“Sebahagia itu ya Lo sekarang?” Suara sarkas seorang wanita yang tiba-tiba datang dari arah samping. Degh, mendengar suara itu, jantungku seolah berdetak lebih cepat. Kualihkan pandangan dan menatapnya. ‘Kenapa dia ada di sini sekarang?’ Batinku. “Aini”. Lisanku mengucap namanya. Ya, Aini, temanku, sahabatku sewaktu di pesantren dulu. Aini menarik bibir kirinya ke samping. Senyumnya terlihat tidak bersahabat. Aku sendiri tidak tahu, awal mula hubungan kami bisa merenggang. Padahal dulu kami saling menyayangi. Selalu berbagi suka dan duka. “Enak ya, bisa ngerasain hidup bahagia?” Ucapan sarkas itu diulangnya kembali. “Apa kabar Aini?” Kutatap wajahnya yang dipenuhi riasan. Bahkan hijab yang menutup rambutnya pun telah ditanggalkan. Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi padan

