Windi sudah berbaring lebih dulu daripada suaminya. Malam ini sama saja istimewanya seperti semua malam kebersamaan mereka. Memang dengan kondisi hamilnya Windi harus memakai pakaian longgar yang bisa dibilang kurang menarik, tapi sangat nyaman untuk yang sedang berbadan dua seperti dirinya. Kemudian Bagas ikut rebah di sebelah dan mulai mengusap perut Windi seperti kebiasaannya sebelum mereka tidur. “Hampir enam bulan, ya.” “Ya.” “Seharusnya sudah bisa dilihat jenis kelaminnya. Mungkin saja akan membahagiakan Winda.” “Saya lebih setuju kita ketahui ketika lahirnya saja.” “Begitukah?” Perhatian Bagas teralih saat jabang bayi di dalam sana bergerak menyapa tangan Bagas. Lelaki tersebut kemudian mengembangkan senyum, “Semoga Allah menjagamu, Nak. Sekarang sudah malam. Waktunya Ummi tidu

