"Papa ingin kalian segera menikah!" ujar Roger.
Kini, di ruangan keluarga mansion Roger Rolando terdapat Rey, Alinka, Alexander dan dirinya. Sejak selesai makan malam bersama, mereka langsung membahas masalah Rey dan Alinka.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Pa? Aku belum siap untuk menikah," ujar Alinka.
"Lebih cepat akan lebih baikbaik," sahut Rey.
"Matamu!" geram Alinka.
Rey terkekeh melihat kekesalan Alinka. Memang benar bukan, lebih cepat akan lebih baik? Rey tidak suka menunda-nunda waktu. Dia ingin semuanya berjalan lancar tanpa hambatan, apalagi ditunda.
"Apa kalian tidak akan tunangan terlebih dahulu?" tanya Alexander.
"Sepertinya tidak, itu membutuhkan waktu lebih lama lagi," jawab Rey.
"Bukankah jika tunangan kita bisa mengenal satu sama lain terlebih dahulu?" tanya Alinka.
"Oh, ayolah. Kita tidak perlu itu," ujar Rey tetap pada argumennya.
"Aku tidak mau!" geram Alinka.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian. Mungkin setelahnya, kamu akan berubah pikiran, Alin," ujar Roger.
Roger pergi meninggalkan ruang keluarga, menuju kamarnya. Dia mengambil foto keluarga kecilnya dan keluarga Daniel. Tak hanya itu, dia juga membawa sebuah kotak yang entah apa isinya.
Setelah selesai, Roger kembali ke ruangan semula. Mereka semua menatap Roger dengan kebingungan. Roger tersenyum, lalu duduk kembali di tempat asalnya.
"Apakah kalian lama menungguku?" tanya Roger. Mereka semua menggeleng.
Roger menyuruh mereka semua mendekat. Ketiga anak muda itu menurut ketika Roger menyuruhnya. Roger meletakkan sebuah figura yang berisi dia keluarga kecil.
"Apa ini, Pa? Kenapa dibawa ke sini, bukannya ini adah foto keluarga kita dengan keluarga mendiang sahabat papa?" tanya Alinka.
"Ya, kau benar," jawab Roger. "Rey, coba kau lihat figura ini!" perintah Roger.
Rey menurut, dia segera melihat figura yang sedang dipegang oleh Alinka. Saat melihatnya, Rey merasakan sesak di d**a, matanya mulai berkaca-kaca. Alinka dan Alexander yang melihatnya merasa kebingungan. Sementara Roger, dia kini tengah tersenyum.
"Kau kenapa?" tanya Alinka.
Rey menggeleng, lalu menatap Roger dengan tatapan sendu. "Apa om yang waktu itu membantu kehidupanku?"
"Ya, kau benar. Aku membantumu hingga umur kau belasan, tetapi aku mengalami kecelakaan waktu itu, dan lupa ingatan. Hanya beberapa saja yang aku ingat di tahun-tahun terakhir," ujar Roger.
Rey bangkit, lalu memeluk Roger. Dia menangis dalam pelukan Roger. Alinka dan Alexander menatapnya haru. Meski tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku selalu bertanya pada paman Rico, siapa yang selalu membantuku. Dia selalu mengatakan bahwa yang membantu adalah sahabat dekat papaku. Dia pernah menyerahkan foto yang sama persis, tetapi foto itu hilang entah kemana," ujar Rey.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk meninggalkanmu. Tapi aku senang, kau sudah menjadi manusia sekarang. Kemarin selepas kau pulang dari sini, aku menyuruh tangan kananku untuk melacak biodata lengkapmu. Dari sanalah aku mengetahui, kalau kau juga adalah putra dari sahabatku," ujar Roger.
"Terima kasih telah merawatku, hingga aku bisa hidup sampai saat ini," ujar Rey.
"Ya, sudah. Ayo, aku ada hal yang ingin dibicarakan!"
Rey melepas pelukannya, dia masih terisak. Jujur saja, dia tidak merasa malu telah menangis di hadapan Alinka dan Alexander. Meski baru kali ini dia menangis di hadapan orang lain. Alexander merangkul Rey, dia berusaha menenangkan pria tersebut.
"Buka kotak itu, Alin!" perintah Roger seraya melempar kunci ke arah Alinka.
Alinka menurut, dia langsung membuka kotak peti yang digembok tersebut. Dibukanya secara perlahan, ternyata itu ada beberapa buku diary yang telah usang, dan beberapa lembar surat. Alinka menatapnya keheranan.
