Rumah mereka terus dibanjiri ungkapan belasungkawa sejak hari pertama hingga empat belas hari setelahnya. Hampir tak berjeda, Windi seolah tidak dibiarkan sendirian oleh para tamu itu. Selalu ada yang datang bahkan setelah dua pekan jasad Bagas berkalang tanah. Mulai dari yang tua renta sampai remaja pun datang menyajikan kisah suaminya. “Bisakah kita tutup pintu sejak pagi besok, Pio?” pinta Windi lelah. Ia sungguhan lelah menangis kembali tiap seorang datang ikut menangis bersamanya mengenang kebaikan Bagas atas mereka. “Sabarlah. Mereka sebagian datang dari jauh hanya untuk bertemu kalian.” Windi menghela napasnya. Hidup bersama suaminya dulu begitu damai, tapi hari-hari tanpanya begitu berisik. Ironisnya, setelah berisik sepanjang hari, kemudian ketika malam menjelang malah terla

