b******k!

1079 Kata
Alinka dan Alexander baru saja sampai di kediaman Roger Rolando. Mereka disambut dengan sangat ramah oleh seluruh pelayan dan penjaga keamanan. Alinka dan Alexander duduk di ruang tamu untuk beristirahat seraya menunggu Roger datang dari kantornya. Karena, pria paruh baya itu masih di dalam perjalanan, sebentar lagi sampai. "Permisi, Nona, Tuan. Kamar sudah disiapkan, apa akan langsung ke kamar?" tanya salah satu pelayan mansion. "Nanti saja, kami masih ingin bersantai di sini," jawab Alexander. "Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi," ujar pelayan tersebut dengan ramah. Tak lama kemudian, datang satu orang pelayan yang berbeda membawa dua gelas minuman dan beberapa camilan. Dia menata minuman dan camilan tersebut di meja. "Silakan, Nona, Tuan," ujar pelayan itu. "Terima kasih," jawab Alinka dan Alexander secara bersamaan. Alinka langsung mengambil satu gelas minuman miliknya yang berisi jus buah naga. Wanita itu memang lebih senang minum jus daripada yang lainnya. Sementara Alexander, dia masih asik dengan ponsel di genggamannya. Bisik-bisik terdengar di dapur, para pelayan yang masih baru menanyakan tentang siapa wanita dan pria yang datang itu. Mereka terpesona dengan paras keduanya. "Oh, my God! Jadi yang cantik itu adalah anaknya tuan Roger?" tanya pelayan berbaju kuning dramatis. "Iya, benar. Nona muda tinggal di London, melanjutkan usaha tuan dan membuka cabang-cabang baru di sana," jawab pelayan berbaju biru yang memang sudah lama bekerja di mansion Roger. "Lalu, pria tampan itu siapa? Apa kekasihnya? Mereka terlihat begitu dekat." "Bukan, mereka saudara. Anak dari kakaknya tuan Roger." Deru mobil terdengar di depan, menandakan bahwa Roger telah sampai. Alinka dan Alexander langsung bergegas menuju pintu utama untuk menyambut pria paruh baya tersebut. Roger tersenyum melihat Alinka dan Alexander yang sudah berada di pintu. Sudah begitu lama mereka tidak bertemu. Melihat mereka berdua baik-baik saja, itu sebuah anugerah. Apalagi, sekarang berada di hadapannya. "Papah," ujar Alinka seraya menubruk d**a bidang Roger. Mereka berpelukan, melepas rasa rindunya masing-masing. Meski sebenarnya, pertemuan itu akan menciptakan kerinduan yang baru bukan menghilangkannya. Setelah Alinka melepas pelukannya, kini giliran Alexander yang memeluk Roger. Pria paruh baya itu bersyukur dan berterima kasih karena Alexander telah menjaga Alinka dengan sepenuh hati. Roger sendiri menganggap Alexander seperti layaknya anak. "Ayo, kita masuk!" Roger merangkul keduanya. "Apa kalian sudah membersihkan badan?" tanya Roger. Keduanya sontak menggeleng. "Jorok sekali. Cepat pergi ke kamar kalian, lalu bersihkan badan!" perintah Roger. *** Di sisi lain, Rey tengah berkumpul bersama Demian dan Rafael. Mereka merokok di balkon yang mengarah ke bukit, seraya menikmati angin malam. Pembicaraan mereka malam ini tidak ada yang berat. Jiwa santai mereka tengah dikeluarkan. "Ah, ya. Bagaimana tentang Alinka itu, Rey?" tanya Rafael yang penasaran. "Besok malam, Mr. Roger menyuruhku untuk kembali ke mansion-nya," jawab Rey. "Bagaimana tanggapan Mr. Roger saat tuan menjelaskan maksud dan kedatangan tuan?" tanya Demian yang penasaran. "Dia sempat menjebakku dalam beberapa pertanyaan, tapi aku dengan cepat menjawab pertanyaan itu. Dia terlihat mengagumi keberanianku. Karena sejauh ini, tidak ada yang berani datang menyatakan cintanya pada Alinka di hadapan ayahnya," jawab Rey menjelaskan. "Ah, aku tak sabar untuk menunggu kelanjutannya. Kisah percintaan kau, seperti layaknya novel saja, Rey," ujar Rafael seraya terkekeh. "Namanya juga hidup, penuh dengan drama," jawab Rey terkekeh. "Benar itu, Tuan. Kita layaknya artis yang sedang menjalankan peran, dan dunia adalah tempat kita melakukan shooting. Orang yang kita jumpai dan mengajak berbicara, layaknya teman main," timpal Demian. Mereka tertawa bersama. Obrolan mereka berlanjut hingga larut malam. Padahal, besok siang mereka berbagi tugas menemui beberapa klien yang berada di tiga kota. Namun, tak perlu khawatir, mereka telah terbiasa terjaga bahkan jika sampai pagi pun, mereka tetap akan baik-baik saja. *** "Jadi papah merestui Rey untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius denganku? Tapi, Pah, aku bahkan belum mengenalnya lebih jauh." Alinka mengeluh. Jujur, dia memang merasa tertarik dengan Rey, dan ada perasaan aneh yang menjalar pada hatinya. Namun, dia sendiri belum sebegitu yakin dengan perasaannya. Lalu, ayahnya? Dia malah lebih yakin akan hal itu. "Aku rasa, Rey memang serius padamu, Alin. Sejauh ini, hanya Rey yang berani menemui papahmu. Dari situ dapat terlihat seberapa seriusnya dia," ujar Alexander. "Benar apa kata kakakmu itu, Alin," timpal Roger. "Bagaimana jika Rey adalah musuh di balik selimut? Dia akan menjebakku, lalu nanti akan menyakitiku?" tanya Alinka. "Astaga, kau jangan terlalu menonton siaran di televisi. Ini akibatnya," ujar Alexander. "Hei, aku serius! Bukankah balas dendam juga sering kita lakukan terhadap orang lain dengan cara menjebaknya? Oh, ayolah. Kenapa kalian langsung percaya saja padanya?" Alinka sedikit geram, karena kedua pria yang dia sayangi itu tidak ada yang memihak padanya. Mereka berdua berpihak pada Rey, bagaimana kejadiannya nanti kalau Alinka dan Rey benar menikah? Sepertinya, Roger dan Alexander akan lebih dekat dengan Rey. Itu tidak bisa dibiarkan! Alinka bergidik ngeri. "Apa yang kau pikirkan, Sayang?" tanya Roger. "Aha, aku tahu. Kau pasti membayangkan bahwa kami akan lebih dekat dengan Rey, 'kan?" tebak Alexander, membuat Roger tertawa. "Dari mana kau tahu?" tanya Alinka mendelik tajam. Kedua pria itu langsung tertawa kencang. Tebakan Alexander memang tak meleset sedikit pun, Alinka ternyata mengkhawatirkan akan hal itu. Memang, perasaan wanita jauh lebih sensitif jika membawa urusan hati. "Kau tidak akan terasingkan, tenanglah, Princess," ujar Roger. "Benar itu. Pokoknya, aku akan mendukung jika kau bersama Rey," timpal Alexander. "Aku tidak mau!" ujar Alinka seraya pergi menuju kamarnya. *** Hari sudah berganti, Alinka meregangkan otot tubuhnya. Semalam, Rey datang melalui mimpinya menyatakan keseriusan. Ini benar-benar gila! Pria itu telah merasuki kehidupan Alinka yang semula tenang. "Kenapa kau datang dalam hidupku? Baru beberapa hari kita bertemu, kau sudah membuatku hampir gila, Rey Sturback Wilson!" geram Alinka. Wanita itu mengacak rambutnya prustasi. Dalam sekejap, Rey mengubah kehidupannya. Daripada pusing, Alinka memilih untuk bergegas ke kamar mandi. Dia akan berendam untuk menghilangkan rasa setresnya. Setelah merasa baikan, Alinka mengakhiri ritual mandinya. Jika dihitung, Alinka telah menghabiskan waktu tiga puluh menit lebih di dalam kamar mandi tersebut. Alinka mengeringkan badan dan rambutnya, lalu duduk di hadapan cermin. Ting! Bunyi notifikasi masuk berbunyi, Alinka langsung berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Dilihatnya, ada pesan masuk yang muncul. Alinka melotot tajam, ketika melihat siapa yang mengirimnya pesan du pagi-pagi seperti ini. "Dasar pria gila!" geram Alinka. Alinka membuka pesan tersebut. Entah kenapa, hatinya berasa hangat ketika membaca pesan itu. Secara tak sadar, Alinka tersenyum dibuatnya. [Aku tahu kau sebal mendengar notifikasi masuk dariku. Maka dari itu, aku mengirim pesan padamu untuk membuatmu selalu mengingatku Selamat beraktivitas, Sayang.] "Dasar aneh," ujar Alinka seraya tersenyum. Pipinya kini merah merona. Alinka menghadap ke arah cermin. Wajahnya terlihat memerah sekarang. "Oh, my God! No, no, no!" pekiknya seraya menutup wajahnya sendiri. "Rey b******k!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN