Hari demi hari pun berlalu. Saat ini, adalah hari ulang tahun Ken. Di pagi hari yang sangat cerah, Ken terlihat sedang bersiap untuk pergi membuat SIM kendaraan. Saat Ken sudah berangkat, Ibu Nisa, Dr. Ali dan juga Nadya datang mengunjungi rumah Ken. Mereka juga mengajak Jane untuk menyiapkan sebuah perayaan ulang tahun Ken yang ke 18. Disaat yang sama, Aziz pun datang ke rumah Ken untuk mengajaknya berlatih. Namun, Ken saat ini sedang tidak ada di rumah dan ia melihat ada keluarga Dr. Ali yang sedang mendekorasi ruangan rumah untuk merayakan hari ulang tahun Ken. Aziz pun langsung ikut membantu mereka menyiapkan perayaan untuk Ken.
Di saat Ibu Nisa sedang menyiapkan berbagai macam makanan. Seketika ia jadi teringat saat dulu ia sedang menyiapkan sebuah perayaan untuk Eva. Ibu Nisa sangat merindukan sosok Eva. Ia begitu merindukannya hingga tidak kuasa untuk menahan air matanya.
“Eva. Apa kabar lo di sana? Lihatlah.. Anak lo sudah besar sekarang. Dia juga sudah memiliki teman yang baik. Walaupun sejak kecil, sifat dinginnya itu tidak pernah berubah. Tapi, Ia selalu dikelilingi oleh teman-temannya yang baik kepadanya. Gue kangen banget sama lo Va. Andai lo masih disini.” ucap Ibu Nisa sambil menangis.
Jane yang saat itu tidak sengaja melihat Ibu Nisa sedang menangis pun langsung berlari dan memeluknya. Namun, Ibu Nisa mengatakan pada Jane bahwa dia sedang merindukan sahabatnya, yaitu Ibu kandung Ken.
Setelah itu, Aziz terlihat sedang membantu Nadya menghias ruangan. Aziz pun beberapa kali mencoba menatap wajahnya. Namun, Dari banyaknya wanita yang pernah di dekati oleh Aziz. Baru kali ini ia merasa dirinya sangat gugup. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Nadya pun terlihat sangat asyik untuk di ajak bicara.
“Apakah dia Kakaknya Ken? Dasar Ken s****n! Selama ini dia tidak memberitahu gue ada wanita secantik ini di keluarganya.” ucap Aziz dalam hati.
Pada siang harinya setelah selesai membuat SIM, Ken mengajak Dita untuk pergi keluar. Ken mengajaknya pergi ke sebuah Mall besar di kota. Di sana, mereka menghabiskan waktu bersama seperti makan bareng, bermain game, menonton bioskop, dll. Dita juga ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang sebelum ia pergi ke Pulau Starbuck bersama Ken dan juga Aziz. Setelah dari Mall, Ken mengajak Dita pergi ke sebuah Pantai. Di sana, mereka berdua sedang duduk di pasir pantai sambil memandangi lautan yang luas. Dita pun seketika berpikir, bahwa selama ini Ken selalu ada untuknya. Ken juga selalu membuat Dita merasa aman, nyaman, merasa senang, dan membuat Dita tidak merasa kesepian lagi. Di saat Dita sedang merasa sepi, sedih, hampa. Dita langsung menyalakan Api dari koreknya, dan Ken pun langsung datang menemaninya. Ia juga sering bercerita kepada Ken tentang kesehariannya, cerita tentang masa lalunya, cerita tentang kedua orang tuanya. Namun, Ia menyadari sesuatu. Bahwa selama ini, ia tidak pernah tahu tentang Ken.
“Siapa Ken? Bagaimana cerita masa lalu Ken? Apakah aku boleh mengetahuinya?” ucap Dita dalam hati.
Tiba-tiba, Aziz menghubungi Ken dan memberitahu bahwa dirinya sedang menunggu di rumahnya untuk mengajaknya sparing. Mereka berdua pun langsung bergegas kembali ke rumah. Saat tiba di rumah, Mereka berdua pun terkejut karena terlihat ada banyak sepatu di rumah Ken. Lalu, Ken pun langsung segera memasuki rumah. Saat Ken membuka pintu, tiba-tiba.
“KEJUTAAAAAAAAAAANNNNNN”.
Mereka semua langsung menyanyikan sebuah lagu ulang tahun untuk Ken. Ini adalah perayaan ulang tahun Ken untuk pertama kalinya. Karena selama Ken ulang tahun, Ken hanya menerima ucapan dan beberapa kado saja dari keluarga Dr. Ali. Ken juga tidak pernah memberitahu tanggal lahirnya kepada teman-temannya yang lain. Karena Ken menganggap bahwa hari ulang tahun dengan hari biasa itu terasa sama saja, Nothing Special.
Dita yang mengetahui bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Ken pun sangat terkejut. Ia juga menyadari sesuatu bahwa selama ini ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa janggal karena tidak tahu apa-apa tentang Ken. Padahal, Ken selalu ada untuknya.
Setelah itu, Aziz pun langsung membawakan kue ulang tahunnya kepada Ken. Ia menyuruh Ken untuk memotong kuenya dan memberikan potongan pertamanya itu ke seseorang. Namun, Ken langsung memberikan potongan kuenya itu kepada Jane.
“Cil.. Sini cil.. Ambil nih kuenya”. Kata Ken
Jane pun langsung berlari menuju Ken dan berkata.
“Terima kasih kak. Selamat ulang tahun” ucap Jane sambil memeluk Ken.
Ibu Nisa pun juga menghampiri Ken dan berkata.
“Selamat ulang tahun ya Nak, Kamu sudah tambah tinggi dan besar. Namun, Seiring jalannya waktu. Jangan pernah lupakan Ibumu ya”. Kata Ibu Nisa.
Namun, Perkataan tersebut ternyata membuat Ken sangat terpukul. Ken pun langsung terdiam seribu bahasa. Mereka yang melihat ekspresi wajah Ken yang tampak berubah pun terkejut. Namun, Ibu Nisa segera memeluk Ken dan berkata.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja hidupmu seperti biasa. Kami semua akan selalu bersamamu”. Ucap Ibu Nisa.
Tiba-tiba, Jane berlari dan melompat ke arah Ken dan langsung memeluknya. Ia menyuruh Ken untuk segera makan bersama, Karena Jane saat itu sedang merasa sangat lapar. Dan akhirnya mereka semua pun melaksanakan acara makan bersama untuk merayakan hari ulang tahun Ken.
Di sana, Aziz terlihat menjadi sangat akrab dengan Nadya. Dita juga sedang asyik berbincang-bincang bersama Jane, Dr. Ali, dan juga Ibu Nisa. Namun, Ken hanya fokus pada makanannya saja karena ia tidak ingin terlihat sedang memendam sesuatu yang membuat dirinya menjadi terlihat sangat murung. Setelah acara makan bersama selesai, keluarga Dr. Ali pun bersiap untuk pulang ke rumah. Namun, Dr. Ali sendiri sedang ingin berada di rumah Ken lebih lama, ia juga ingin mengobrol bersama Ken dan juga yang lainnya.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Jane meminta Ken untuk menemaninya tidur. Jane saat itu sudah sangat mengantuk namun ia ingin tidur ditemani oleh Ken. Dr. Ali pun langsung menyuruh Ken untuk membawanya ke kamar. Ken pun langsung menggendong Jane dan membawanya ke kamar.
“Lo sudah kelas 5 SD, Sudah besar. Masih aja tidur minta di temenin”. Kata Ken.
“Biarin, pokoknya Jane mau tidur sama kakak!”. Ucap Jane dengan lugunya.
Setelah itu, Dr. Ali juga melihat Aziz yang ternyata sudah tertidur saat ia sedang asyik mengobrol bersama yang lain. Dan sekarang, hanya ada Dita saja yang masih ingin mendengarkan cerita dari Dr. Ali. Kemudian, Dita pun meminta kepada Dr. Ali. untuk menceritakan semua kehidupan tentang Ken. Ia sangat ingin mengetahui semua tentang Ken dan apa saja yang sudah Ken lalui selama hidupnya. Dr. Ali pun langsung pergi menuju dapur untuk membuat kopi dan membawa beberapa camilan. Karena ini akan menjadi cerita yang sangat panjang. Setelah Dr. Ali kembali, ia pun memulai ceritanya. Berawal dari kelahiran Ken hingga sekarang.
Setelah cerita yang sangat panjang itu. Dita pun tidak kuasa menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan setelah mendengar cerita dari Dr. Ali tentang kehidupan Ken. Ia menyadari sesuatu tentang Ken yang selalu bersikap dingin. Ia juga menyadari kenapa Ken sangat tidak menyukai saat ada kunjungan orang tua ke sekolah. Namun, ia memendam semua itu dan selalu tersenyum di depannya seakan semuanya baik-baik saja. Selama ini, ia memendam beban yang begitu besar. Namun, Ia selalu membuat semua itu terasa tidak ada ketika sedang bersamanya. Ia juga tidak tahan membayangkan betapa rindunya Ken kepada ibunya.
Hari pun sudah menjelang pagi. Dan Dr. Ali pun bersiap untuk kembali ke rumahnya. Saat Dr. Ali berpamitan dan meninggalkan Dita, tidak lama kemudian, Ken datang menghampiri Dita. Saat itu juga Dita ingin mengajaknya berbicara sebentar. Ia memberitahu bahwa Dr. Ali sudah menceritakan semua tentang masa lalu Ken atas permintaannya sendiri. Ia juga ingin mendengar cerita dari Ken walaupun hanya sedikit. Sambil duduk di sofa, Ken pun berkata.
“Ya, gak perlu ada yang di tutupi lagi sih. Dr. Ali benar. Dan kadang gue masih suka memikirkan tentang masa lalu gue. Memikirkan saat itu masih berada di neraka yang bernama kesepian. Hingga akhirnya gue menjadi terbiasa dan mati rasa. Gue pun sebenarnya masih sering memikirkan wajah ibu gue. Gue juga masih merasa bahwa ibu gue masih berada di sisi gue. Walaupun gue sangat ingin sekali lagi melihatnya langsung, merasakan pelukan hangatnya, mendengar suaranya. Namun, Gue jadi merasa tuli saat menyadari bahwa dia tidak akan pernah kembali. Ternyata menyadari kalau dia sudah tiada itu sulit”. ucap Ken
“Maaf ya Ken, Aku sudah bikin kamu mengingat kembali masa lalu”. Kata Dita
Tiba-tiba, Dita memeluk Ken dengan sangat erat. ia juga meminta agar ia bisa tinggal di sini bersama Ken dan juga yang lainnya. Ken pun terkejut mendengar perkataan dari Dita. Dan ini juga pelukan pertamanya selama ia mengenal Dita. Ken pun hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa senang karena Dita ingin tinggal di sini bersamanya. Namun, ia juga merasa sedih karena sedang merindukan ibunya.
“Selama ini, Setiap saat. Kamu selalu melakukan sesuatu dan berharap agar aku bisa terus bahagia. Saat aku ingin mengakhiri hidup, Kamu datang menyelamatkanku. Padahal aku hanya ingin melepaskan semua kenangan buruk di masa lalu. Aku ini egois ya? Padahal, hanya untuk membuatku bahagia, kamu selalu berusaha agar selalu ada untuk aku. Walaupun sikapmu sangat dingin, tapi kamu berusaha agar tidak membuat aku sedih. Padahal, sendirinya juga menyimpan banyak luka. Cerita lah sama aku jika ada sesuatu. Aku juga ingin mengetahui semua tentangmu”. ucap Dita.
Kemudian, sambil tersenyum Ken pun memegang wajah Dita dan berkata.
“Mungkin sampai mati pun, Gue akan menganggap kejadian yang sudah gue lalui dalam hidup gue sebagai sebuah kejadian yang menyedihkan. Dan itu sudah tidak dapat diubah lagi. Akan tetapi, dibandingkan saat gue hidup seorang diri. Tinggal bersama lo seperti sekarang, sudah jauh lebih menyenangkan. Hal-hal yang membuat gue teringat kembali, perlahan-lahan akan terlupakan. Jadi, lo gak perlu khawatir. Karena sekarang kita benar-benar sudah tidak menyesal untuk terus hidup. Benar kan?”. Kata Ken.
“Ya...” jawab Dita sambil tersenyum
Pada sore harinya. Jane tampak sangat senang melihat Dita yang memutuskan untuk tinggal bersamanya. Ia juga menyuruh Dita agar bisa tidur dengannya saat malam nanti. Sedangkan Ken dan Aziz kembali melakukan latihan tanding di halaman belakang rumahnya. Di rumah yang sebesar ini, sekarang sudah terasa tidak sepi lagi karena kedatangan Jane, Aziz, dan juga Dita. Ditambah lagi Dita dan Aziz yang masih suka bertengkar. Nadya pun jadi sering mengunjungi rumah karena ia sedang dekat dengan Aziz. Pada hari itu juga, Pandangan Dita jadi tidak pernah lepas untuk terus menatap Ken. Ia merasa sangat bersyukur sudah dipertemukan dengannya.