Teror

1026 Kata
Suara ledakan terdengar di luar markas Black Tiger. Seluruh anggota Black Tiger yang berada di dalam ruangan tersentak kaget. Mereka sedang mengadakan rapat yang dipimpin oleh Carlos dan Bryan. "Sebagian cepat cek ke luar!" perintah Bryan dengan tegas. Tanpa diperintah ulang, sebagian dari mereka langsung bergegas mencari tahu apa yang menyebabkan ledakan tersebut. Mereka mengelilingi setiap penjuru markas, berharap menemukan sesuatu atau penyusup. Sementara, Carlos dan Bryan kini berada di ruangan CCTV mengecek setiap sudut. Namun, anehnya tidak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan melintas di sekitaran markas. "Ledakannta cukup kuat, mustahil jika tidak ada yang melempar," ujar Carlos. "Benar, Paman. Apa mungkin benda itu diletakkan malam hari?" terka Bryan. "Coba cepat cek CCTV malam tadi!" perintah Carlos. Bryan mengangguk, dia langsung mengarahkan CCTV pada malam hari. Ternyata benar, ada orang yang berpakaian serba tertutup menyimpan benda yang sudah pasti itu bom di depan markas Black Tiger. Sayangnya, wajah dari orang tersebut tidak terlihat karena tertutup seluruhnya. Hanya menyisakan mata yang tidak ditutupi. Bryan geram, ketika si pelaku terlihat mengacungkan dua jari tengahnya sebelum pergi. "Kita ditantang, Paman," geram Bryan. Setelah menemukan bukti bahwa memang ada pelaku yang sengaja, Bryan dan Carlos kembali turun dan bergabung dengan anggota Black Tiger. Tampak, sebagian orang yang diperintahkan oleh Bryan telah kembali, dan sebagiannya kini berjaga-jaga di setiap sudut markas. Bryan tersenyum melihat kesiagaan mereka. "Kami menemukan bom yang kekuatannya memang kecil dan sebuah kotak peti kecil ini di sampingnya," ujar salah satu anggota seraya menyerahkan kotak peti itu pada Bryan. "Apa terlihat siapa pelakunya di CCTV?" tanya anggota, dan dibenarkan oleh seluruh anggota lainnya. "Pelakunya serba tertutup, hanya terlihat matanya saja. Di akhir, dia begitu menyebalkan, mengacungkan kedua jari tengahnya—menantang," geram Bryan. Seluruh anggota tampak menerka-nerka siapa pelaku dari teror tersebut? Mereka juga ikut geram, ketika Bryan mengatakan bahwa orang tersebut menantang Black Tiger. Itu tidak bisa dibiarkan. Seharusnya, orang itu sudah ditemukan sekarang. Carlos izin ke belakang untuk menelepon. Dia akan menelepon Maxime yang ahli dalam bidang pelacakan. Biasanya, Maxime akan langsung datang ke markas jika ada hal yang perlu dikerjakannya. "Apa kita tidak akan memberitahu Princess terlebih dahulu, Bry?" tanya salah satu anggota. "Kita tunggu Maxime terlebih dahulu, siapa tahu ada pencerahan nantinya," ujar Bryan. "Ah, ya, aku lupa bahwa kita akan makan siang. Ayo, ambil per orang satu, dan kita makan bersama!" Mereka mengangguk, lalu mengambil satu per satu box makanan yang tertumpuk rapi di hadapan mereka. Salah seorang diperintahkan untuk memanggil temannya yang sedang berjaga di luar untuk mengambil box tersebut. "Ayo, kita makan terlebih dahulu. Karena menghadapi musuh itu memerlukan tenaga," ujar Bryan. "Benar itu, Panglima," jawab sebagian dari mereka seraya terkekeh. Sebagiannya ada yang tertawa, ada juga yang hanya tersenyum. Tak menunggu lama, deru mobil terdengar masuk ke pekarangan. Suara mobil yang mereka kenal dengan sangat baik, itu artinya Maxime telah datang. Benar saja, pintu terbuka menampakkan pria berpakaian rapi dengan kacamata yang bertengger pada hidungnya. "Kalian baru saja makan?" tanya Maxime. Mereka semua mengangguk. "Jika kau mau, masih ada beberapa box di sana!" tawar Carlos. "Ah, terima kasih, Paman. Aku sudah makan sebelum ke sini," jawab Maxime dengan ramah. "Ya sudah, ayo kita segera mengecek isi di dalam kotak peti tersebut!" ajak Bryan. "Kalian tunggu di sini dan tetap berjaga-jaga. Hasilnya, akan kami umumkan ke kalian semua," ujar Carlos. Anggota Black Tiger mengangguk setuju. Bryan, Maxime, dan Carlos berjalan ke ruangan khusus tempat mengecek sesuatu hal yang dirasa mencurigakan. Takutnya, ada sesuatu yang berbahaya di sana. "Aku sudah membicarakan hal ini pada Alinka," ujar Maxime ketika sampai di ruangan tersebut. "Kau langsung memberitahunya?" tanya Bryan, membuat Maxime mengangguk. "Apa katanya?" tanya Bryan. "Alinka meminta ketika membukanya, kita melakukan video call dengannya," jawab Maxime. Carlos dan Bryan mengangguk. Bryan langsung merogoh ponselnya, lalu menghubungi Alinka melalui video call. Tak menunggu lama, karena panggilan tersebut langsung diangkat. Menampakkan Alinka yang memasang wajah serius di sana. "Apakah sudah dibuka?" tanya Alinka tanpa basa-basi. "Belum, Princess," jawab Bryan seraya membenarkan rambutnya. Setelahnya, Bryan langsung mengarahkan kamera pada Maxime yang mulai membuka kotak petik tersebut. Carlos berada di sampingnya. Kotak peti tersebut tertutup rapat, tidak ada kuncinya. Jadi, Maxime membukanya diakali dengan pisau. Bau amis tercium menyengat. Maxime dan Carlos langsung mencari masker, begitupun dengan Bryan. Tampak wajah Alinka sedikit khawatir dengan hal itu. "Apa yang terjadi?" tanya Alinka. "Bau amis, isi kotak tersebut darah kental," jawab Bryan. Setelah memakai penutup hidung, mereka kembali duduk. Kini, Carlos yang melanjutkan untuk membuka isi kedua dari kotak tersebut, setelah isi pertama berisi darah segar. Mereka meyakini itu darah hewan yang disembelih, karena darahnya berbeda. "Darah apa itu?" Alinka kembali bertanya. "Hewan, Princes," jawab Maxime. "Ayo, cepat buka, Paman. Aku penasaran!" ujar Alinka. "Baik, Nona," jawab Carlos. Carlos mulai membukanya, di bawahnya ternyata ada sebuah kertas yang dibungkus oleh plastik, dan satu buah pisau knife. Bryan mengarahkan kamera lebih dekat, agar Alinka lebih jelas melihatnya. "Buka, dan lihat isi kertas itu!" perintah Alinka. "Baik, Princes," ujar ketiganya. Carlos mulai mengambil plastik yang berisi kertas tersebut. Perlahan, Carlos membuka terlebih dahulu plastiknya. Kini, di dalam tampilan layar tidak hanya ada Alinka, tetapi juga Alexander yang berada di sampingnya. "Apa yang terjadi, Bryan?" tanya Alexander. "Tadi ada suara ledakan lumayan keras berasal dari depan. Saat mengecek CCTV, ternyata pelakunya menyimpan benda itu di malam hari. Pakaiannya tertutup, hanya terlihat matanya saja, dia juga mengacungkan jari tengah, seolah menantang kita," jelas Bryan. Alexander mengangguk. Itu sebenarnya bukan hal yang besar, tapi juga tidak bisa dianggap sepele. Kini, tatapannya fokus pada kamera untuk melihat apa yang ada di dalam kertas tersebut. "Isinya tulisan," ujar Carlos. "Coba arahkan kamera pada tulisannya!" perintah Alexander. Carlos membentangkan kertas tersebut di atas meja, lalu Maxime meletakkan pisau knife itu di sampingnya. Sementara Bryan, masih dengan tugasnya, yaitu memegang ponsel untuk mengarahkan kameranya. Selama aku masih hidup, akan aku pastikan kalian hancur di tanganku. Untuk ketuamu, akan aku pastikan mati di tanganku, dengan pisau serupa yang aku kirimkan itu. Kertas itu berisi ancaman yang ditulis dengan darah segar, sama seperti darah awal yang berada di atasnya. Hanya saja, darah yang di dalam kertas tersebut sudah mengering, jadi tidak terlalu meninggalkan bau amis. "Rupanya, orang itu mengancamku," ujar Alinka masih tenang. "Selidiki pengirimnya, aku akan kembali besok!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN