Bagas tidak merasa berdosa mengasingkan diri dengan istrinya di tepi pantai, juga meski harus membohongi Winda. Nyatanya romansa bulan madu sedang menyelubungi lagi keduanya. Bagas begitu gembira ada Windi menemaninya. Sekali pun malam mulai semakin dingin, terdalam hatinya begitu hangat dan damai. Setelah Magrib mereka mulai menyalakan api untuk bakar-membakar. Windi dengan perut buncitnya tak menyusutkan gerakan, tetap lincah ke sana kemari menyiapkan segala sesuatu. Mereka berdua, bicara apa saja, menikmati setiap detik waktu yang ada. Bagas berdebar, tapi tak mau mengurungkan juga niatnya untuk bicara empat mata dengan sang istri. Dimulai dari kobaran api yang menyaka jingga kemerahan, Bagas mengenang tempat terburuk yang dikisahkan. Neraka, Bagas tak mau dirinya atau Windi atau Wind

