129 🌺

1216 Kata

Windi bangkit dari sajadahnya. “Abi!” seru Winda masih mendesak dari balik pintu. “Tunggu sebentar, Nak,” sahut Windi tenang, sekalipun ada serak pula dalam suaranya. Windi mendekati suaminya, coba peruntungan terakhir yang ia bisa. Windi angkat lengan suaminya lalu biarkan jatuh terbawa gravitasi. Pasrah pun hanya satu-satunya yang tersisa. “Kakek Pio sudah tiba?” “Hm, ya. Tadi Winda lihat beliau datang, Ummi.” “Panggil, suruh ke sini.” “B—baik, Ummi.” Windi berencana menyiapkan segalanya sendirian. Bukan satu atau dua kali stimulasi kejadian ini muncul dalam pembicaraan mereka. Bisa dibilang praktiknya sudah puluhan kali mereka rekonstruksi. Dengan Bagas Wandawarma yang penuh pikiran ke masa depan itu, Windi diajak mempersiapkan hari-hari besar, termasuk kematian. Janjinya, jik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN