January, Tuesday Morning. Campbell Enterprise, London. Di ruangan kantornya, Arthur mengetukkan jari-jarinya di atas meja hingga terdengar bernada. Dahinya mengerut ke dalam-berpikir keras. Ia terdiam memikirkan apa yang wanita itu katakan semalam. Jarinya berhenti. Kenapa dia malah jadi memikirkan wanita itu? Arthur mendengus dan segera membuka dokumen pekerjaannya lagi-megalihkan pikirannya. Seseorang mengetuk pintu ruangan Arthur sehingga membuat Arthur menghentikan aktivitas membacanya. Ia memberikan tanda setuju dan pintu ruangannya pun terbuka. Tampak seorang pria tampan dan muda berjalan masuk dengan senyumnya. Ia membawa berkas pekerjaan yang harus diberikan pada Arthur. “Hei, bos!” seru pria itu. Ia adalah sekretaris Arthur di sini. Arthur sudah mulai

