Part 8

1772 Kata
"Selamat untuk kemenanganmu, Renjana." "Terima kasih. Selamat juga untuk Anda, Tuan Narendra Rahardian." Lelaki bersetelan jas abu-abu gelap dengan dasi hitam itu nampak sedikit terkejut. Untuk meredakan keterkejutannya itu, ia lalu membenarkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot sama sekali. Ia tersenyum ramah membuatnya terlihat semakin menawan. "Senang rasanya mengetahui bahwa ternyata kau mengingat nama lengkapku. Tapi panggil Rendra saja, please, dan tak perlu bicara terlalu formal padaku." "Jika itu yang kau mau, aku takkan sungkan." "Begitu terdengar lebih baik. Toh selisih umur kita rasanya tidak terlalu jauh. Ngomong-ngomong, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Bukankah demikian? Kereta Jayabaya, Semarang-Jakarta. Benar?" "Ya. Aku sebenarnya bisa mengingatnya dengan baik, hanya saja merasa agak sungkan jika menyapa terlebih dulu. Apa yang akan kukatakan jika ternyata kau tidak mengingatku? Aku pasti mati kutu." Renjana terkekeh membayangkan andai hal tersebut benar-benar terjadi. "Hahaha, jujur saja sampai beberapa saat lalu aku memang agak ragu. Apalagi penampilanmu saat di kereta dan saat ini sangat jauh berbeda." Renjana sebenarnya merasa agak kurang nyaman berada di acara gala dinner malam itu. Sejak awal kedatangannya, entah mengapa ia merasa mendapatkan pandangan yang sulit diartikan dari orang-orang yang ia lewati. Meski sebenarnya ia sedikit bisa menduga bahwa itu pasti ada kaitannya dengan apa yang terjadi pada presentasi siang tadi. Meski para awak media tidak berada di dalam ruangan meeting dimana mereka menyelenggarakan babak final itu, tapi mereka dapat menyaksikan jalannya acara melalui layar datar besar di lobi. Tentunya fakta mengenai latar belakang pendidikannya menjadi satu topik yang cukup menarik sebagai biang gosip. Tentu saja, bagaimana mungkin finalis sebuah kontes design yang diadakan perusahaan sekelas Chandra Khan Group ternyata hanyalah seorang lulusan sekolah menengah kejuruan, ditambah lagi ia menjadi finalis untuk dua kategori kontes, pasti keanehan itulah yang dipikirkan orang-orang. Bahkan sampai beberapa saat lalu ketika ia dinyatakan sebagai pemenang pertama untuk kategori design furnitur dan pemenang ketiga untuk design cottage, Renjana merasa tatapan-tatapan yang mengarah padanya justru semakin terasa menusuk. Gadis itu merasakan kesinisan dan hal itu membuatnya ingin segera beranjak dari sana supaya bisa kembali ke apartemen untuk memandangi foto ayah dan ibunya guna melepas rindu. "Ah, rupanya arsitek tampan yang sedang naik daun ini mulai melancarkan jurus mautnya." Renjana dan Rendra seketika menolehkan kepala dan menatap wanita cantik dengan maxi dress hitam yang hanya tinggal beberapa langkah lagi ke tempat mereka berdiri. Wanita itu melangkah dengan begitu anggun dan penuh percaya diri menunjukkan kematangannya. "Kau cantik sekali malam ini, Renjana. Karena itu berhati-hatilah dengan para pria di sini, terutama yang selalu nampak manis. Jangan mudah terbuai untuk kemudian jatuh dalam perangkapnya. Percayalah padaku." Belum sempat Renjana berhasil mencerna kata-kata wanita cantik itu, Rendra terlebih dahulu menanggapinya. "Apa kau sedang menyindirku, Regina?" "Apa aku menyebut namamu? Oh, tunggu. Jadi, kau merasa? Berarti apa yang aku katakan itu benar?" Regina bertanya balik membuat Rendra terdiam tak dapat menjawab. Renjana yang melihatnya hampir tidak dapat menahan tawa. Akhirnya ia menemukan sesuatu yang sedikit menghibur dan mengurangi kebosanannya. "Aku rasa kalian cocok." Mendengar hal tersebut, sontak membuat kedua pasang mata yang sejak tadi beradu sengit kini beralih pada Renjana dengan tatapan protes. Sementara gadis yang merasa tak bersalah dengan perkataannya itu masih belum mengubah ekspresinya, masih dengan tawa yang coba ia tahan. Situasi itu berlangsung beberapa saat hingga tiba-tiba tanpa mereka bertiga sadari, seseorang tengah berjalan mendekat dengan langkah tegap. "Apa boleh saya bergabung?" Harris Chandra Khan, sang CEO yang malam itu semakin nampak berkharisma dalam balutan jas slim- fit hitam dari Giorgio Armani dengan dasi sutra merah, siapa sangka akan mendatangi mereka bertiga yang seolah menepi dari hiruk-pikuk pesta. "Apa kehadiran saya mengganggu kesenangan kalian?" Tanya lelaki berhidung mancung itu lagi karena belum mendapat respon dari ketiga orang di hadapannya yang nampak canggung. "Tidak. Tentu tidak. Ah, maaf. Kami hanya sedikit terkejut Anda bersedia bergabung bersama kami." Jawab Regina berusaha memecah suasana. "Kenapa tidak? Malam ini sebenarnya agak membosankan karena orang-orang itu tidak membiarkan waktu berlalu tanpa membicarakan soal bisnis. Rasanya sungguh melelahkan." "Saya rasa mereka hanya berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidak mudah untuk bertemu dan berbincang dengan Anda." Kali ini Rendra yang menimpali lelaki itu. Memang apa yang dikatakan Rendra tidaklah berlebihan. Kenyataannya memang sangat sulit untuk bertemu atasannya itu. Bahkan ia sendiri yang merupakan salah satu arsitek andalan di perusahaannya. Ia hanya akan bisa bertemu dengan lelaki paling berkuasa di Chandra Khan Group itu ketika tengah menangani proyek-proyek tertentu yang nilainya fantastis sehingga sang CEO perlu turun tangan langsung. "Baiklah. Mari kita lupakan sejenak soal mereka dan juga bisnis. Jadi, Tuan Harris.., apakah Anda menghampiri kami untuk menyampaikan sesuatu?" Tanya Regina memberanikan diri. Sebenarnya ia memang benar-benar pemberani dan tidak takut andai kata-katanya menyinggung lawan bicaranya. Ia bahkan tak terlalu peduli jika yang ia ajak bicara saat ini adalah seorang pengusaha yang sangat berpengaruh dan bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan keluarganya yang terbilang kecil. "Nona Regina putri Tuan Reinhard, Anda memang pandai membaca situasi. Jadi, bisakah saya bicara empat mata dengan Nona Renjana Saga sekarang?" "Ya, tentu saja, Tuan Harris." Jawab Regina singkat mengerti bahwa ia harus segera menyingkir dari tempat itu karena sejak awal kedatangannya, bos Chandra Khan Group itu terus saja curi-curi pandang pada rekan di sampingnya. Sebelum beranjak, ia sempat menatap Renjana yang seolah merasa keberatan untuk ditinggalkan berdua saja dengan laki-laki yang membuatnya panas dingin itu. Sementara Rendra hanya membungkuk hormat dan berlalu seiring kepergian Regina tanpa mengatakan apapun yang ia rasa memang tak perlu. Setelah kini mereka hanya tinggal berdua, suasana jadi agak canggung. Beberapa saat mereka hanya saling terdiam dan melihat ke luar jendela. Renjana kesulitan menemukan topik pembicaraan karena lawan bicara di dekatnya kini adalah satu jenis orang yang sama sekali belum pernah ia hadapi, apalagi kali ini hanya berdua, meski sebenarnya tidak benar-benar berdua. Sedangkan Harris entah mengapa saat itu merasa lidahnya agak kelu. Ia tahu persis apa yang ingin dia sampaikan tapi seolah bingung akan memulai dari mana. "Ehm..," Harris berdehem untuk meredakan segala gejolak emosi dalam dirinya. "Nona Renjana..." "Renjana saja. Emh.., maksud saya Anda bisa panggil saya Renjana saja, tanpa Nona. Saya tidak terbiasa dengan bahasa yang terlalu formal." "Owh, baiklah. Renjana, seperti yang kau tahu bahwa design pemenang pertama akan mulai dibahas di depertemen perencanaan mulai pekan depan, maka kita perlu membicarakan mengenai satu unsur penting dalam designmu, yaitu ukiran. Kau tahu bahwa kami sebelumnya tidak mengerjakan produk semacam ini sehingga kami tidak mempunyai tenaga ahli untuk itu. Kalau kau punya usulan beberapa orang yang cukup bisa diajak kerja sama, kau bisa mengajukan nama-namanya secepatnya." Mendengar hal itu, pikiran Renjana seakan hendak melompat-lompat. Seketika ia teringat dengan orang-orang dari pabrik ayahnya yang ia tak tahu apakah mereka kini telah menemukan pekerjaan baru ataukah masih menganggur. Ia tahu persis kualitas ukiran yang mereka hasilkan, ada ciri khas yang membuatnya berbeda dari jenis ukiran lain di kota asalnya, salah satu poin plus yang selalu jadi unggulan pabrik ayahnya selama ini. Sepertinya terdengar bagus jika ia melibatkan mereka untuk proyek ini. Siapa tahu Chandra Khan Furniture akan mengeluarkan produk serupa untuk kuartal selanjutnya. "Sebenarnya, kedepannya kami berniat membuat produk ekslusif yang dibuat terbatas, serupa produk yang kau design, furnitur klasik dengan menekankan nilai estetika pada ukiran. Tentu dengan standard menengah ke atas." Perkataan Harris tersebut seolah menjawab harapan Renjana untuk masa depan para mantan rekan ayahnya. Maka ia pun tak ragu mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya saat itu. "Kebetulan saya mengenal beberapa orang yang mungkin sesuai. Sebelumnya mereka bekerja di pabrik kami sebelum... sebelum... pabrik itu mengalami kebakaran." Ada kegetiran dalam ucapannya. Tapi meski suaranya tiba-tiba menjadi sedikit bergetar, Renjana berusaha menstabilkan diri. "Kebakaran?" "Ya. Peristiwa itu terjadi belum lama ini. Kasusnya bahkan belum dapat dipecahkan polisi. Kami masih menunggu hasil penyelidikan." Nampak kemuraman pada raut wajah Renjana ketika menuturkannya. Bayangan-bayangan puing hitam legam dan wajah putus asa para pekerja melintas di depan matanya. "Maaf, aku turut menyesal atas hal itu." "Terima kasih. Ah, saya akan segera menghubungi mereka secepatnya. Jika mereka bersedia, saya akan menunjukkan portofolionya. Saya yakin Anda akan terkesan dengan hasil tangan ajaib mereka." Tentu saja saat itu Renjana tidak tahu bahwa sebenarnya Harris telah menyelidiki beberapa hal yang berkaitan dengan latar belakang gadis itu, termasuk pabrik ayahnya dan produk-produk yang dihasilkan. Bahkan tea table untuk hotel baru yang dibangun Chandra Khan Holding, satu anak perusahaan Chandra Khan Group yang bergerak di sektor properti, real estate dan konstruksi, yang diresmikan belum lama ini ternyata berasal dari pabrik ayah Renjana. Karena itulah Harris berinisiatif untuk merekrut orang-orang yang pernah bekerja di sana. Sebagai seorang pengusaha yang selalu berhati-hati, tentu ia tidak akan mungkin sembarangan memutuskan sesuatu bukan? Selebihnya, kenapa ia memberikan tawaran itu tak lain adalah karena adanya dorongan untuk semakin banyak berinteraksi dengan gadis berkulit sawo matang itu. Entah kenapa, Harris sendiri bingung. "Semoga mereka bersedia. Kami mengandalkanmu untuk membujuk mereka. Oh, satu lagi, jika besok kau tidak ada rencana, nenek berniat mengundangmu untuk makan siang di rumah kami." Dahi Renjana sedikit mengernyit. Makan siang dengan Nyonya Besar dari Chandra Khan Group? Di rumah? Entah mimpi apa gadis itu sampai-sampai mendapat undangan privat semacam itu. Sesaat ia menolehkan kepala ke arah dimana Nyonya Latifa duduk. Tak disangka, ternyata beliau pun tengah menatap ke arahnya dan tersenyum. Renjana membalas senyuman itu dan memutuskan untuk menerima undangan makan siang itu karena tidak ingin menyinggung perasaan wanita tua yang ia rasa nampak ramah dan baik hati itu. "Baiklah. Sampai jumpa besok." Ucap Harris setelah mendengar kesanggupan Renjana. Berusaha menahan perasaan serupa kembang api yang tengah meletup-letup dalam d**a, ia tersenyum lalu segera undur diri meski terasa agak berat. "Sampai jumpa besok, Tuan Harris." Situasi canggung itu pun berakhir. Harris berjalan kembali ke kerumunan para koleganya dengan batin penuh sesal, mengapa bicara santai dan basa-basi jadi terasa sulit sekali baginya. Awalnya ia tidak ingin langsung membahas tentang bisnis dengan Renjana, ia ingin bertegur sapa membicarakan hal yang tidak penting, mendengar suaranya yang familiar dan memastikannya. Meski pada akhirnya, sekeras apapun ia mencoba, Harris tak juga ingat dimana ia pernah mendengar suara itu sebelumnya. Untunglah masih ada kesempatan yang akan datang dimana ia akan dapat mendengar suara gadis itu lagi. Sementara itu tanpa disadari baik oleh Harris maupun Renjana, sepasang mata dengan bulu mata lentik telah mengawasi sejak mereka ditinggalkan berdua saja. Tatapannya yang tajam itu seakan ingin menguliti satu sosok yang kini berdiri sendiri di samping jendela dengan rona merah muda. Wajah jelita pemilik mata itu kini nampak merah padam memendam bara dalam d**a. Meski pada kenyataannya, model papan atas yang wajahnya wara-wiri di berbagai iklan televisi dan majalah itu sendiri tahu bahwa tidak ada alasan yang cukup baginya untuk hal itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN