuh perhitungan. Hal itu tentu membuat Andy kesulitan mencari celah untuk menancapkan pengaruhnya. Tidak mudah pula baginya menemukan kekurangan dan kesalahan Harris yang bisa ia jadikan alasan menghasut anggota dewan direksi lain untuk mengusik posisi putra dari sahabatnya itu. Maka, kini ia hanya terdiam tak ingin membalas kata-kata terakhir putrinya yang membuatnya merasa seperti disiram cuka pada lukanya. Adu mulut antara anak dan ayah itu hanya ditanggapi dengan kebisuan oleh Narendra Rahardian yang duduk di samping supir yang sudah terbiasa dengan hal tersebut. Keduanya bersikap seolah tengah di tempat berbeda dan tidak mendengar apa-apa. Telinga mereka sudah kebal dengan makian juga pekikan yang keluar dari dua orang yang duduk di kursi belakang. Meski telah bertahun-tahun masuk dalam keluarga Andy Williams dan diperlakukan sebagai tuan muda di kediaman itu, Rendra selalu berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia tetap saja orang luar yang suatu hari harus membalas budi dengan setimpal atas apa yang ia dapatkan selama ini. Ia tahu persis kemungkinannya dan hal itu bisa jadi akan menggerus nuraninya. "Pekan depan proyek resort di Karimunjawa dengan designmu itu akan dimulai bukan?" Pertanyaan itu membangunkan Rendra dari lamunannya. "Benar, Ayah." "Hmm. Aku hanya mengingatkan supaya kau juga mempersiapkan design gedung baru Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kau tahu yang satu itu sangat penting bagiku." "Ya, Ayah." Jawab Rendra singkat menahan jengah. Ia sebenarnya paling malas berurusan dengan proyek apapun yang berhubungan dengan pemerintah. Baginya, mereka sangat melelahkan untuk dihadapi. Proyek dalam pemerintahan selalu menjadi ladang basah dengan birokrasi yang berbelit-belit. Tapi sekali lagi ia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa ia tidak dapat membantah lelaki itu. Entah kehidupan macam apa yang sedang ia jalani saat ini. Tak dapat dipungkiri ia merasa bahagia karena dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seorang arsitek, bekerja di perusahaan ternama dan menjadi bagian dari keluarga yang terhormat. Tapi ia merasa seperti ada sebuah lubang besar di hatinya. Ada kekosongan yang selalu dapat membuatnya gelisah di kala sendiri. Dan ia tak tahu bagaimana menanganinya. ** Renjana menatap mobil yang nampak sangat mewah di hadapannya dengan takjub. Ia mengira dalam hati berapa harga mobil yang dari lambangnya saja nampak gahar, apalagi harganya, batin gadis itu. Seumur hidup baru kali ini ia melihat mobil semewah itu secara langsung. Membayangkan bahwa sesaat lagi ia akan menaiki mobil itu membuatnya kesulitan menyembunyikan ekspresi kegirangan dan antusiasmenya. "Silakan, Nona." Supir yang dikirim untuk menjemputnya itu membukakan pintu mobil dengan ramah. Renjana tersenyum canggung dan mengucapkan terima kasih sebelum memasuki mobil tersebut. Ia merasa sikap supir paruh baya itu terlalu berlebihan. Ia bukanlah nona muda majikannya. Ia hanyalah gadis yatim piatu yang dengan ajaibnya tengah mendapat keberuntungan setelah kemalangan. Seketika itu bayangan-bayangan beberapa waktu lalu berkelebatan kembali. Wajah pucat ayahnya yang terbungkus kafan, puing-puing pabrik, tangis Bibi Mina ketika Hasan digelandang ke kantor polisi. Ah, ya, entah bagaimana nasib laki-laki itu, bagaimana hasil penyelidikan polisi, bagaimana caranya membuktikan bahwa Hasan tidak bersalah atas kebakaran itu, bagaimana jika ternyata ada orang yang mengkambinghitamkannya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya tak sadar bahwa mobil yang ia tumpangi telah berhenti dan pintu di sampingnya telah terbuka. "Nona Renjana?" "Ah, ya. Maaf. Terima kasih." Renjana keluar dari mobil dan di sambut oleh seorang pelayan wanita yang nampak ramah di depan pintu utama. Ia pun segera dibimbing untuk menemui tuan rumah. "Selamat pagi, Nyonya Latifa, Tuan Harris." Sapa Renjana pada dua orang yang tengah duduk di depannya. Mereka berada di serambi belakang yang menghadap ke arah taman dan kolam renang. Suasana teduh karena pepohonan yang mengelilingi taman sejajar dengan dinding pagar rumah itu. Di antara kolam renang dan taman terdapat jalan berkelok yang nampak cantik tertutupi batu koral putih. Nampak berbagai macam jenis bunga di taman, mulai dari mawar, amarilis, macam-macam anggrek, begonia, peony, dan lain sebagainya. "Selamat pagi, Renjana. Silakan duduk. Kami sedang minum teh, apa kau juga suka teh, Renjana?" Tanya Latifa. Renjana pun duduk di samping Latifa sehingga ia kini berhadapan dengan Harris yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. "Ya, Nyonya. Kebetulan kami sekeluarga penikmat teh, terutama ibu." "Oh ya? Lalu kau mau minum teh apa, Renjana? Aku punya beberapa jenis teh yang mungkin kau suka." "Ah, tidak perlu repot, Nyonya. Saya..." "Kau tamu di rumah kami. Jadi, katakan saja, teh apa yang kau suka, barangkali aku punya stoknya." "Emh.., baiklah kalau begitu. Saya biasanya minum teh krisan di pagi hari seperti ini, Nyonya." "Ah, kebetulan sekali. Katakan pada Salma untuk membuatkan teh krisan untuk Nona Renjana." Perintah Latifa pada pelayan yang tadi mengantarkan Renjana. "Sungguh kebetulan, Harris juga suka dengan jenis teh yang satu itu. Karena dulu ketika kecil, dia seringkali terkena flu." Renjana tertegun mendengar cerita tersebut, bagaimana ada kebetulan yang sama seperti itu dengannya. Ya, Renjana kecil pun dulu mudah sekali terkena flu dan ibunya akan selalu membuatkannya teh krisan untuk meringankan gejala flunya. Seiring berjalannya waktu, ia jadi menyukai teh krisan selain teh chamomile yang diminumnya ketika susah tidur. "Apakah dulu kau juga mudah terserang flu, Renjana?" Tanya Latifa setelah melihat reaksi gadis itu. Entah karena malu atau apa, Renjana hanya menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum tipis dan anggukan kecil yang kemudian memancing tawa Latifa. "Nenek, tidak bisakah kita tidak membicarakan hal memalukan semacam itu? Kita mengundang Renjana untuk membicarakan hal lain." Protes Harris. Belum sempat Latifa menanggapi cucunya itu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang pelayan wanita paruh baya datang membawa nampan berisi secangkir teh krisan dan meletakkannya di depan Renjana. Wajah wanita itu begitu teduh dan mengingatkan Renjana pada sosok Bibi Mina. "Silakan, Nona." Ucap wanita itu. "Terima kasih." Jawab Renjana disertai senyum manis yang tak luput dari pengawasan Harris. Sejenak suasana hening di antara mereka. Masing-masing tenggelam dalam kenikmatan teh yang menenangkan. Renjana menyesap tehnya perlahan. Sekilas nampak bayangan masa kecilnya berlalu-lalang. Tapi sekuat mungkin ia berusaha untuk tak terlalu terbawa perasaan. "Seperti yang Harris katakan tadi, Renjana, kami mengundangmu ke sini untuk membicarakan beberapa hal. Jelasnya terkait dengan design cottage-mu. Memang benar bahwa design yang akan digunakan untuk resort baru kami adalah design pemenang pertama. Tapi, meski kau pemenang ketiga, designmu sebenarnya juga sangat layak. Karena itulah, aku ingin menggunakannya untuk cottage privat yang akan kami bangun di Kepulauan Seribu. Bagaimana?" "Anda yakin, Nyonya? Design saya?" Tanya Renjana tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Sebenarnya ada beberapa hal yang mungkin perlu diubah. Jika kau setuju, kita akan membicarakannya nanti." Harris menjelaskan. "Bukan perubahan yang besar, Renjana. Designmu itu sudah sangat sesuai dengan seleraku. Kau tahu, diusiaku yang sesenja ini, hanya dengan tanaman dan bunga-bunga aku bisa berbagi cerita. Karena itulah aku ingin ruang terbuka hijau yang lebih luas." Ungkap Latifa sambil memberi lirikan singkat pada Harris, memberinya kode yang entah dapat diterima ataukah tidak oleh cucunya yang dingin itu. Renjana tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menanggapi kata-kata Latifa. Bukan soal perubahan yang diinginkan pada designnya, tapi pada keluhan yang tersirat pada akhir kata-kata itu. Apalagi ia tadi sempat melihat lirikan mata Latifa pada Harris meski sangat singkat dan disertai senyuman padanya. Maka ia pun memutuskan untuk tersenyum saja. Tak berapa lama kemudian, waktu makan siang tiba. Mereka menikmati hidangan dengan tenang. Tak ada yang berbicara selama makan. Baru setelah selesai dengan makanan di piring masing-masing, mereka berbincang ringan melanjutkan obrolan sebelumnya hingga pukul dua siang. Latifa undur diri untuk istirahat meninggalkan Harris dan Renjana yang kemudian melanjutkan pembicaraan di ruang tengah. Nampak kecanggungan pada keduanya. Niat Harris untuk bisa mengobrol santai pun pupus sudah karena ia tak dapat menemukan topik obrolan apapun yang menarik kecuali mengenai pembangunan cottage yang sebelumnya mereka bicarakan. Maka, ia pun hanya dapat mengumpat dalam hati. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN