133 🌺

1159 Kata

Mimpi buruk tak lebih mengerikan. Kenyataannya Windi memang bangun di atas ranjang rawat dengan infus terpasang. “Ummi ...!” Seruan Winda nyaring, pekik di telinga, sampai-sampai Khalid kemudian menerobos masuk dengan wajah lelahnya. Air mata Windi tak bisa ditahan. Ia tak lupa apa yang terjadi sebelum kehilangan kesadaran. Mencekam, padahal cahaya matahari mengintip hangat dari jendela di sana. “Aku belum subuh.” Pilu. Windi hanya tidak ingin bertukar kata dengan siapa-siapa selain Tuhannya. Saat ini ia tengah mencoba waras dengan apa pun takdir yang telah ditetapkan. Kosong. Hampa. Sejak pergi Bagas selamanya, sejak itu pula Windi rasa telah hilang separuh jiwanya. Lalu seperempat sisanya juga pergi juga. “Ummi masih berdarah, salat haram untukmu,” kata Winda lembut. “Sabar,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN