Terungkap

1036 Kata
Sepulangnya Rey dari mansion Roger, ayah dari Alinka langsung memanggil orang kepercayaannya. Feeling Roger mengatakan bahwa Rey bukanlah orang lain. Dalam artian, Roger serasa mengenalnya sangat dekat. "Vlad, tolong cari biodata lengkap Rey Sturback Wilson sampai ke akar-akarnya!" perintah Roger. "Pengusaha muda kaya raya asal Italia itu?" tanya Vlad. "Ya, aku seperti mengenal dekat marganya," jawab Roger. "Baik, tunggu sebentar, Tuan," ujar Vlad. Roger mengangguk, dia menunggu Vlad yang sedang mencari biodata lengkap Rey. Dia hanya ingin memastikan apakah dugaannya itu benar atau salah. Jika memang benar, berarti Roger tidak perlu sedikitpun meragukan cintanya Rey pada Alinka. "Rey Sturback Wilson merupakan putra dari pasangan Daniel Wilson dan Zenith Gabriela Wilson," ujar Vlad. Roger yang mendengarnya langsung terdiam. Pantas saja dia merasa ada kedekatan khusus dengan Rey setelah mendengar nama marganya. Ternyata, dugaannya kali ini benar. "Orang tuanya telah meninggal," lanjut Vlad. "Sudah cukup, Vlad. Terima kasih, kau boleh kembali ke pekerjaanmu!" "Baik, Tuan. Saya permisi." Roger langsung keluar dari ruangan tersebut, dia berjalan menuju kamar pribadinya. Setelah masuk ke kamarnya, Roger langsung mendekat ke arah lemari kaca yang berisi berbagai macam foto kenang-kenangan. Roger mengambil sebuah foto lama yang masih utuh, berisi empat orang dewasa dan dua anak kecil. Itu adalah foto keluarga kecilnya dan keluarga kecil sang sahabat. "Anakmu tumbuh cerdas, Daniel," ujar Roger. "Dia menemuiku tadi, membicarakan keseriusannya pada putriku. Dia pemberani sepertimu, aku kagum atas keberaniannya. Mungkin waktu itu, pembicaraan Zenith dan istriku—Dwyne menjadi kenyataan, bahwa kelak mereka berjodoh," lanjut Roger. Tak terasa, air mata mengalir membasahi pipi pria paruh baya itu. Kejadian itu jelas terekam dalam benaknya, pertemuan mereka terakhir kalinya. Daniel Wilson dan Zenith Gabriela Wilson adalah sahabat Roger Rolando dan Dwyne Eraliea Rolando, mereka dipertemukan saat akan melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan. Pasangan suami-istri yang baru menikah dan belum mempunyai pekerjaan yang sesuai. Waktu itu, mereka berkenalan lalu menjalin persahabatan. Hingga keduanya bekerja untuk membuka usaha kecil-kecilan. Namun, karena kecerdasan mereka, akhirnya dalam jangka 1,5 tahun omset yang dihasilkan oleh mereka semakin meledak, hingga mereka mampu mendirikan perusahaan sendiri-sendiri. Roger dan Dwyne mendirikan perusahaan di London, sementara Daniel dan Zenith mendirikannya di Italia, tempat asal mereka. Usaha tekstil yang melambung tinggi itu semakin dikenal oleh banyak orang. Kariernya tidak hanya sampai di situ, Dwyne membuka sebuah restoran di London. Zenith juga mengabarkan bahwa dia membuka toko kosmetik dengan kualitas yang sangat bagus. Lalu, Roger dan Daniel turun ke dunia kegelapan yang menyebabkan kebahagiaan mereka kini tak lengkap. Roger dan Daniel menjadi mafia, mereka tentu mempunyai banyak musuh. "Musuh kita belum sepenuhnya lenyap, Daniel," ujar Roger. "Semoga kau tenang di sana bersama istrimu. Aku selalu mendoakan kalian." Drrt ... Drrt .... Suara getaran terdengar menandakan adanya panggilan masuk. Roger menyeka air matanya, dia segera mengambil ponselnya yang masih menyala itu. Ternyata, putrinya sudah menelepon berkali-kali, Roger terkekeh. Roger menelepon balik nomor putrinya. Dia tahu, bahwa Alinka pasti sudah kesal menunggu jawaban dari ayahnya sendiri. Tak lama kemudian, telepon pun tersambung. "Papah! Apa papah baik-baik saja? Kenapa teleponku baru diangkat? Apa Rey masih ada atau papah masih sibuk?" Pertanyaan Alinka yang begitu banyak membuat Roger terkekeh. Roger menjawab. "Papah baik-baik