"Sudah, biarkan saja dulu. Aku akan menceritakan semuanya," ujar Roger.
Roger mulai menceritakan bagaimana mulanya dia bersahabat dengan orang tua Rey. Lalu, membicarakan tentang mereka yang mulai membuka perusahaan hingga dikenal banyak orang. Roger juga menceritakan bagaimana kehidupan setelah menjadi mafia.
"Apa orang yang membantai keluarga kita itu sama?" tanya Alinka yang kini terisak.
"Mereka satu komplotan, Sayang. Mereka sengaja berbagi tugas untuk menyerang di dua negara sekaligus," jawab Alinka.
"Apa mereka masih hidup?" tanya Alexander yang sejak tadi bungkam.
"Mereka telah tiada, tetapi penerusnya semakin banyak," jawab Royland.
Tanpa sadar, Alinka menyenderkan kepalanya pada bahu Rey di saat Roger mulai melanjutkan kembali ceritanya. Rey yang merasa bahunya terasa berat, langsung melirik ke arah Alinka. Dia tersenyum simpul, tangannya bergerak mengusap air mata Alinka.
"Apa isi dari kotak yang berisi diary dan lembaran kertas itu, Om?" tanya Alexander.
"Ini adalah diary milik Dwyne—istriku. Dia sangat menginginkan suatu saat putrinya menikah dengan putra dari Daniel dan Zenith. Kalian bisa membacanya!"
Alexander mengambil diary tersebut dengan sangat hati-hati. Dia membukanya secara perlahan. Di halaman pertama hingga kelima masih tidak ada apa-apa, hanya diary biasa yang mengungkapkan isi hati mendiang ibu Alinka.
Tepat pada halaman ke enam, Alexander menemukan catatan yang menyebutkan bahwa Dwyne telah berjanji dengan Zenith. Jika suatu saat anak-anaknya telah dewasa, mereka akan menjodohkannya. Alexander memberikan diary tersebut pada Rey dan Alinka untuk segera mereka baca.
"Bundaku dengan bundamu telah berjanji," ujar Rey.
"Lihat ini!" Alexander menunjukkan selembar kertas yang ternyata sebuah surat.
"Kita baca sama-sama," usul Rey.
Karena posisi Rey di tengah-tengah, kertas tersebut dipegang oleh Rey. Sementara Alinka dan Alexander mendekat untuk membacanya bersama-sama. Surat itu ditulis oleh Zenith—ibu Rey, yang mengatakan bahwa kala itu perasaannya tidak baik-baik saja. Dia mempunyai firasat akan ada hal buruk yang menimpanya.
Zenith meminta pada Dwyne, jika suatu saat dirinya tiada, dia ingin Dwyne tetap menepati janji untuk menikahkam putri Dwyne yaitu Alinka dengan putranya. Ketiga anak muda itu menitikkan air mata ketika membaca surat tersebut. Terasa sangat jelas bagaimana rasanya ketika membaca surat itu.
"Apa kau sudah berubah pikiran, Alin?" tanya Roger.
Tak disangka, Alinka mengangguk cepat. "Aku akan melakukan apa pun, untuk membuat bunda senang di alam sana," jawab Alinka.
Roger beranjak, dia segera memeluk Alinka. Kini, putrinya itu terisak dalam pelukannya. Ada rasa nyeri sekaligus lega dalam hati Roger. Dia merasakan nyeri, karena istrinya tidak ada di sampingnya. Namun, dia juga merasa lega, karena sebentar lagi, impian Dwyne akan terkabulkan dengan pernikahan Alinka dan Rey.
"Xander, peluk," rengek Alinka setelah melepas pelukan dari Roger.
Alexander terkekeh, dia langsung memeluk Alinka. Sejauh ini, Alexander memang yang paling dekat dengan wanita itu. Pria itu selalu ada di saat Alinka membutuhkan.
"Jika kau menyakiti adikku, pertama kali kau akan berurusan denganku!" bisik Alexander di telinga Rey dengan penuh penekanan.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya," jawab Rey dengan senyuman khasnya.
"Sudah larut malam, apa kau akan menginap di sini, Rey?" tanya Roger.
"Tidak, Om. Aku akan pulang," jawab Rey. Secara tiba-tiba, Rey mengubah panggilannya menjadi 'Om'.
Roger menepuk pundak Rey dengan senyuman yang mengembang. "Kau sudah besar sekarang," kekehnya.
"Apa kau akan pulang?" tanya Alinka. Rey mengangguk cepat.
"Baguslah kalau begitu. Lagi pula, di sini tidak ada kamar kosong untukmu!"