saja." "Suara papah kenapa berbeda?" tanya Alinka khawatir. Tak selang lama, Alinka mengalihkan panggilannya menjadi video call. Roger langsung menjawab panggilan video tersebut. Alinka menatap Roger khawatir, karena mata pria paruh baya itu sedikit sembab. "Pah, are you okay?" "Okay, papah baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkan itu," ujar Roger. "Apa papah menangis?" tanya Alinka penuh selidik. "Ya, papah menangis. Tadi habis melihat foto yang menjadi kenangan antara keluarga kecil papah dan keluarga kecil sahabat papah. Itu sangat menyedihkan," ujar Roger. Tampak wajah Alinka di seberang sana pun mendadak murung. Jujur saja, dia juga merindukan keluarga kecilnya, merindukan sang ibunda yang telah meninggalkannya, takkan kembali untuk selamanya. "Aku merindukan bunda," ujar Alinka dengan air mata yang sudah lolos keluar. "Sudah, jangan menangis. Kita doakan bundamu bersama-sama." "Apakah Xander ada?" tanya Roger. Alinka mengangguk. "Panggilkan dia, papah ingin berbicara padanya!" "Tunggu sebentar, Pah, aku akan memanggilnya." Alinka terlihat beranjak meninggalkan kamera ponsel yang masih menyala. Terdengar teriakan yang samar-samar memanggil Alexander. Tak lama kemudian, muncullah Alexander yang digandeng oleh Alinka. "Halo, Om. Apa kabar?" sapa Alexander dengan ramah. "Baik, bagaimana kabarmu, Xander?" tanya Roger. "Aku juga baik-baik saja, Om." "Om meminta tolong padamu, bisakah kau dan Alinka kemari besok pagi? Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian." Alexander langsung melirik pada Alinka. Sebenarnya, jadwal mereka cukup sibuk di besok pagi. Hanya saja, sepertinya mereka akan menurut jika Roger yang memintanya datang ke Amerika Serikat. Alexander dan Alinka menggunakan bahasa isyarat, membuat Roger geleng-geleng kepala. Pada akhirnya, keduanya mengangguk setuju. "Kami tidak bisa menolak, jika seorang tuan Roger yang memberikan perintah," ujar Alexander dan Alinka secara bersamaan. *** Saat akan memasuki rumah mewahnya, Rey terkejut, karena pintu yang semula dikunci rapat justru kini tak terkunci. Rey memang tak membawa pengawal untuk menjaga keamanan di sekitar rumahnya. Mungkinkah ada pencuri? "Ayo, cepat masuk, Demian!" perintah Rey. Demian langsung masuk terlebih dahulu, tidak ada yang berantakan di sana. Semua masih tertata rapi seperti semula. Rey melihat ke arah dapur, di sana tampak berantakan, ada bekas wajan yang habis digunakan. "Demian, apa kau tadi memasak terlebih dahulu?" tanya Rey setengah berteriak. "Tidak, Tuan. Memangnya kenapa?" tanya Demian yang kini menuju ke arah dapur. "Kau lihat, ini bekas memasak. Siapa orang yang berani menginjakkan kaki ke rumah tanpa seizinku?" Rey terlihat geram. "Mari kita lihat ke lantai atas, Tuan. Kamar atas belum dicek." Mereka bergegas menuju lantai atas. Di sana ada dua kamar, yang pertama adalah kamar Rey masih tertutup rapat. Namun, kamar yang kedua sedikit terbuka. Rey dan Demian langsung bergegas menuju depan pintu kamar tersebut. Tanpa arahan, Demian refleks masuk ke kamar tersebut dengan segera. "Kalian baru pulang?" Pertanyaan itu lolos dari bibir orang yang sedang duduk di sofa, seraya memainkan ponselnya. Rey memutar bola matanya jengah, sementara Demian tengah mengatur napasnya yang naik turun. "Buatkan aku secangkir kopi, Demian!" perintah Rey. "Baik, Tuan," ujar Demian seraya permisi meninggalkan kamar tersebut. "Kecoa, kenapa kau ada di sini?" tanya Rey. "Aku bukan kecoa," ujar orang di sampingnya. "Apa yang membuatmu kemari?" tanya Rey dingin. "Ada beberapa pekerjaan yang memerlukanku di sini, jadilah aku kemari," jawabnya. "Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu? Kau seperti maling, Rafael!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN